Wujud Toleransi Umat Beragama Jadikan Papua Tanah Damai

SABTU, 17 JUNI 2017

JAYAPURA — Papua daerah paling timur Indonesia, memiliki tingkat toleransi umat beragama yang sangat baik. Hal ini dibuktikan dari daftar kerukunan umat beragama di Indonesia 2017, Papua berada urutan pertama yang dinilai Kementerian Agama Republik Indonesia. Apa yang menjadikan Papua dapat dicontoh daerah-daerah lain? Simak pengungkapan Cendana News berikut ini.

Masjid YAMP Baitul Makmur yang berdampingan dengan Gereja Oikimene.

Sejak 2002, untuk meredam konflik Ambon masuk ke Papua, pemimpin-pemimpin agama di ujung timur Indonesia mendeklarasikan Papua Tanah Damai. Dari latar belakang suku dan ras serta agama apapun yang mendiami Tanah Papua diwajibkan jaga Bumi Cenderawasih bersama-sama guna mewujudkan Papua Tanah Damai dengan menghargai, menghormati perbedaan.

Ketua Nahdatul Ulama (NU) Provinsi Papua, Dr. H. Toni Wanggai mengaku toleransi agama di Papua itu dinilai dari bagaimana pemimpin agama di Papua mampu membangun komunikasi secara baik antar umat beragama, mampu meredam konflik sosial, isu SARA. “Kan sudah terbukti seperti konflik di Kabupaten Tolikara,” kata Dr. H. Toni Wanggai saat ditemui Cendana News, Rabu (14/6/2017).

Toleransi beragama di Papua bukan wacana atau teori, menurut Toni setiap hari raya besar seperti Natal dan Idul Fitri semua saling kunjung-mengunjung, bukan hanya sehari bahkan bisa sampai seminggu lamanya, walaupun hari libur kantoran telah usai. Tak hanya itu, hari raya besar lainnya seperti umat Buddha dan Hindu pastinya terlihat jelas toleransinya, lanjutnya semua umat beragama saling berikan ucapan setiap hari-hari besar agama.

“Umat muslim sendiri biasa jaga tempat ibadah umat kristen yang sedang rayakan hari besar mereka saat lakukan ibadah, begitupun sebaliknya. Banyak orang-orang dari luar Papua melihat situasi di Papua cukup takjub, contohnya disini saat lebaran antar umat beragama saling berkunjung dan menghargai,” tuturnya.

Tahun 2015, tepatnya (17/7/2015) lalu terjadi serangan dari oknum-oknum masyarakat tertentu ketika masyarakat menjalankan Sholat Id (Idul Fitri) 1436 Hijriah. Disaat bersamaan juga berlangsung pertemuan pemuka-pemuka masyarakat gereja. Konflik ini memicu isu SARA besar dan menarik pusat perhatian Nasional bahkan Internasional, dari konflik ini sekitar 38 rumah dan 63 kios terbakar, sementara 153 penduduk setempat mengungsi keluar dari daerah area tersebut.

Toni yang juga salah satu anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Papua mengungkapkan konlik di Tolikara itu perlu diketahui bahwa Musolah yang didirikan umat muslim di Tolikara itu diatas tanah gereja yang telah diberikan oleh pihak adat. Berarti kan luar biasa sudah 30 tahun disitu tak terjadi apa-apa.

“Persoalan Tolikara itu hanya persoalan miss komunikasi terkait pengeras suara dan tempat salat, ada hasil penelitian dari FKUB,” diungkapkan Toni.

Lanjutnya konflik itu dapat diselesaikan dengan adanya persatuan dan kesatuan pemuka-pemuka agama yang ada di Tanah Papua, termasuk pemerintah daerah dan TNI Polri selaku aparat hukum yang kala itu melakukan pendalaman tersendiri dari segi hukum.

“Banyak orang melihat bahwa Tolikara itu kurangnya tingkat toleransi beragama. Ternyata dilihat dari sisi-sisi positif lainnya tak dilihat. Nah inilah yang disebut terputusnya komunikasi, sampai saat ini perayaan hari besar di Tolikara sangat baik dan lebih baik dari sebelumnya,” kata Toni.

Pdt (Pendeta) Dorman Wandikbo, Ketua GIDI Papua mengaku Indonesia harus belajar toleransi antar umat beragama di Papua. Terkait kasus Tolikara yang telah selesai, ia menyatakan bahwa musolah tersebut faktanya bukan dibakar melainkan terbakar. Menurutnya di Tanah Papua tak ada sama sekali persoalan antara agama, melainkan oknum-oknum tak bertanggungjawab yang ingin memecah belah masyarakat Papua.

“Kalau bicara Islam salah, Hindu, Budha, Kristen salah, sama sekali tak ada di Papua. Dari sejak dulu persoalan yang membawa Agama tak pernah ada. Hanya satu pesan saya, jangan radikalisme, karena berbahaya untuk Indonesia,” ditegaskan Pdt Dorman Wandikbo, Sabtu (16/6/2017) dari ujung selulernya.

Janganlah menganggap diri bahwa agama yang dianut adalah benar, demikian kata Dorman. Menurutnya hal itu tak boleh dilakukan dan mayoritas melindungi minoritas. Sementara minoritas menghargai mayoritas. Saat ini, lanjutnya sangat diperlukan menjaga toleransi yang sudah terjalin baik.

“Komunikasi antar tokoh agama sangat lancar, dan juga dengan adanya FKUB tingkat provinsi hingga kabupaten kota. Untuk Kabupaten Tolikara sampai saat ini toleransi tetap terjalin baik dan kami sayang saudara-saudara kami yang berbeda agama,” tuturnya.

Kejadian 2015 lalu, diceritakannya pihaknya bersama pemerintah  dan masyarakat telah melaksanakan tiga perintah Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi), pertama membangun kembali semua fasilitas yang telah terbakar. Kedua, lanjutnya proses hukum telah dilakukan dan persoalan telah selesai.

“Kami semua diatas kuat dalam membangun komunikasi antar umat beragama. Kantor koramil, polsek dan musolah buat umat muslim semuanya diatas tanah gereja, di situ fakta bahwa kami memang rukun sejak dulu. Papua ini adalah tanah damai, dan juga identik dengan tanah penuh berkat,” diungkapkan Pdt Dorman.

Ia juga mengulang pernyataan perintis misionaris pertama yang masuk ke Papua pada 5 Februari 1855 silam, yakni Samuel Kenye asal Jerman mengatakan “Siapa bekerja di Tanah Papua dengan jujur, maka ia akan melihat tanda heran kepada tanda heran yang lai. Siapa yang kerja di Papua tidak jujur, dia akan mendapat kutuk,” diutarakan Pdt Dorman.

Di daerah terpisah, tepatnya di Kota Jayapura terdapat sebuah bangunan masjid Baitul Makmur yang berdampingan dengan Gereja Oikimene Jemaat Kristen Protestan. Dari sini dapat dilihat pula toleransi antar umat beragama telah terjalin sejak tahun 80-an di pemukiman itu, tepatnya di Perumnas I, Waena, Distrik Heram.

Tak ada kecemburuan maupun kesalah-pahaman antar umat beragama di lingkungan Perumnas I dan sekitarnya. Di lihat dari bulan Ramadan 1438 Hijiriyah/ 2017 Masehi ini, antusiasme umat Kristen begitu besar dengan turut ambil bagian melancarkan ibadah yang dilakukan umat muslim pada masjid kebanggan mereka.

Terlihat beberapa warga Kristen menjaga keamanan dan menata parkiran kendaraan roda dua maupun roda empat, setiap menjelang Shalat Ashar di masjid tersebut, bahkan hingga jelang buka puasa hingga tarawih berlangsung. Begitu juga setiap Jumat dimana umat islam melaksanakan Salat Jumat. Sebaliknya disaat umat Kristen ibadah hari Minggu di Gereja Oikimene, warga muslim menjaga keamanan.

“Tentunya, kami menghargai saudara kita umat Kristen beribadah, begitupun sebaliknya. Ini sudah terjaga sejak dulu, memang toleransi sangat kami jaga dengan baik, karena tempat tinggal kami sama,” kata Ketua Pengururs Masjid Baitul Makmur, H Saleh Randang saat ditemui Cendana News, beberapa waktu lalu tepatnya Jumat (2/6/2017).

Komunikasi masing-masing agama yang ada di pemukiman penduduk tersebut terbangun dengan baik, hingga puluhan tahun terus tercipta kerukunan antar umat beragama di Distrik Heram, secara khusus di Perumnas I, Waena. Bahkan, terlihat sikap saling gotong royong di hari raya besar keagamaan selalu nampak jelas terlihat, salah satunya di Bulan Suci Ramadan ini.

“Sejauh ini, kami berkoordinasi juga dengan pihak gereja maupun masyarakat lokal, tetap kami tingkatkan, dan mereka pun selalu terlibat dalam menjaga keamanan masjid dan lainnya. Intinya toleransi umat beragama di Perumnas I ini sangat baik, kami saling menyayangi,” ucap H. Saleh Randang.

Sementara itu Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja Papua (PGGP), Pdt MPA. Maury, Sth terbangunnya toleransi umat beragama di Papua luar biasa dari waktu, tahun, dan masa ke masa. Toleransi beragama di Papua sangat tertata dengan baik.

“Jagan lupa bahwa setan tak senang dengan toleransi. Setan selalu membuat pertempuran, perkelahian itu pekerjaannya setan. Sehingga dia coba menganggu toleransi umat beragama di Papua,” kata Pdt MPA. Maury, Sth kepada Cendana News, Minggu (11/6/2017) lalu.

Ia sangat yakin dengan adanya kebersamaan, silaturahmi dari pimpinan-pimpinan agama, juga dari tokoh-tokoh masyarakat, pemuda, adat dan tokoh perempuan menjadi satu dapat dilihat saat ini walaupun ada kerikil yang coba dilepaskan oleh setan di tengah masyarakat, semuanya dapat diselesaikan dengan baik.

“Kita yakin selama kita berdiri didalam NKRI merah putih, dan masing-masing bertaqwa dengan agamanya, juga merasa bahwa perbedaan itu adalah kebersamaan kita. Maka tolernsi umat beragama tetap berjalan sesuai moto kita Papua tanah Damai,” kata pendeta Maury yang juga anggota FKUB Papua.

Melihat kebelakang lagi, terdapat sikap toleransi umat beragama yang cukup tinggi dan menyentuh dari sisi humanis. Dimana salah satu kampung seratus persen memeluk agama Kristen Katolik tak memiliki gereja puluhan tahun dengan puji syukur mereka kini telah miliki gereja yang dibangun dari tangan umat muslim.

Awalnya kampung yang diberi nama Ampas, Distrik Waris, Kabupaten Keerom ini tak memiliki gereja dan hanya menumpang ibadah dalam aula Sekolah Dasar (SD) Inpres Ampas. Doa dan cita-cita umat katolik di kampung untuk mempunyai bangunan gereja menjadi perhatian dari seorang tentara penganut agama Katolik bernama Kopda Yosep DH dari Satgas Pamtas RI-PNG Yonif Mekanis 516/CY yang sering beribadah di aula SD tersebut.

Dari cerita seorang prajurit Satgas Pamtas RI-PNG Yonif Mekanis 516/CY ke rekan-rekannya di Pos Ampas, tersentuhlah sisi kemanusiaan dari rekan-rekannya yang notabene beragama islam. Awalnya masyarakat sempat heran, tim pembangunan gereja dari Satgas Pamtas RI-PNG Yonif Mekanis 516/CY semuanya menganut agam islam. Dari situlah lahir pikiran positif betapa tinggi cinta kasih umat Islam kepada umat katolik yang mendiami kampung Ampas.

“Walaupun prajurit yang mahir dipertukangan beragama islam, mereka dengan penuh semangat tanpa pamrih membangun gereja,” kata Paulus Yafok salah satu tokoh masyarakat Kampung Ampas kepada Cendana News, Senin (10/4/2017) lalu.

Sebagai umat beragama, pihaknya terus menerus berikan pujian dan doa kepada umat muslim yang menjaga toleransi umat beragama di Kampung Ampas. Dirinya masih tak percaya gedung gereja Katolik Santo Petrus Ampas yang dibangun dari campur tangan umat islam.

“Puluhan tahun kami impikan gereja, kok islam yang campur tangan disini. Itu hebat bagi kami. Kami masyarakat tersentuh sekali, umat islam bisa bangunkan kami gereja,,” tutur Yafok dengan mata berkaca-kaca.

Saat ide membangun sebuah gereja yang diajukan oleh prajurit Satgas Pamtas RI-PNG Yonif Mekanis 516/CY yang beragama islam itu kepada pimpinannya Letkol Inf Lukman Hakim, menjadi magnet toleransi antar umat beragama yang kuat ditambah dengan penilaian dari sisi sosial.

“Saya terharu saat mendengar mau membangun gereja, dan saat saya tinjau lokasinya langsung. Alhamdulillah, mereka sangat akrab dan inilah yang disebut toleransi umat beragama. Saya tak henti-hentinya beri apresiasi kepada prajurit,” kata Dan Satgas Pamtas RI-PNG Yonif Mekanis 516/CY, Letkol Inf Lukman Hakim yang kini telah kembali ke Surabaya bersama 450 prajuritnya.

Beberapa kisah diatas, membuktikan upaya tokoh agama serta tokoh-tokoh lainnya seperti tokoh adat, pemuda, perempuan, masyarakat dan peran serta Pemerintah Daerah, maupun TNI Polri di Papua sangat kuat. Kesemuanya dapat mengemban tugas sesuai tupoksinya masing-masing untuk meredam sebuah konflik, yang apabila tak dilakukan dapat menyebar luas serta menjadi persoalan skala nasional maupun internasional serta mampu menciptakan kondisi yang harmonis antar satu sama lain dalam bingkai NKRI.

Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Papua, Jannus Pangaribuan, SH, MM mengaku toleransi di Papua sangat baik dan harmonis. Dikatakan Jannus dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Kementerian Agama RI tahun 2017, provinsi Papua masuk dalam kategori toleransi umat beragama yang cukup tinggi dan diberi sebuah plakat dari Menteri Agama Drs. H. Lukman hakim Saifuddin kepada Gubernur Provinsi Papua, Lukas Enembe yang diwakilinya.

“Evaluasi itu tahun 2016, tingkat provinsi Papua masuk. Kategori kabupaten kota, Kabupaten Jayapura masuk juga. Penghargaa itu atas pembinaan kepala-kepala daerah dan semua jajarannya dalam rangka merawat kerukunan beragama. Jadi ada provinsi lain juga ya yang dapat penghargaan tingkat toleransi umat Bergama yang baik,” kata Jannus Pangaribuan, Sabtu (17/6/2017)

Kondisi kerukunan umat beragama di Papua, dikatakan Jannus sangat indah, harus terus dirawat dan makin ditingkatkan. Dirinya yang besar di Papua selama 35 tahun ini menilai kerukunan di tanah yang penuh ragam ini penuh kedamaian dan kerukunan, namun pastinya ada riak-riak yang terjadi dalam kacamata masyarakat awam tak ada kerukunan, tetapi sesungguhnya tak seperti itu.

“Inilah dinamika, kalau di Papua karena kondisi keberagaman, saya pikir kebanggan kita. Seketika ada masalah, ada saja yang mengarahkan ke etnis. Tapi sesungguhnya jauh lebih banyak kejatahan ditempat lain ketimbang di Papua,” tuturnya.

Itulah yang sebenarnya terjadi di Papua, lanjutnya kadang tindakan kriminal dikait-kaitkan dalam agama dan etnis. Di sinilah letak komunikasi yang terus dibangun para tokoh-tokoh yang ada di Tanah Papua untuk memutus mata rantai juga mengedukasikan tindakan kriminal murni tak dapat campur adukkan dengan lainnya yang ujungnya memecah belah bangsa.

“Komunikasi lintas agama di Papua, saya pikir sangat bagus disini. Ada satu insiden di Tolikara yang lalu tepat tanggal 17 Juli 2015. Saat itu saya hubungi semua 18 pimpinan agama dan berkumpul di kantor ini untuk meredam situasi. Itu artinya bukti saling peduli antar agama,” tuturnya.

Terlebih kegiatan-kegiatan keagaman di Papua, dikatakannya semua sangat terlihat mulai dari koordinasi antar tokoh-tokoh hingga ke masyarakat. Kerukunan umat beragama di Papua dalam kasat mata perwakilan Kementerian Agama itu mengaku sangat harmonis, dimana semuanya terpanggil untuk merawat toleransi umat beragama.

“Agenda-agenda keagamaan seperti Perparawi, MTQ semuanya saling bantu dengan dilibatkan teman-teman lintas agama. Kalau sifatnya menolong, menopang semuanya tetap dilakukan untuk sukses itu semua dilakukan, tak pandang bulu di Papua ini,” kata Jannus.

“Volume atau intensitas, saya pikir tingkat komunikasi dari kita terhadap umat jalan sebagaimana mestinya. Selama saya pimpin kanwil ini 3,5 tahun tak ada satupun laporan secara resmi dari masyarakat terkait tak adanya kerukunan umat beragama di tempat mereka masing-masing,” ditegaskannya.

Kerukunan umat beragama yang menjaga toleransinya di Papua tetap menjadi simbol persatuan dan kesatuan didasari dengan Pancasila, diemban serta dijalankan oleh berbagai macam suku dan ras yang mendiami Bumi Cenderawasih. Seiring dengan itulah, Papua dikategorikan memiliki toleransi antara umat beragama yang cukup tinggi oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.

Penduduk Bumi Cenderawasih sekitar 3,4 juta penduduk didiami berbagai macam umat beragama masing-masing Kristen 2.020.150 umat,  Katolik 784.403, Islam 551.058, Hindu 5.513 dan Buddha berjumlah 4.239 umat. Sementara bangunan atau rumah ibadah masing-masing umat tersebut antara lain Gereja Kristen 5.262 bangunan, Masjid 1.002, Gereja Katolik 988, Pura Hindu 31 dan Vihara 16 rumah ibadah.

Tak ada perbedaan masalah jumlah pemeluk agama di Tanah Papua. Keberagaman agama inilah yang memupuk rasa kebersamaan antar umat beragama sehingga terjadilah satu toleransi umat yang begitu tinggi, menjadikan Papua Tanah Damai sebagai tiga kata yang nyata di Bumi Cenderawasih.

Doa bersama tokoh agama bersama TNI, Polri, pelajar dan masyarakat di perbatasan Skouw-Wutung, Kota Jayapura, Papua.

 Jurnalis: Indrayadi T Hatta/Redaktur: Irvan Sjafari/Foto: Indrayadi T Hatta
Source: CendanaNews

Lihat juga...