hut

Festival Erau, Bertebaran Ikon Budaya Dayak

TENGGARONG – Hasil kerajinan tangan masyarakat khas ikon budaya Dayak Kabupaten Kutai Kartanegara, Tenggarong Provinsi Kalimantan Timur juga hadir pada Festival Rakyat Internasional Erau atau Erau International Folk Arts Festival (EIFAF) pada 22-30 Juli 2017. Kerajinan tangan buatan masyarakat ini dapat dilihat di expo Erau yang diselenggarakan di Stadion Rondong Demang, Tenggarong.

Kerajinan tangan yang dipamerkan itu misalnya kerajinan manik-manik khas suku Dayak yang biasanya dibuat menjadi hiasan pakaian, kalung, gelang, anting, menghias topi. Seraung yakni topi berbentuk lebar yang biasa digunakan untuk berladang dan untuk menahan sinar matahari dan hujan. Bening Aban yaitu alat memanggul anak yang terbuat dari kayu kemudian dihiasi dengan ukiran dan manik-manik.

Salah satu peserta pameran, Ibu Rudi (38) mengaku, menekuni kerajinan tangan khas masyarakat Kaltim ini sejak dua tahun lalu dan sepanjang pameran sudah puluhan jenis oleh-oleh yang dibeli pengunjung dari luar daerah.

“Biasanya yang beli mencari manik-manik seperti kalung, gelang dan anting, baju dan seraung. Seraung itu kalau pengunjung beli buat hiasan dan harga jualnya berkisar Rp35 ribu. Sedangkan bening aban harganya dari 350-450 ribu karena pembuatannya juga cukup rumit harus diukir dan dihiasi,” kata salah seorang warga Timbau, Tenggarong saat ditemui di Expo Erau, Minggu (30/7/2017).

Ia mengatakan pembuatan kerajinan manik-manik kalung biasanya apabila bahan sudah ada maka pembuatannya satu atau dua hari sudah bisa diselesaikan. Karena bahan manik-manik diperoleh di Kota Samarinda.

“Pembuatan oleh-oleh khas masyarakat Kaltim khususnya di Kutai tidak lama asalkan ada bahannya. Seperti kalung, anting, gelas dan lainnya itu kalau sudah ada manik-manik bisa saja sehari jadi. Bahan manik juga kita beli dari Samarinda, kalau ke Samarinda sekitar satu jam. Kalau tas anyaman bersama saja kita buatnya,” jelasnya sembari memperlihatkan hasil kerajinan lainnya.

Menurutnya, jualan hasil kerajinan tangan ini tidak hanya dilakukan saat ada pameran namun di rumah juga buka sehingga hasil jualan kerajinan tangan juga terlihat setiap bulannya. Dalam satu bulan omzet yang diperoleh sekitar Rp1-2 juta lebih dari berbagai kerajinan.

“Nggak mesti ya hasilnya kalau setiap bulan, kadang bisa Rp1 juta kadang juga bisa lebih dari itu. Karena kita baru, jadi belajar juga ya apa saja yang disukai pengunjung, banyak dari luar daerah yang datang kalau disini lebih murah,” tukasnya.

Di expo Erau ini tidak hanya menampilkan kerajinan tangan ikon Dayak yang menjadi khas Kaltim. Namun ada berbagai panganan khas Kutai Kartanegara yang juga dipamerkan dan dapat dibeli oleh pengunjung yang datang.

Produk khas ikon Dayak. Foto: Ferry Cahyanti
Lihat juga...