Festival Terpanjang dan Terlama di Condet

JAKARTA – Festival terpanjang dan terlama untuk kedua kali yaitu Festival Condet  diselenggarakan oleh Yayasan Cagar Budaya Condet digelar.

Bertempat di sepanjang jalan raya Condet, tepatnya mulai dari jalan Bulu hingga jalan Gardu, festival yang digelar selama dua hari, Sabtu 29 Juli hingga Minggu 30 Juli 2017 mulai pukul 08.00  hingga pukul 23.00 WIB ini menampilkan berbagai ragam kebudayaan Betawi seperti kesenian Betawi gambang kromong, ondel-ondel, silat, hiburan musik, batu akik pandan ciri khas orang Betawi, baju Betawi, hingga kuliner Betawi seperti asinan Betawi, kue kembang goyang, akar kelapa, emping, dan yang sudah jarang ditemukan masyarakat seperti geplak, bir pletok, selendang mayang, hingga kerak telor.

Sepanjang 2.5 KM jalan raya condet yang merupakan jalan utama warga Condet dan sekitarnya yang menghubungkan atau yang merupakan jalan alternatif menuju Cililitan dan menuju arah Depok dipenuhi 600 stand dalam memeriahkan festival tersebut.

H.M. Muchtar, 48 tahun, warga jalan AMD XX, menyambut baik acara festival Condet ini. Menurutnya, sudah seharusnya acara seperti ini diadakan, tidak hanya di Condet saja tetapi di wilayah Jakarta lainnya pun harus mengadakan acara serupa dengan tujuan menjaga agar kebudayaan Betawi tidak hilang, dan juga sekaligus memperkenalkan budaya Betawi kepada anak-anak generasi penerus agar mereka tidak lupa dengan akar kebudayaan mereka.

Fandi Lesmana, salah satu panitia penyelenggara membenarkan bahwa Festival Condet  merupakan festival terpanjang dan terlama dari festival tahun lalu. Menurutnya, tahun lalu Festival Condet jarak yang dipakai di sepanjang jalan raya Condet hanya 800 meter dengan waktu pelaksanaan dari pagi pukul 08.00 hingga pukul 21.00 WIB. Tujuan diadakannya Festival Condet untuk melestarikan kebudayaan Betawi yang semakin tenggelam dengan perkembangan zaman. Acara ini juga sebagai ajang silaturahmi tidak hanya warga Betawi saja tetapi untuk seluruh masyarakat yang tinggal di Jakarta. Menurutnya lagi, Jakarta sebagai ibu kota sudah tidak terlihat lagi ciri khas kota Jakartanya. Kesenian tradisional Betawi bisa dikatakan sudah tidak ada lagi atau sudah jarang ditemukan penerusnya.

“Sebenarnya acara seperti ini tidak hanya di Condet saja, di Setu Babakan, di Tangerang, juga menggelar acara serupa, hanya saja waktu pelaksanaan dan nama acaranya yang beda. Besok Minggu kemungkinan besar akan menampilkan emping terbesar dan masuk catatan MURI, hari ini sedang diolah empingnya,” jelasnya, Sabtu.

Lihat juga...