hut

KH Ma’ruf: Syariah Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru

JAKARTA – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Ma’ruf Amin, mengatakan, sejak krisis global tahun 2008, banyak pemimpin negara dan para ahli ekonomi tersentak dengan paham pertumbuhan ekonomi yang selama ini dianut.

Pesatnya pertumbuhan sektor keuangan yang tidak diikuti dengan pertumbuhan nyata di sektor riil, merupakan potensi bencana yang akan meledak dan membahayakan perekonomian, bahkan kehidupan bernegara.

Krisis ini kemudian menjadi dorongan bagi sebagian besar negara untuk merumuskan kembali arah dan strategi kebijakan ekonominya. Termasuk negara-negara di Timur Tengah yang telah lebih dulu merumuskan arah kebijakan ekonominya dengan menjadikan ekonomi syariah sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru. Dalam hal ini, kata Ma’ruf, MUI berpandangan, bahwa praktik ekonomi syariah pada dasarnya telah menjadi bagian dari kehidupan bangsa Indonesia.

“Praktik maro yang merupakan salah satu pola hubungan atau kemitraan antara petani penggarap dengan pemilik lahan sudah sangat dikenal oleh masyarakat sejak dahulu kala,” ujar Ma’ruf, dalam sambutannya saat membuka Diskusi Panel Dalam Rangka Milad Ke-42 MUI bertajuk ‘Peran Ekonomi Syariah Dalam Arus Baru Ekonomi Indonesia’ di Gedung Bank Indonesia (BI), Jakarta, Senin (24/7/2017).

Lebih jauh, praktik ekonomi berjamaah atau berserikat telah diimplementasikan jauh sebelum kemerdekaan. Sebagai contoh, kata Ma’ruf, bersatunya kaum saudagar untuk melawan penguasaan ekonomi oleh penjajah Belanda melalui wadah organisasi Syarikat Dagang Islam dan  kemudian menjadi Syarikat Islam, yang mana hal ini telah menjadi bagian penting dalam sejarah perjuangan Indonesia.

Ma’ruf mengatakan,  permasalahan ketimpangan yang terjadi di Indonesia dapat diatasi melalui instrumen ekonomi syariah. Ketimpangan yang dimaksud, yakni ketimpangan antara golongan masyarakat miskin dengan kaya, ketimpangan wilayah barat dan timur, ketimpangan sosial atas akses masyarakat, dan ketimpangan sektoral.

“Kita mengenal zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ziswaf) yang merupakan pilar utama dalam ekonomi syariah,” ujar Ma’ruf.

Jumlah penduduk Muslim Indonesia yang hampir mencapai 223 juta orang dapat menjadi sumber dana sekaligus potensi penyebaran ziswaf. Menurut Ma’ruf, ini  sangat potensial sehingga akan mampu menciptakan arus baru perekonomian Indonesia.

Zakat adalah instrumen keuangan Islam yang mampu menjawab masalah perekonomian nasional berupa kebutuhan investasi, menjaga daya beli masyarakat miskin, dan pemberdayaan masyarakat miskin. Zakat menjadi pengendali penumpukan harta, sehingga menstimulus keluarnya harta menjadi investasi.

Zakat juga sebagai pengumpul dana sosial untuk didistribusikan kepada masyarakat miskin, dalam rangka konsumsi, sehingga agregat konsumsi dapat dijaga sebagai penopang pertumbuhan ekonomi. Tak hanya itu, zakat merupakan pengumpul dana sosial untuk didistribusikan kepada masyarakat miskin dalam rangka memberdayakan mereka, sehingga dapat ikut berkontribusi dalam melakukan usaha.

Sementara itu, infak, sedekah, dan wakaf merupakan instrumen keuangan Islam yang mendorong partisipasi masyarakat untuk ikut menjawab kebutuhan negara di dalam upaya memenuhi kepentingan publik. Misalnya, dalam pembangunan sarana prasarana, pemberdayaan masyarakat, pemenuhan konsumsi, dan kebutuhan lain untuk kepentingan umum.

Ma’ruf melihat pemanfaatan ziswaf masih belum optimal. “Seandainya semua pemangku kepentingan dan masyarakat menyadari bersama akan manfaat dan keuntungan dari instrumen ziswaf ini, maka ini dapat menjadi bagian dari kebijakan ekonomi nasional dalam rangka mengatasi permasalahan ekonomi mendasar yang telah kami kemukakan di awal,” ujarnya.

Menurut Ma’ruf, ekonomi syariah pada hakikatnya merupakan perekonomian yang mengedepankan perilaku dan aktivititas manusia yang sesuai dengan prinsip-prinsip dasar Islam. Yakni, kesadaran akan kepemilikan harta secara absolut milik Allah SWT,  adil dalam berusaha dan konsumsi, kerjasama dalam kebaikan, dan keseimbangan dalam pertumbuhan.

Namun, dirinya mengakui upaya untuk mendorong dan memperbesar sektor ekonomi syariah di Indonesia bukanlah langkah yang mudah, meskipun  peletakan dasarnya telah dilakukan dengan baik, seperti regulasi, fatwa terkait produk, jasa dan akad, infrastruktur lembaga keuangan dan bisnis syariah, sumber daya insani, dan masyarakat.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!

Mersin escort

»

bodrumescort.asia

»

Escort Adana bayan

»

Mersin türbanlı escort Sevil

»

Mersinde bulunan escort kızlar

»

storebursa.com

»

maltepeescort.org

»

Kayseri elit eskort

»

Eskişehir sınırsız escort

»

Eskişehirde bulunan escort kızlar

»

samsuni.net

»

Escort Adana kızları

»

eskisehir eskort

»

adana eve gelen escort

»

adana escort twitter

»

adana beyazevler escort

»

http://www.mersinindex.com

»

pubg mobile hileleri

»

Nulled themes

»

www.ankarabugun.org

»

www.canlitvtr.net

»

escort izmir

»
escort99.com