Rama Ratu Jaya Kesatria Betawi Tampil Memikat di TMII

198

JAKARTA – Kisah Rama Ratu Jaya telah tampil memikat di Sasono Langgeng Budaya Taman Mini Indonesia Indah (TMII), belum lama ini. Komunitas Seni Budaya Khatulistiwa (SBK) berinisiatif mementaskan pagelaran seni budaya Betawi tersebut.

Pagelaran yang kental dengan nuansa hiburan tradisional ala Betawi tersebut, di dalamnya juga berisi pengetahuan mengenai sejarah yang  pernah terjadi di daerah Betawi yaitu di pinggiran Ratu Jaya, Depok. Cerita sejarah masyarakat ini diangkat dalam seni pertunjukan dengan harapan selain mengangkat seni budaya Betawi seperti seni Topeng dan seni Lenong, juga agar mudah dicerna para penikmat seni terutama yang belum mengetahui akan sepenggal sejarah yang pernah terjadi pada zaman penjajahan.

Dalam pagelaran “Rama Ratu Jaya” diceritakan tentang Rama, yang berasal dari Ratu Jaya Depok, mengaku dirinya adalah Pangeran Ali Basah, putra Ratu Kiranawati permaisuri Raja Siliwangi, Prabu Surawisesa. Rama mengajarkan ilmu bela diri dan ia juga seorang guru kebatinan. Pengaruh Rama menyebar mulai dari Bogor, Tegal Waru, Parung, Cibarusa, Tambun, Batavia dan Depok.

Rama diperankan oleh Riyanto Rachman Asym, artis sinetron dan film layar lebar. Murid-murid Rama sangat banyak dan mereka semua adalah kaum petani. Karena kekejaman Pemerintah Kolonial Belanda yang telah memberlakukan tanam paksa dan menjual tanah pribumi pada para tuan tanah, maka para petani juga harus membayar pajak hasil panen.

Jika petani tersebut tak bisa membayar atau tak mau menjual tanah ke tuan tanah, maka tak ayal siksaan para tentara Belanda menghampiri tubuh mereka.

Melihat kondisi ini, Rama yang asli warga Tambun namun sejak kecil tinggal di Ratu Jaya Depok menganjurkan para murid yang merupakan petani untuk berontak melawan Pemerintah Kolonial Belanda yang telah berbuat sewenang-wenang.

Rama pun mengatur strategi untuk melakukan pemberontakan melawan Pemerintah Kolonial Belanda. Pemberontakan terjadi, namun karena tentara Kolonial Belanda  dilengkapi senjata, Rama pun tewas tertembak. Begitu pula dengan para petani. Sedangkan para petani yang masih hidup digiring ke markas Kolonial Belanda, dipenjarakan.

Namun, ada satu orang teman Rama yang saat pertempuran itu berhasil meloloskan diri. Dia pun berkata bahwa meskipun Rama sudah wafat, tetapi perjuangan melawan kolonial Belanda tidak akan berakhir. Apalagi Rama juga pernah berujar demikian sebelum ajal menjemput.

Jaringan kekuatan para petani atas perjuangan Rama untuk melawan Pemerintah Kolonial Belanda tetap berkobar hingga pemberontakan pun terus terjadi di tanah Betawi.

Karena peristiwa pemberontakan tersebut di seluruh wilayah Eropa mulai muncul benih-benih emansipasi, yaitu tuntutan agar Pemerintah Kolonial Belanda menyamakan perlakuan antara rakyat jajahan dengan rakyat yang ada di negeri Belanda itu sendiri.

“Pertunjukan ini dikemas lebih modern dengan harapan generasi muda yang kita tahu mulai meninggalkan kebudayaan tradisi akan tertarik dan mulai kembali menyukai serta makin mencintai seni budaya Indonesia, khususnya seni budaya Betawi,” ujar Ketua SBK Raden Teguh Harie Santoso.

Rama Ratu Jaya (baju merah dengan sarung di leher) sedang mengajarkan bela diri kepada para petani dalam Pagelaran Seni Budaya Betawi bertajuk “Rama Ratu Jaya” di Sasono Langgeng Budaya Taman Mini Indonesia Indah. Foto: Sri Sugiarti

 

Baca Juga
Lihat juga...