hut

Akibat Cuaca Ekstrem, Petani Tembakau Ponorogo Gagal Panen

PONOROGO — Sejumlah petani tembakau di Ponorogo sepertinya harus gigit jari. Pasalnya, sejak awal  2017 ini mereka mengaku rugi akibat gagal panen. Mereka menuding perubahan cuaca ekstrem membuat tanaman tembakau miliknya jadi tidak produktif.

Salah satu petani tembakau, Seran (65 tahun) menjelaskan ia sudah pasrah saat panen nanti. Tanaman tembakau jenis virginia yang ditanamnya mulai menampakkan kegagalan.

“Umur satu bulan saja sudah terlihat puret (istilah Jawa keriting pada daun),” jelasnya saat ditemui Cendana News di kediamannya, Senin (28/8/2017).

Meski sempat mendapatkan bantuan pestisida dari para penyuluh, lahan tembakau miliknya tetap tidak menunjukkan tanda-tanda segar kembali.

“Sudah dikasih pestisida tapi juga tidak mempan,” tuturnya.

Ia hanya bisa pasrah hasil panenannya kali ini kembali buruk. Sebelumnya pada Mei 2017 lalu, Seran mengalami gagal panen. Kini bayangan itu kembali menghantuinya.

“Biasanya dapat 1,5 ton, kini saat panen hanya bisa 0,5 ton paling banyak,” terangnya.

Apalagi meski tanaman tembakau sulit ditanam, penjualannya pun sangat murah. Untuk satu kilogram tembakau cacah kering hanya dihargai Rp25 ribu. Itu pun harus daun tembakau yang sehat.

“Itu yang kualitasnya bagus, kalau tidak bagus ya tidak laku dijual,” cakapnya.

Warga Desa Kunti, Kecamatan Bungkal ini menanami lahan satu hektare miliknya dengan tembakau. Namun bisa dipastikan 60% hasilnya pasti gagal.

“Perubahan cuaca ekstrem, kadang panas kadang dingin yang jadi penyebab kegagalan panen kali,” tandasnya.

Ia berharap petani tembakau tidak mudah menyerah menghadapi cuaca ekstrem. Kalau pun diganti tanaman lain, Seran mengaku enggan. Pasalnya sejak dulu ia sudah menanam tembakau di lahan miliknya.

“Sudah terbiasa nanam tembakau, kalau saya pindah menanam padi atau jagung takut kalah saing,” pungkasnya.

Seran saat menjemur tembakau/Foto: Charolin Pebrianti.
Lihat juga...