Buku “Jejak Pak Harto di Atas Perangko” Sabet Medali dalam World Stamp Exhibition 2017 di Bandung

287

BANDUNG — Pameran dan kompetisi Filateli dunia World Stamp Exhibition yang digelar di Bandung dari tanggal 3 sampai 7 Agustus 2017 di Hotel Trans Bandung Jl. Gatot Subroto, telah paripurna. Para peserta kompetisi yang berasal dari 60 negara, telah menerima pengumuman hasil juara pada minggu malam, 6 Agustus 2017, di Gedung Landmark, Bandung.

Dalam kompetisi tingkat dunia ini, Buku berjudul Pak Harto, The Footmarks on Postage Stamps, karya Mahpudi yang dipamerkan oleh Filatelist Soehardjo Soebardi, berhasil menyabet Medali Silver Bronze (Perunggu Bersepuh Perak) dalam kategori Philatelic Literature.

Sedangkan Mahpudi, Penulis yang kerap menulis buku-buku tentang Presiden Soeharto, juga berhasil meraih Medali Perunggu melalui karya bukunya berjudul Bandung dalam Perangko, sebuah buku yang baru diluncurkan pada 1 Agustus 2017 lalu.

Ketua Perkumpulan Filatelis Indonesia, Letjen (Purn) TNI Soeyono dalam sambutan Malam Anugerah Juara ini mengucapkan terima kasih sebesarnya kepada para peserta kompetisi filateli yang telah turut serta dalam kompetisi ini. Selain berterima kasih kepada para peserta, Soeyono juga mengucapkan apresiasi sebesarnya kepada seluruh juri dan panitia acara ini. “Semua koleksi yang dipamerkan sangat menarik dan memuaskan,” kata Soeyono dalam Bahasa Inggris.

Sedangkan Tay Peng Hian, sebagai President of Federation Internationale De Philatelie (FIP), dalam sambutannya mengatakan, Filateli adalah Informasi yang akan selalu berharga. Tay sempat menyebut koleksi perangko peserta dari Brazil yang terasa sangat impresif. “Kita sedang mempersiapkan International Summit Philately di Bangkok pada Desember 2018,” kata Tay.

Sebagai tuan rumah utama, PT Pos Indonesia memberikan catatan spesial kepada berbagai angkatan usia yang ikut dalam kompetisi Filatelis Dunia ini. Apalagi, World Stamp Exhibition 2017 Bandung ini juga diikuti oleh Wakil Ketua MPR RI, Fadli Zon.

Perwakilan PT Pos yang diwakili Direktur Ritel dan Jaringan Ira Puspa Dewi mengatakan, kompetisi Filateli mengajari banyak orang untuk saling mengerti antar berbagai bangsa. Ira sangat terkejut, ada Filatelis yang baru berusia 5 tahun. “Saya sendiri, saat masih kecil, pernah menjadi Filatelis hingga usia 12 tahun. Saat itu saya berhenti karena kesibukan lain. Namun, dengan melihat kompetisi ini, saya ingin memulai menjadi Filatelis lagi,” ujar Ira Puspa Dewi dengan sangat semangat.

Prof DR. Ahmad M.Ramli, Dirjen Penyelenggaraan Pos & Informatika (PPI) yang turut hadir dalam Malam Anugerah Juara Filateli Dunia juga mengatakan, Kompetisi Filateli adalah kompetisi yang sangat unik. Bagi Ramli, Filateli sangat membantu manusia menjadi berpendidikan. Sebagai Hobby yang sangat positif, Filateli memicu manusia untuk mempelajari kebudayaan dalam suatu bangsa, mengetahui informasi publik, dan mengetahui sejauh mana teknologi cetak sebuah bangsa.

Dalam kompetisi World Stamp Exhibition 2017 Bandung ini, ada Group Kelas Non Kompetisi, dan ada Group Kelas Kompetisi. Pada Group Kelas Non Kompetisi, ada Kelas Kehormatan (Court of Honour), Kelas Dinas Pos (Official Class), serta Kelas Juri (jurry class).

Sedangkan Group Kompetisi terdiri dari Kelas Filateli Tradisional, Kelas Sejarah Pos, Kelas Benda Pos Bercetakan Prangko, Kelas Filateli Udara, Kelas Filateli Angkasa Luar, Kelas Filateli Tematik, Kelas Kartu Maksimum, Kelas Filateli Fiskal, Kelas Filateli Remaja, serta Kelas Literatur Filateli

Dari 455 karya Filateli yang ikut dalam kompetisi ini, ada 48 Filatelis Indonesia yang mendapat penghargaan. Namun, hanya sedikit yang berhasil mendapat Lager Gold (Medali emas besar) dan Gold (medali emas). Medali emas besar pertama diraih oleh Filatelis Indra Kusuma dari kategori Traditional Philately dengan karya berjudul Republik Indonesia 1945-1949, Local Issued Stamps during Independent War In Java Island.

Medali emas besar kedua diraih oleh Tono Dwi Putranto dari kategori Aero Philately dengan karya berjudul The Development of KLM and KNILM Operation In Netherland Indies 1920-1942.

Sedangkan peraih medali emas diraih oleh Yan Wiriadi Jodana, Ryantori, Asroni Harahap (mendapat dua emas sekaligus), dan Agus Wibawanto (dua emas sekaligus). Selain nama-nama tersebut, tidak ada yang meraih medali emas. Fadli Zon, Politisi Gerindra yang menjadi Wakil Ketua MPR RI pun, hanya mendapat Medali Large Vermeil.

Dalam Kompetisi Filateli dunia ini, tampak sekali, persahabatan antar filatelis di seluruh dunia untuk membangun perdamaian serta memajukan filateli, semakin erat. Acara yang cukup meriah ini ditutup dengan berbagai hiburan tari, musik, dan aneka hiburan lain.

Dalam acara penutupan, Ketua Filatelis Indonesia Letjen (Purn.) Soeyono mengajak seluruh hadirin untuk bernyanyi lagu perjuangan Hallo Hallo Bandung secara bersama-sama. Sebuah lagu kenangan yang mengingatkan kepada para hadirin, bahwa kota Bandung adalah kota perjuangan.

Baca Juga
Lihat juga...