Lebaran CDN

Hutan untuk Kemasyarakatan, Petani Diminta Ikut Kelola dan Jaga Hutan

MAUMERE – Daniel Rothberg dari  Critycal Ecosystem Partnership Fund (CEPF) meminta agar para petani di Desa Egon Gahar yang berada di pesisir kawasan hutan lindung  Egon Ilimedo untuk menjaga hutan dan memanfaatkan secara baik lahan Hutan Kemasyarakatan untuk tanaman pertanian dan perkebunan.

Demikian disampaikan Hery Naif manager program Wahana Tani Mandiri (WTM) kepada Cendana News yang bertandang ke kantornya Rabu (9/8/2017)  terkait kunjungan lapangan dan diskusi dengan kelompok tani.

Daniel saat diskusi bersama kelompok tani pengelola Hutan Kemasyarakatan (HKm) dampingan Wahana Tani Mandiri (WTM), Yayasan Burung Indonesia dan BKSDA unit Sikka, sebut Hery, menyampaikan bahwa para petani sudah memahami pentingnya menjaga kelestarian hutan dan sudah memiliki dasar untuk lebih maju dalam berpikir dan berkarya.

“Saya melihat bahwa ini sebuah langkah yang baik, kemitraan yang baik dengan masyarakat dan pemerintah itu memberikan sesuatu yang baik dan itu mulai berjalan sebab petani mempunyai harapan mendapat Ijin Usaha Pengelolaan dan sudah disetujui sehingga perlu dimanfaatkan dengan baik,” ujarnya.

Sedangkan Tibur Hani dari Perkumpulan Burung Indonesia mengajak semua petani untuk menjaga kepercayaan tersebut sebab di banyak tempat, ada pengalaman negatif dimana mereka tebang pohon dan kemudian berdampak buruk terhadap keterbatasan dan bahkan kekeringan air.

“Ijin usaha Pengelolaan atau  IUP itu adalah kepercayaan pemerintah kepada kita untuk menjaga alam sehingga tolong dijaga kepercayaan itu dengan tanpa melakukan aktivitas yang merusak hutan dan ekositemnya,” pesannya.

Hani menambahkan, dengan menjaga alam maka kita mendapat berbagai layanan dari alam sebab kalau alam sakti kita tidak bisa mendapatkan pelayanan yang baik seperti mendapatkan udara segar.

Yosef Arianto salah satu peserta dari BKSDA unit Sikka kepada Cendana News mengaku sangat mendukung konsep HKm yang dibangun namun pihaknya lebih fokus kepada hutan konservasi.

“Kami tidak mengerti baik tentang HKm tetapi pada prinsipnya kami mendukung dan mendorong pengelolaan yang melestarikan hutan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Yosef mengungkapkan bahwa HKm semestinya lebih berkaitan dengan KPH. Egon Gahar menjadi kawasan penyanggah dan BKSDA fokus pada statusnya tersebut khususnya terkait suaka margasatwa.

Ketua Forum HKm Mapi Detun Tara Gahar, Firmus Piru saat ditanyai Cendana News mengatakan bahwa IUP HKm ada sejak tahun 2013 tetapi karena tidak ada aktivitas maka tahun 2015 pihaknya melakukan insiatif untuk mendistribusikan lahan pada anggota namun ditegur Dinas Kehutanan dan dibatalkan sampai dengan tahun 2016.

Namun terang Firmus, setelah dilakukan musyawarah besar HKm Mapi Detun Tara Gahar oleh WTM dan UPT KPH Sikka yang dihadiri oleh anggota, mulai saat itu kegiatan HKm  berjalan hingga kini.

Diskusi terkait Hutan Kemasyarakatan (HKm) yang dilaksanakan oleh CEPF, WTM, Burung Indonesia, BKSDA Sikka dan para kelompok tani di kantor WTM. Foto: Ebed de Rosary
Lihat juga...