GCF 2017 Menggeser Agenda Iklim dari Komitmen ke Aksi

BALIKPAPAN — Pertemuan Satuan Tugas Gubernur untuk Hutan dan Iklim (Governors’ Climate and Forest Task Force atau GCF) yang beranggotakan para gubernur dari 35 provinsi dan Negara Bagian di seluruh dunia yang diselenggarakan di Balikpapan, Kalimantan Timur diharapkan mampu menghasilkan komitmen hingga aksi.

Pertemuan tahun 2017 ini yang menjadi tuan rumah adalah Provinsi Kalimantan Timur, yang diketuai oleh Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak bersama dengan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar, dan Koordinator Nasional GCF Institut Penelitian Inovasi Bumi (INOBU) diselenggarakan mulai hari ini hingga 29 September 2017.

Project Lead GCF Task Force (Satuan Tugas Gubernur untuk Hutan dan Iklim) William Boyd mengungkapkan, sebuah tantangan besar untuk menggeser agenda iklim dari komitmen ke aksi bukan sekedar berdialog.

“Pertemuan Tahunan GCF di Balikpapan ini menyediakan peluang untuk bergerak dari komitmen ke aksi, mulai menyelesaikan persoalan-persoalan koordinasi yang berbeda dengan dunia tatakelola iklim inisiatif dari bawah,” terangnya saat Konferensi Pers di Balikpapan, Rabu (27/9/2017).

Gubernur Provinsi Kalimantan Timur Awang Faroek Ishak mendukung pertemuan yang dilaksanakan di Kalimantan Timur pada kali ini. Melalui pertemuan ditemukan kerangka kerja dan sepakat bahwa tujuan dari perjanjian dengan menurunkan emisi di masing-masing negara.

“Yang menarik dalam pertemuan ini untuk melindungi hak masyarakat adat dan masyarakat lokal. Telah sepakat memberikan kenyamanan dalam mengahadapi tantangan ke depan,” pungkasnya.

Dalam kesempatan itu Wakil Gubernur Huanuco Peru, Rosalia Stork menyampaikan sangat senang dapat bergabung dalam pertemuan kali ini.

“Peluang-peluang seperti ini jarang terjadi mempertemukan pemerintah. Untuk pembangunan emisi rendah dan mengurangi deforestasi,” imbuhnya.

Sekretaris Badan Pengurus INOBU Bernadinus Steni menambahkan, pertemuan saat ini menginginkan bukan hanya statement tapi agenda aksi.

Steni mencontohkan seperti apa aksinya antara lain Provinsi Papua Barat yang sudah menyatakan keinginan bekerja bareng dengan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara dan anggota GCF terutama pengalaman menarik dari Acre dalam mendorong percepatan pengakuan wilayah masyarakat adat dan pemberdayaan ekonomi masyarakat adat.

Tiga organisasi masyarakat adat yaitu AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara), COICA (Coordinator of Indigenous Organizations of Amazon River Basin), dan AMPB (Mesoamerican Alliance of Peoples and Forests) mendukung dan menyatakan akan bekerja sama dengan pemerintahan sub-nasional anggota GCF Task Force.

Sementara itu, ada tiga anggota GCF baru yaitu Roraima (Brazil), Oaxaca (Mexico), dan Pastaza (Ecuador). Berarti anggota GCF 38 provinsi – termasuk 7 provinsi di Indonesia (Nanggroe Aceh Darussalam, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Papua, dan Papua Barat) – dan negara bagian dari 10 negara di dunia.

Sudah ditetapkan Ketua GCF untuk tahun depan adalah Negara Bagian California (Amerika Serikat) bersama dengan tiga negara bagian di Mexico – Campeche, Quintana Roo, dan Yucatan.

Lihat juga...