Pola Tumpangsari Beri Petani Keuntungan Berlipat Setiap Pekan

LAMPUNG – Memiliki kemauan sebagai seorang petani muda yang ingin memperoleh penghasilan membuat Wawan (26) warga Dusun Karanganyar Desa Klaten Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan, memanfaatkan lahan seperempat hektar yang merupakan milik orang tua untuk bercocok tanam.

Sebagai warga yang memiliki kemauan untuk memperoleh hasil maksimal dari bertani, dirinya mulai mengembangkan beragam tanaman sayuran dan tanaman bumbu berupa kacang panjang, kecipir, terong, bayam, jagung manis, serta cabai merah besar.

Beragam tanaman sayuran tersebut, diakuinya merupakan jenis sayuran dengan menggunakan bibit berkualitas bertujuan memperoleh hasil maksimal yang ditanam dengan pola tumpangsari pada guludan.  Di antaranya ada tanaman kacang panjang yang bisa dipanen pada usia 3-4 bulan. Tanaman kacang panjang yang ditanam pada guludan tanah serta dirambatkan pada tajuk belahan bambu pada bagian bawah juga masih bisa dimanfaatkan untuk menanam cabai keriting besar yang bisa dipanen pada usia 2 bulan lebih.

“Saya sengaja menanam berbagai jenis sayuran menggunakan pola tumpangsari dengan usia tanam serta panen berjenjang sehingga bisa menghasilkan uang mingguan atau bulanan dari menanam sayuran,” terang Wawan, salah satu petani Dusun Karanganyar Desa Klaten yang sukses mengembangkan pola penanaman dengan sistem tumpangsari di lahan miliknya, Senin (4/9/2017).

Sayuran kacang panjang dan cabai keriting yang memiliki masa tanam hingga panen setelah berumur lebih dari dua bulan, selanjutnya bisa dipanen setiap dua hingga lima hari sekali setelah memasuki masa berbuah. Bahkan dirinya sudah melakukan pemanenan sebanyak tiga kali dengan rata-rata per pekan memperoleh Rp500 ribu dari menjual kacang panjang dan cabai keriting.

Wawan menyebut, kedua jenis tanaman tersebut menjadi sumber penghasilan bulanan disamping tanaman lain yang menghasilkan uang setiap pekan di antaranya kangkung cabut, bayam cabut, gambas, kecipir, seledri, dan jagung manis. Proses penanaman secara tumpangsari dan beragam jenis diakuinya lebih menguntungkan dibandingkan hanya menanam satu jenis tanaman dengan usia yang seragam dengan perhitungan waktu tanam hingga panen yang cukup lama.

Hasil tanaman sayuran yang dipanen sistem mingguan diakui Wawan mengikuti pola hari pasaran sejumlah pasar tradisional di antaranya setiap hari Rabu, Jumat dan Minggu dengan datangnya pedagang pengepul mengambil beberapa jenis sayuran gambas yang dijual Rp5 ribu per kilogram, kecipir Rp3 ribu per kilogram, cabe keriting hijau Rp15 ribu per kilogram, kangkung dan bayam serta seledri Rp2 ribu per ikat, kacang panjang Rp4 ribu per kilogram, jagung manis Rp3 ribu per kilogram dan terong Rp2 ribu per kilogram.

“Kalkulasi saya setiap pekan ratusan ribu saya peroleh terus menerus diimbangi dengan penanaman tanaman baru pengganti tanaman sudah tak produktif sehingga sepekan bisa tiga kali selalu panen,” terang Wawan.

Tanaman sayuran gambas siap panen, sebagian digunakan sebagai bibit untuk masa tanam berikutnya. [Foto: Henk Widi]
Sebagai petani yang menerapkan pola pertanian tumpangsari, dirinya tak perlu menjual hasil pertaniannya ke pasar karena pengepul atau penjual pasar yang akan mendatangi setiap Subuh dari hasil panen sore hari sebelumnya. Kunci produktivitas pada lahan pertanian yang diolahnya merupakan penerapan dari sistem tumpangsari dan penggunaan pupuk kandang ditambah dengan pupuk pabrikan yang membuat semua jenis sayura terus memberi hasil.

Kegigihan Wawan yang memanfaatkan lahan pertanian secara maksimal dengan pola tumpangsari juga diakui oleh petani lain, Hamdan, yang menyebut pola tanam tumpangsari sudah kerap dilakukan oleh petani di wilayah tersebut.

“Selama ini kami menerapkan pola tumpangsari antara padi dan sayuran kacang panjang serta tomat di setiap pematang sawah sebagai selingan. Sementara Wawan menggunakan pola tersebut untuk bisnis yang berkelanjutan,” terang Hamdan.

Keuntungan yang berlipat setiap pekan dari hasil pola tumpangsari menanam beragam sayuran tersebut menurut Hamdan bahkan lebih menghasilkan dibandingkan musim tanam padi pada bulan September yang sebagian diserang hama tikus dan burung yang berimbas menurunnya produksi padi. Pola penanaman tumpangsari bisa menjadi contoh petani lain bahwa dengan memanfaatkan keterbatasan lahan bisa menghasilkan keuntungan berlipat dari berbagai jenis tanaman produktif.

Sayuran kecipir berbuah lebat ditanam oleh Wawan bersama beragam sayuran lain dengan sistem tanam tumpang sari. [Foto: Henk Widi]
Lihat juga...