Prajurit Satgas Pamtas RI-Malaysia Rangkap Jadi Guru

SAMARINDA — Prajurit di kawasan perbatasan RI-Malaysia yang tergabung dalam Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas), selain menjalankan tugas pokok pengamanan wilayah NKRI juga merangkap sebagai guru guna membantu sekolah setempat.

“Rangkap sebagai guru pada sekolah-sekolah di perbatasan merupakan bentuk bantuan yang diberikan jika sekolah setempat kekurangan guru. Jadi, ini bukan mengambil alih, tapi membantu sekolah yang minim guru,” ujar Komandan Korem 091/Aji Surya Natakesuma (ASN) Brigjen TNI Irham Waroihan di Samarinda, Jumat (29/9/2017).

Hal itu dikatakan Irham ditemui setelah memimpin gladi bersih untuk persiapan nonton bareng film berjudul Penumpasan Pengkhianatan Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI) yang akan diputar di Convention Hall Samarinda pada Sabtu pagi (30/9).

Bukan rahasia bahwa jumlah guru di daerah terpencil dan kawasan perbatasan sangat minim, karena pada umumnya pegawai termasuk guru akan pindah setelah ditempatkan di perbatasan, sehingga jumlah guru yang banyak adalah di perkotaan, sementara di perbatasan menjadi kekurangan tenaga pendidik dan kependidikan.

Ketika mempercayakan prajurit untuk membantu sekolah mendidik di bidang mata pelajaran tertentu, pihaknya tentu tidak langsung tunjuk karena cara seperti itu jelas tidak tepat, namun prajurit yang dipercaya menjadi guru adalah prajurit yang sebelumnya telah mendapat pelatihan tentang teknik mendidik siswa oleh orang yang ahli di bidangnya.

“Dalam menyiapkan anggota TNI untuk menjadi guru, sebelumnya telah dilakukan kerja sama dengan dinas pendidikan untuk menggelar pelatihan menjadi guru. Setelah prajurit dinyatakan lulus, kemudian penguji dan dinas pendidikan terkait memberikan sertifikat. Jadi prajurit yang bertugas di perbatasan juga banyak yang punya sertifikat menjadi guru,” ucapnya.

Memang, lanjut Irham, tidak semua anggota yang ditugaskan di perbatasan bisa menjadi guru di sekolah tingkat dasar dan sekolah menengah pertama, karena masing-masing anggota memiliki keterampilan tertentu selain keterampilan utama sebagai prajurit.

Untuk itu, dalam satu pos biasanya ada 5-6 anggota yang dinyatakan layak membantu sekolah dalam mendidik siswa jika di sekolah ada yang kekurangan guru. Sedangkan prajurit lainnya tetap membantu masyarakat perbatasan sesuai dengan keterampilan masing-masing.

Begitu pula dengan prajurit yang juga membantu masyarakat sebagai guru mengaji, maka prajurit tersebut tentu tidak sekedar bisa mengaji yang kemudian mengajarkan anak-anak di perbatasan, namun sebelumnya juga mendapat pelatihan tentang teknik khusus mengajar mengaji.

“Salah satu contoh adalah di Batalyon Infanteri 621/Manuntung di Barabai, Kalimantan Selatan. Sebelum ditugaskan ke perbatasan, para prajurit mendapat perhatian pratugas di Kandangan mendapat pendalaman keterampilan tertentu, termasuk mengenalkan kultur dan budaya lokal, kemudian ada semacam penataran, mendapat sertifikat, baru diberangkatkan,” ujarnya.[Ant]

Lihat juga...