hut

Sepak Bola dan Egrang Disukai Anak-anak di Penengahan

LAMPUNG – Puluhan anak di Dusun Buring Desa Sukabaru terlihat asyik bermain bola plastik di halaman rumah salah satu warga sementara sebagian lagi bermain egrang. Berupa sepasang tongkat bambu yang diberi pijakan kayu untuk berjalan oleh warga asli suku Lampung dikenal dengan sebutan khol-kholan.

Salah satu anak yang bermain, Sigit Prasteyo (8) siswa kelas 3 SDN 3 Sukabaru menyebut, saat ini ada tiga permainan olahraga yang disukai anak-anak di wilayah tersebut sejak satu bulan terakhir dan dimainkan seusai pulang sekolah bahkan boleh dimainkan ke sekolah saat jam istirahat sekolah.

Sigit Prasetyo menyebut, selama hampir satu bulan ini anak-anak di Dusun Sukabaru mulai menyukai permainan olahraga sepakbola dengan adanya siaran televisi pertandingan bola dan sekaligus persiapan latihan sepakbola untuk pertandingan olahraga jelang olimpiade olahraga siswa nasional (O2SN) antargugus.

“Sekarang lagi musim anak-anak bermain sepakbola, hulahop dan permainan egrang yang kami mainkan setiap sore karena menyenangkan dan bisa berkumpul bersama di halaman rumah,” terang Sigit Prasetyo, salah satu anak di Dusun Buring yang duduk di kelas 3 SDN Sukabaru Kecamatan Penengahan saat ditemui Cendana News, Jumat (22/9/2017).

Dian (depan) salah satu ibu yang anaknya menyukai permainan egrang, [Foto: Henk Widi]
Aktifitas bermain sepakbola tersebut juga disukai oleh anak-anak di desa tersebut yang sebagian masih duduk di bangku sekolah dasar dan lokasi perumahan tempat tinggal hanya belasan meter dari sekolah. Lokasi sekolah yang dekat dengan perumahan warga dan memiliki halaman luas bahkan kerap dimanfaatkan untuk bermain olahraga sepakbola dan bulutangkis.

Selain anak-anak yang menyukai permainan sepakbola, salah satu permainan tradisional yang kembali marak disukai anak-anak di Dusun Buring adalah permainan egrang atau khol-kholan. Egrang merupakan sarana permainan tradisional terbuat dari bambu dan terkadang kayu untuk pijakan.

Dian (29) salah satu ibu rumah tangga yang memiliki anak usia SD mengaku permainan egrang merupakan sebuah permainan yang sudah lama ada di wilayah tersebut dan kini mulai marak dimainkan oleh anak-anak. Pembuatan sarana permainan egrang tersebut bahkan didukung oleh para orangtua laki-laki menggunakan bambu dan dibuat dalam waktu sehari.

“Satu batang bambu yang panjang bisa dibuat beberapa egrang sepanjang satu meter lebih menyesuaikan tinggi anak yang akan dibuatkan egrang,” ungkap Dian.

Permainan egrang atau khol-kholan yang disukai anak-anak saat ini bahkan tidak hanya dimainkan oleh anak laki laki melainkan dimainkan oleh anak perempuan di dusun tersebut. Salah satu anak perempuan di Dusun Buring, Tata Pertiwi, mengungkapkan menyukai permainan egrang karena menyenangkan. Ia bahkan harus berlatih selama beberapa hari agar bisa memainkan permainan egrang bahkan kerap balapan egrang sembari bermain sepakbola.

“Setiap pulang sekolah kami berkumpul bersama kawan-kawan untuk bermain egrang di halaman berpasir agar saat terjatuh tidak sakit,” beber Tata Pertiwi.

Keberadaan permainan tradisional egrang tersebut juga sangat didukung oleh Ridwan salah satu orangtua yang membuatkan egrang untuk anaknya dengan ketersediaan bambu yang melimpah di wilayah tersebut terutama di tepian Sungai Way Pisang.

Keberadaan permainan egrang diakui Ridwan yang memiliki dua anak duduk di bangku SD  mendukung anak-anak di wilayah tersebut bermain egrang sebagai sebuah permainan tradisional yang sudah jarang dimainkan anak-anak sekaligus sebagai kegiatan olahraga.

“Sebagai permainan tradisional kami dukung karena bisa menjaga kebersamaan anak-anak sekaligus bisa berinteraksi bersama kawan lainnya,” beber Ridwan.

Olahraga sepakbola menjadi salah satu permainan anak-anak di Dusun Buring Desa Sulabaru setiap sore. [Foto: Henk Widi]
Lihat juga...