Tim Gabungan Razia Apotek di Padang Cegah PCC

PADANG – Tim gabungan terdiri dari Direktur Reserse Narkoba POLDA  Sumatera Barat, Badan Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM), Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP), dan  Dinas Kesehatan, menggelar razia pil PCC di apotek yang ada di Kota Padang, Senin (25/9/2017).

Wakil Direktur Ditresnarkoba POLDA Sumbar, AKBP Yulmar Tri Himawan saat diwawancari awak media usai menggelar razia pil PCC di Apotek di Padang. -Foto: M. Noli Hendra

Tim  gabungan disebar di tiga titik dan turun secara bersamaan  di tempat-tempat penjualan obat-obatan. Dari sekira 30 apotek  yang digeledah, tidak ditemukan adanya pil PCC yang dijual di Kota Padang. Hanya saja, dalam razia itu, tim gabungan  menemukan puluhan butir dan kemasan pil yang sudah kadarluarsa.

Wakil Direktur Ditresnarkoba POLDA Sumbar, AKBP. Yulmar Tri  Himawan, mengatakan, razia yang dilakukan tersebut merupakan  perintah dari Kapolri untuk mengantisipasi penyebaran pil PCC di Indonesia. Namun, dari razia yang dilakukan bersama sejumlah instansi hari ini, tim tidak menemukan adanya pil PCC di apotek yang ada di Kota Padang.

“Razia hari ini merupakan perintah langsung dari Kapolri. Meski tidak ditemukannya pil PCC, tetapi dari penggeledahan yang dilakukan ke seluruh apotek yang ada di Terandam Kota Padang, yang merupakan kawasan penjual obat, tim malah menemukan sejumlah pil yang sudah kadaruluarsa,” ujarnya, Senin (25/9/2017).

Ia menyebut, pil atau obat yang ditemukan kadaluarsa itu pun beragam merk. Alasan disita, karena khawatir akan terjadinya penjualan obat kadaluarsa  yang bisa merusak kesehatan masyarakat. Bahkan, saat disita tim gabungan, obat kadaluarsa itu tetap dipajang, meski tahu kadaluarsanya telah berakhir sejak 2011. Rizia yang dilakukan sejak pagi tadi, setidaknya telah menyita dua kantong kresek obat kadarluarsa. Meski tidak ditemukan pil PCC, razia yang digelar hari ini tidak akan berkahir hari ini saja.

Yulmar menegaskan, razia pil PCC akan terus dilakukan hingga menyebar ke sejumlah daerah di Sumatera Barat. Hal tersebut perlu dilakukan, guna memastikan ancaman pil PCC bagi masyarakat benar-benar tidak ada di Sumatera Barat.

“Jadi, obat kadaluarsa itu bukannya dilarang untuk diedarkan, boleh diedarkan, hanya saja sudah kadaluarsa. Dikarenakan sudah kadaluarsa, tidak diperbolehkan lagi dijual, sehingga perlu disita,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pemeriksaan dan Penyidikan BBPOM Padang, Antoni Saidi, mengatakan, ada sekira dua apotek yang ditemukan masih menjual obat yang sudah kadalurasa. Sanksi yang diberikan bagi apotek itu yakni peringatan pertama.

Namun, bila ke depan masih melakukan hal yang sama, maka sanksinya ialah pencabutan izin apotek atau menutup penjualan apotek. “Yang namanya obat atau makanan yang sudah kadaluarsa itu tidak diperbolehkan lagi diperjual belikan. Seharusnya, pihak apotek tidak lagi menyimpannya di dalam apotek. Melihat masih adanya menyimpan obat yang sudah kadaluarsa, maka tim hari ini menyita obat-obatan tersebut,” tegasnya.

Razia yang dilakukan oleh tim gabungan tersebut memeriksa satu persatu obat yang dijual, bersama dari BBPOM dan Dinas Kesehatan. Obat yang diperiksa pun tidak hanya yang dipajang di depan, tetapi obat-obatan yang disimpan di dalam gudang.

Sementara itu, Nadia, Siswi SMA PGRI 3 Padang yang berada di lokasi apotek saat razia dilakukan mengaku sangat khawatir adanya ancaman pil PCC bagi pelajar.  Ia menyebutkan, semenjak adanya informasi bahaya pil PCC, cara berbelanja di lingkungan sekolah pun jadi lebih teliti, agar terhindar dari pil PCC yang kemungkinan masuk ke sejumlah jenis jajanan di sekolah.

“Sangat khawatir adanya pil PCC itu, jadi saya pun berbelanjanya jadi lebih teliti dan memastikan jenis makanan yang akan dibeli,” ucapnya.

Lihat juga...