Amerika Bicara Langsung Dengan Korut Untuk Berunding

BEIJING – Amerika Serikat mengatakan telah berbicara langsung dengan Korea Utara mengenai kegiatan nuklir dan perluru kendalinya. namun Pyongyang tidak menunjukkan minat untuk melakukan perundingan.

Proses komunikasi tersebut diungkapkan oleh Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson yang saat ini sedang melakukan perjalanan ke China. “Kami sedang menyelidikinya. Jadi, tunggu saja. Kami memiliki jalur komunikasi dengan Pyongyang. Kami tidak dalam keadaan suram,” kata Tillerson di Beijing, Minggu (1/10/2017).

Tellerson menyebut. pembicaraan terjadi secara langsung dan mengutip tentang dua atau tiga jalur AS yang terbuka untuk Pyongyang. Tujuan dari setiap dialog awal akan mencari tahu langsung dari Korut apa yang ingin mereka didiskusikan.

“Kami dapat berbicara dengan mereka, kami telah berbicara dengan mereka. Kami bahkan belum mendapatinya (kesepakatan) sampai sejauh ini ” tambah Menlu yang baru bertama kalinya melakukan lawatan ke China tersebut.

Dengan mencoba mengurangi ekspektasi, Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat mengatakan bahwa saat ini tidak ada tanda-tanda bahwa Pyongyang tertarik untuk melakukan pembicaraan.

“Pejabat Korut tidak menunjukkan indikasi bahwa mereka tertarik atau siap untuk melakukan pembicaraan mengenai denuklirisasi,” demikian juru bicara departemen luar negeri AS Heather Nauert.

Tillerson sebelumnya telah memberikan sedikit detail tentang pendekatan yang dilakukan AS. Pada 20 September, dia hanya mengakui telah melakukan komunikasi yang “sangat, sangat terbatas” dengan perwakilan PBB dari Pyongyang. Ketika ditanya tentang pernyataan Tillerson dan komunikasi yang mungkin ada antara Pyongyang dan Washington, juru bicara misi Korea Utara ke PBB mengatakan bahwa dia tidak dapat menjelaskan lebih jauh.

Sementara itu Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta kepada diplomat tertinggi negaranya untuk tidak menyia-nyiakan waktu bernegosiasi dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, yang dijulukinya “Pria Roket.”

“Saya mengatakan kepada Rex Tillerson, Menteri Luar Negeri kita yang luar biasa, bahwa dia menyia-nyiakan waktunya untuk bernegosiasi dengan Pria Roket Kecil,” kata Trump di Twitter

Pernyataan tersebut sebagai respon setelah Tillerson mengungkapkan bahwa Amerika Serikat secara langsung berkomunikasi dengan Korea Utara mengenai program peluru kendali nuklir namun Pyongyang tidak menunjukkan minat untuk berdialog. “Hemat energi Anda Rex, kita akan melakukan apa yang harus dilakukan!” tambah Trump.

Sebelumnya Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres meminta negara anggota menghindari perang dengan Korea Utara. PBB juga mengecam pemimpin dunia, yang menyebarkan ujaran kebencian kepada pengungsi untuk mendapatkan kuntungan politik.

Dua pasal pernyataan tersebut adalah kecaman tersirat Guterres kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang bersikap keras terhadap Pyongyang dan mengeluarkan beberapa kebijakan benci-pendatang.

Dalam pidato pertama pertemuan tahunan pemimpin 193 negara anggota di Sidang Umum PBB, sejak menjadi sekretaris jenderal pada Januari, Guterres mengatakan bahwa kemelut terkait Korea Utara harus diselesaikan dengan upaya politik, yang damai.  “Ini waktu tepat bagi pemimpin untuk menunjukkan sikap kenegarawanan, kita harus menghindari jalan menuju perang ” kata mantan perdana menteri Portugal itu.

Di tengah ketegangan terkait ambisi nuklir dan rudal kendali Korea Utara, yang ingin punya kemampuan membombardir Amerika Serikat dengan rudal kendali berhulu ledak nuklir, Trump sering mengeluarkan pernyataan ancaman aksi militer.

Guterres juga meminta ke-15 negara anggota Dewan Keamanan PBB untuk mempertahankan kesatuan sikap terkait Korea Utara. Lembaga tersebut baru saja menjatuhkan sanksi ke-sembilan terhadap Korea Utara sejak 2006. Dalam pidatonya, Guterres juga membahas soal pengungsi.

Mantan kepala badan pengungsi PBB itu mengaku “turut merasakan penderitaan saat menyaksikan bagaimana pengungsi dan pendatang dihina dan menjadi kambing hitam, serta melihat bagaimana tokoh politik justru memanfaatkan keadaan tersebut untuk mendapatkan keuntungan suara”.

Sementara itu Presiden AS Donald Trump menjatuhkan larangan perjalanan baru untuk warga dari Korea Utara, Venezuela serta Chad, menjadikannya delapan negara yang tercakup dalam daftar larangan perjalanan terbaru. Iran, Libya, Suriah, Yaman dan Somalia termasuk dalam daftar negara-negara yang terkena dampak dalam pengumuman baru yang dirilis kantor kepresidenan.

Pembatasan perjalanan terhadap warga dari Sudan ditingkatkan. Langkah-langkah tersebut membantu memenuhi janji kampanye yang dibuat Trump untuk memperketat prosedur imigrasi Amerika Serikat dan selaras dengan visi kebijakan luar negerinya “America First”. Berbeda dengan larangan asli presiden, yang memiliki batas waktu, kali ini larangan tersebut berlaku tidak terbatas. (Ant)

Lihat juga...