Warga Antusias Menonton Kembali Film G30S/PKI

JAKARTA – Antusias warga untuk menonton film pemberontakan G30S/PKI cukup tinggi. Hal tersebut bisa terlihat dari kegiatan pemutaran  film tersebut diberbagai daerah.

Di Jakarta walaupun ada beberapa wilayah yang sudah memutar atau menayangkan film tersebut, namun dibeberapa daerah lain Jakarta, pada Sabtu (30/9/2017) bertepatan dengan tanggal kejadian peristiwa tersebut masih banyak yang menggelar nobar.

Ketua RW 06 Kalibata Indah Ismed R. Syahalan menjelaskan, diadakannya acara gelaran nonton bareng pemutaran film G30S PKI yang sempat vakum kurang lebih 11 tahun tersebut bertujuan untuk pembelajaran bagi dirinya, anak-anak, generasi muda. Dengan harapan, agar hal itu tidak akan perrnah terulang kembali.

Dirinya berharap agar komunitas (PKI) tidak hidup kembali di negeri ini dan kita serahkan ke pemerintah. Dengan adanya acara nobar film ini mudah-mudahan dapat membangkitkan semangat kita bahwa PKI itu memang tidak boleh ada di Indonesia.

“Kita berharap jangan sampai PKI hidup lagi di negeri ini, dan jangan terulang kembali karena itu akan sangat menyakitkan sekali bagi bangsa Indonesia, sangat menyakitkan dan susah pada nantinya bangsa ini,” Jelasnya disela-sela kegiatan nobar di Halaman Kantor RW 06 Kelurahan kalibata Indah.

Warga kompleks Perumahan Kalibata Indah begitu antusias ikut nobar- foto : M Fahrizal

Gurmilang atau yang lebih akrab dipanggil Juwita Yani, anak ke empat dari alm. Jendral Ahmad Yani menceritakan bahwa setiap tahunnya dirinya dan saudara-saudara selalu menghadiri tahlilan yang diadakan oleh Kodam di lubang buaya.

Dan setelah sekian lama, dirinya maupun saudara-saudaranya bisa kembali hadir ditengah-tengah masyarakat atau warga yang saat ini sedang menyaksikan cerita sejarah yang sebenarnya tentang PKI.

Dalam testimoninya, Juwita Yani memberikan gambaran kejadian sesungguhnya sehari sebelum terbunuhnya ayah tercintanya dengan kejadian-kejadian dimana kita-kita (Juwita dan saudara-saudaranya) diisengi oleh ayah tercintanya, dan kemudian kedatangan Basuki Rahmat yang memberikan laporan tentang sudah gentingnya situasi di Jawa Timur.

“Kejadian-kejadian yang merupakan penanda akan terbunuhnya bapak tergambar dari adik bungsu yakni edy yang terbangun pada pukul 4 pagi mencari ibunya, pecahnya parfume yang kemudian bapak mengatakan bila ada yang bertanya kenapa kalian wangi, jawab saja ini wanginya bapak,”Jelasnya, Sabtu, (30/09/2017).

Edy putra bungsu Alm. Jendral Ahmad Yani, ikut menambahkan bahwa ketika dirinya terbangun terdengar kegaduhan di halaman luar, awalnya dirinya menganggap kegaduhantersebut merupakan  pergantian petugas jaga. Namun ketika dirinya lihat justru berbeda, yang dilihatnya orang-orang dengan menggunakan baret merah yang disebut Cakrabirawa, dan langsung memasuki ruangan belakang rumah.

Ketika pembantu rumah yang bernama Mbok Milah ingin membangunkan bapak, pasukan Cakrabirawa ikut masuk ke dalam rumah, bisa dikatakan lebih dari 100 orang dan langsung menyebar ke tiap sudut rumah.

Singkatnya ketika bapak menemui pasukan Cakrabirawa, mengatakan bahwa dirinya baru akan bertemu Presiden besok pagi jam 8, bukan dini hari. Sempat terjadi argumentasi sengit yang membuat bapak akhirnya memukul salah satu pasukan Cakrabirawa dan terjatuh.

“Film ini memang benar adanya tanpa ada rekayasa. Pembuatan film ini juga dilakukan dengan meminta izin kepada kita dan keluarga korban yang lainnya. Namun ada beberapa adegan ketika bapak debat dengan pasukan Cakrabirawa, di Film bapak merebut senjata, sedangkan aslinya bapak langsung memukul pasukan Cakrabirawa itu karena dianggapnya kurang ajar. Serta adegan dimana bapak ditembak dan diseret, dalam film bapak diangkat tangan dan kakinya,” jelasnya.

Acara nonton bareng film G30S PKI tidak hanya terdapat di Kompleks Perumahan Kalibata Indah, dibeberapa tempat seperti dipelataran atau tepatnya didepan jalan raya Masjid Nurul Ikhsan, jalan Kemuning 2, pejaten timur juga mengadakan nobar.

Beberapa ratus meter dari lokasi itu tepatnya Warung Garasi juga ikut mengadakan acara nobar Film G30S PKI.

“Saya menggelar acara nobar pertama untuk menghormati para pahlawan revolusi, kedua film ini juga untuk memberitahukan kita bahayanya PKI, ketiga ketika mengetahui banyak yang menggelar nobar film G30S PKI, saya juga ingin berpartisipasi dengan menggelar film yang oleh sebagian orang di anggap film kontroversi,” Jelas salah satu panitia penyelenggara di Masjid Nurul Ikhsan.

Lihat juga...