Bandara LIA Jadi Alternatif Kalau Aktivitas Gunung Agung Meningkat

MATARAM — Bandara Lombok Internasional Airpot (LIA) akan menjadi salah satu bandara alternatif jika aktifitas Gunung Agung Provinsi Bali meningkat yang dapat mengakibatkan bandara Ngurah Rai Bali sampai ditutup.

“Hasil rapat dengan Dirjen perhubungan, bandara LIA memang ditetapkan menjadi salah satu bandara peraliham alternatif termasuk bandara Surabaya dan Makasar,” kata General Manager LIA, I Gusti Ngurah Ardita di Mataram, Kamis (5/10/2017).

Tapi jangan lupa, Lombok termasuk daerah yang lokasi dekat dengan Provinsi Bali dan tidak menutup kemungkinan juga terkena dampak dari erupsi letusan Gunung Agung.

Meski demikian, ia memastikan hingga sekarang, aktivitas penerbangan dari dan menuju LIA masih berlangsung normal sebagaimana biasa, belum ada perubahan signifikan.

“Meski demikian antisipasi tetap dilakukan, sambil mengikuti proses monitoring yang dilakukan tim di Bali termasuk oleh BMKG,” katanya.

Ardita mengaku, menghadapi situasi tidak diinginkan akibat letusan gunung berapi, pihak telah pengalaman dari kasus erupsi Gunung Baru Jari Rinjani Lombok. Intinya prosesnya tidak ada yang berbeda, karena akibat letusan Gunung Baru Jari Lombok dulu, Bali juga terkena dampaknya.

Dikatakan, artinya kondisi seperti itu Angkasa Pura sudah punya standar SOP yang sudah dipersiapkan, dan kemudian sudah dimonitoring Dirjen perhubungan udara dan juga direktur Angkasa Pura I, termasuk telah melakukan pertemuan dengan komunitas bandara.

“Kalau terus dilakukan, karena ini peristiwa alam, Kejadiannya kapan kita tidak tahu, karena kondisi sekarang masih dikategorikan aktif tentunya kita tetap membuka komunikasi. Untuk krisis center sudah disiapkan,” katanya.

Sementara itu Gubernur NTB, Zainul Majdi mengajak berdoa, mudah-mudahan skala erupsi bisa mengecil dan tidak sampai membesar, karena itu mempengaruhi semua dan menyulitkan.

“Kita juga dengan Bali bersaudara, banyak warga kita yang hidup di Bali, demikian juga banyak warga Bali yang hidup di Lombok, banyak keluarga kita satu sama lain hidup bersama-sama,” sebutnya.

“Kemudian selama ini kita sudah mengirim tim dari tagana dan Dinas Sosial, ada tenda kita siapkan di sana, kita ikut membantu,” tambahnya.

Lebih lanjut ia menambahkan, tentu peran semua pihak ke depannya disesuaikan dengan perkembangan situasi di sana.

“Kita berharap situasi bisa kembali normal,” ucapnya.

Lihat juga...