Jembatan Dibangun, ke Sekolah Menyeberang Sungai Way Pisang

LAMPUNG – Fasilitas jembatan gantung dengan konstruksi tali sling baja dengan lantai terbuat dari papan kayu dan bambu yang ada di Desa Sukabaru sejak tahun 2000 dengan kondisi memprihatinkan mulai mendapat perbaikan oleh pihak pemerintah Desa Sukabaru Kecamatan Penengahan. Hal itu dilakukan setelah diusulkan oleh masyarakat selama bertahun-tahun.

Jembatan gantung selebar 2 meter dan panjang sekitar 25 meter yang melintas di Sungai Way Pisang tersebut menurut Jumadi, salah satu warga Desa Sukabaru tepatnya di Dusun Buring sudah berpindah dua kali sebelumnya, akibat rusak terkena banjir. Jembatan gantung pertama yang dibangun sekitar tahun 1970 selanjutnya dipindah pada tahun 1980 hingga tahun 2000 mendapat perbaikan secara permanen.

Jembatan yang dipergunakan oleh masyarakat sebagai akses melakukan aktivitas sehari-hari ke pasar, sekolah serta berbagai keperluan lain tersebut, akhirnya mulai dibongkar untuk pembangunan jembatan baru pada akhir bulan September 2017 dengan lebar jembatan sekitar 7 meter dan panjang sekitar 30 meter lebih di atas Sungai Way Pisang.

Jumadi mengungkapkan, dua pekan dalam proses pengerjaan jembatan permanen yang dikerjakan secara bertahap menggantikan jembatan gantung tersebut, berimbas warga tidak bisa melintas. Akibat belum adanya jembatan darurat yang disediakan oleh pelaksana proyek pembangunan jembatan tersebut. Warga serta sebagian anak-anak usia sekolah yang akan melakukan aktivitas di sekolah bahkan terpaksa melintas di sungai meski tetap was-was dengan kondisi musim hujan yang terus terjadi. Bisa berimbas banjir datang tiba-tiba.

Alif (10) salah satu siswa kelas 5 SDN 3 Sukabaru bersama siswa lain bahkan menyebut hampir selama dua pekan terpaksa harus melintasi sungai untuk pergi dan pulang sekolah. Bahkan selalu melepas sepatu yang akan dipakai sesampainya di sekolah. Alif menyebut selalu berangkat bersama rekan-rekan menyeberang melalui sungai karena jembatan yang biasa dipergunakan sedang diperbaiki.

Partu, warga Desa Sukabaru sekaligus anggota BPD Desa Sukabaru mendukung proses pembangunan jembatan baru pengganti jembatan gantung yang sudah rusak. [Foto: Henk Widi]
“Kalau berjalan melalui jalan lain kami harus memutar lebih jauh sehingga terpaksa menyeberang sungai asalkan tidak hujan dan banjir diperbolehkan orangtua. Sementara saat hujan diantar menggunakan motor sejauh dua kilometer,” terang Alif siswa SDN 3 Sukabaru yang ditemui Cendana News akan pulang sekolah dan melintasi Sungai Way Pisang, Jumat (6/10/2017).

Alif mengaku, masih tetap akan melakukan aktivitas berangkat sekolah menyeberangi sungai hingga awal tahun 2018 karena menurut informasi proses pembangunan jembatan tersebut akan berlangsung lama. Sementara jembatan darurat hanya disediakan dengan sebuah batang pohon medang sehingga anak-anak usia sekolah memilih menggunakan jalur lain berjarak sekitar 50 meter.

Proses pembangunan jembatan tersebut menjadi dambaan ratusan warga di Dusun Gunung Botol dan Dusun Laban serta Desa Sukabaru diakui oleh salah satu anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Sukabaru, Partu. Partu mengungkapkan, pembangunan jembatan yang melintas di Sungai Way Pisang tersebut bahkan sudah puluhan tahun diusulkan warga melalui pihak desa hingga ke kabupaten serta pernah ditinjau oleh Komisi C DPRD Lampung Selatan.

“Saya sebagai warga desa saat ini akhirnya bisa merasa lega karena usulan dan harapan yang sudah bertahun-tahun akhirnya bisa terealisasi meski pembangunan akan dilakukan secara bertahap,” beber Partu.

Keberadaan jembatan tersebut diakuinya sangat vital bagi masyarakat sebagai akses transportasi, distribusi barang hasil perkebunan dan pertanian, sehingga sudah sangat mendesak untuk dibangun. Karena juga tersambung dengan akses jalan yang telah dibangun sebelumnya dengan sistem rabat beton sepanjang 450 meter dan memudahkan kendaraan pengangkut hasil bumi melintas. Kendaraan antar jemput anak sekolah  diakuinya juga sudah bisa melintas di jalan rigid beton tersebut ditambah dengan jembatan yang tengah dibangun.

“Keberadaan jembatan tersebut harapannya bisa menghidupkan perekonomian masyarakat yang ada di dua desa. Sekaligus bisa mempermudah akses warga yang selama ini harus berjalan memutar,” terang Partu.

Selama ini diakuinya ongkos distribusi barang  lebih mahal karena terhalang sungai sehingga petani terpaksa mempergunakan jasa ojek pertanian. Setelah ada jembatan diperkirakan bisa memangkas biaya produksi petani yang selama ini lebih tinggi untuk ongkos pengangkutan.

Siswa sekolah terpaksa berjalan menyeberang sungai akibat tidak ada jembatan darurat selama proses pembangunan jembatan baru Sungai Way Pisang. [Foto: Henk Widi]
Lihat juga...