Kreativitas Budidaya Sayuran, Tingkatkan Ekonomi Keluarga

LAMPUNG – Memiliki lahan terbatas tidak lantas menyurutkan warga di Dusun Buring Kecamatan Penengahan untuk bisa memenuhi kebutuhan akan sayuran untuk kebutuhan sehari-hari sekaligus menjadi sumber pendapatan saat sayuran tersebut dijual ke pasar.

Mariam, warga Dusun Buring memanfaatkan lahan terbatas yang dimiliki untuk menanam sayuran jenis leuncak, bayam, tomat, sawi pahit serta berbagai sayuran lain yang sebagian ditanam di pekarangan dengan media tanah. Sebagian lagi menggunakan media bahan bekas kertas semen dengan limbah kayu gergajian dan kompos.

Pemanfaatan lahan terbatas untuk bertani menjadi aktivitas harian bagi Mariam karena saat ini konsumsi sayuran masih jadi kebutuhan sehari-hari bagi dirinya serta tetangga yang tinggal di wilayah tersebut. Selain memanfaatkan pekarangan, limbah sisa bungkus semen yang sudah tidak terpakai dimanfaatkan sebagai tempat budidaya tanaman sayuran jenis terong bulat, terong panjang serta bayam petik.

“Kami menanam sayuran sebagai sayur petik guna mengurangi pengeluaran. Sementara saat panen dalam jumlah besar hasilnya saya jual ke warung dan pedagang keliling untuk memperoleh uang,” terang Miriam, salah satu warga Dusun Buring Desa Sukabaru saat ditemui Cendana News tengah merawat tanaman sayuran di depan rumahnya, Senin (9/10/2017).

Budidaya jagung manis yang menambah ekonomi keluarga dengan usia tanam lebih pendek dilakukan Sabar. [Foto: Henk Widi]
Dibantu sang anak, Jumadi, proses penanaman sayuran yang dilakukan di pekarangan tersebut membuatnya kini menanam sebanyak 100 tanaman terong dan bayam dalam bungkus bekas semen serta ratusan polybag untuk menanam sayuran. Semua itu untuk kebutuhan sehari-hari dengan harga sayuran terong panjang dan terong bulat yang dijual Rp3 ribu per kilogram. Ia pun bisa memperoleh uang ratusan ribu sekali panen dari hasil penjualan sayuran yang ditanam pada lahan terbatas tersebut.

Bersama sang suami, Sabar, dirinya juga memanfaatkan lahan terbatas yang ada di depan rumah untuk bercocok tanam jenis jagung manis dengan hasil yang cukup lumayan dibandingkan dengan tanaman jagung biasa yang lebih lama proses penanamannya. Tanaman jagung manis yang dibudidayakan dalam lahan terbatas tersebut diakuinya kerap menghasilkan sekitar 500 kilogram dengan hasil Rp1,2 juta dengan harga Rp2500 per kilogram.

“Selain proses perawatan yang mudah dan panen yang lebih cepat budidaya jagung manis lebih menguntungkan karena bisa dijual lebih cepat,” terang Sabar.

Sabar menyebut jagung biasa umumnya berusia sekitar 120 hari siap panen. Sementara jagung manis hanya berusia sekitar 75 hari bisa dipanen dalam kondisi masih muda untuk kebutuhan sayur bening atau digunakan untuk jagung rebus dan jagung bakar. Keberadaan tempat wisata di wilayah tersebut di antaranya dekat dengan Menara Siger, berimbas permintaan akan jagung rebus dan jagung bakar cukup tinggi. Sebagian bisa dipasok dari lahan miliknya.

Ia menyebut, penanaman jagung manis tidak harus selalu banyak dengan rata-rata menghasilkan sekitar 500 kilogram dan ditanam secara berkelanjutan dengan tanaman sayuran lain di lahan pekarangan yang bisa memberinya penghasilan ekonomi bagi keluarga dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kreativitas dalam pemanfaatan lahan tersebut diakuinya selain memanfaatkan lahan sempit dengan penggunaan bekas kertas semen, pemanfaatan kompos juga dilakukan dalam segi pemasaran. Ia kerap menjual sayuran jenis terong dan jagung dalam bentuk kemasan dengan harga yang terjangkau warga. Selain dijual dalam kondisi masih segar, sayuran yang ditanam secara organik tersebut bahkan disukai oleh kaum ibu yang kerap membeli dengan sengaja. Datang langsung ke pekarangan dan kebun miliknya.

Jumadi merawat tanaman terong dan bayam dengan media bungkus semen dan polybag di depan rumah. [Foto: Henk Widi]
Lihat juga...