hut

Pembenci Bisma

CERPEN SARONI ASIKIN

“BISMA akan mati oleh seorang wandu pada suatu peperangan. Kau harus menyaksikan saat-saat kematiannya setelah kematianku, Grati. Dan arwahku akan tersenyum.”

Beberapa kali dia datang ke rumahku dan baru saat kedatangannya pada petang itu kudengar kata-katanya. Biasanya sejak datang hingga pergi lagi, mulutnya selalu terkunci. Juga selalu dengan pakaian warna jingga yang telah luntur, kusam, dekil, dan berbau daun busuk.

Mukanya yang sudah keriput itu juga selalu tampak muram. Tak sekali pun aku pernah melihatnya tersenyum. Kadangkala, ketika dirinya makan dan menyeruput teh, tetap tanpa kata-kata, aku memandangi wajahnya. Meskipun samar, aku melihat jejak keelokan di situ. Sesekali bila kami bersipandang, kulihat mata tuanya masih memperlihatkan riap keindahan. Hanya saja, aku menangkap nyala kenyalangan di dalamnya, bagaikan orang yang memendam suatu amarah.

Tapi entahlah. Aku tak merasa perlu membayangkan bahwa ketika seusiaku, dia dara yang molek. Aku juga tak merasa perlu membayangkan kemungkinan kisah hidupnya dipenuhi amarah terpendam. Aku lebih suka mengira dirinya hanya seorang sadhavi. Itu sebabnya Grati, ibuku, selalu menyambutnya dengan penuh hormat dan menjamu dengan makanan yang kami punya serta secawan kecil teh. Aku juga menunjukkan rasa hormatku kepadanya sebab kami diajari para pendeta untuk selalu menghormati para sadhu dan sadhavi. Juga para sanyasi dan sanyasini, swami dan swamini.

Aku tak ingat pasti apakah malam itu adalah kedatangan terakhirnya ke rumahku sebab aku tak terlalu memikirkannya. Rumahku sering didatangi orang-orang seperti dia. Mungkin karena itu pula aku tak pernah menanyakan jati dirinya kepada ibuku.

Lalu pada suatu malam ibuku menangis sambil berkata lirih, “Dia telah membakar dirinya di hutan, Salasika.”

Aku terdiam sebab aku tak tahu siapa yang dimaksud ibuku.

“Perempuan tua yang berbaju jingga, yang selalu kita suguhi penganan dan teh.”

Aku masih belum bisa menerka sebab seperti sudah kukatakan, rumahku sering didatangi orang-orang berpakaian jingga yang kebanyakan telah kusam warnanya.

“Yang menyebut nama Bisma. Ingat?”

Kali ini aku ingat.

“Namanya Amba,” ujar ibuku sembari mengusapi leleran air matanya. “Ayo Salasika, kita berdoa untuknya.”
***
SETELAH berdoa, sebuah cerita panjang mengalir dari mulut Grati, ibuku. Cerita itu membuatku bergedabikan di petilaman lantaran memikirkan Amba, perempuan yang puluhan tahun mengisi hidupnya dengan amarah dan dendam serta hanya punya satu keinginan: kematian seorang lelaki bernama Bisma. Rupanya itulah jawaban dari kesanku yang tebersit setiap memandangi wajahnya dan melihat kenyalangan pada kedua matanya.

Malam itu, di atas petilamanku cerita yang meluncur dari mulut ibuku seperti membentuk gambar-gambar hidup di langit-langit kamarku.

Lelaki yang disebut Bisma itu datang ke sayembara di Kerajaan Kasi sebagai wakil adiknya, Wicitrawirya. Di situ dia begitu digdaya dan mengalahkan hampir semua kesatria yang mendamba ketiga putri Raja Kasi.

Maka dia boyong ketiga putri itu ke hadapan sang adik. Amba, si sulung, menolak disunting Wicitrawirya sebab hatinya sudah terpaut pada Raja Salwa. Wicitrawirya meminta Bisma mengantar Amba ke Raja Salwa. Sang raja itu menolak Amba.

“Bisma telah mempermalukan aku dalam sayembara. Kau sudah milik Bisma, Amba. Aku mencintaimu dan kau mencintaiku, tapi aku raja yang sudah dikalahkan. Maka kau milik pemenang,” katanya.

Maka kepada Bisma, Amba berkata, “Jadikan aku istrimu.” Bisma menggeleng-gelengkan kepala. “Aku telah bersumpah melajang hingga mati. Aku kesatria, pantang menarik sumpah.”

Berlarilah Amba dalam kemarahan dan dendam. Dia pergi ke hutan-hutan, menyiksa diri. Dan di setiap tempat, di setiap pesanggrahan, di setiap pohon, di setiap daun, pada musim hujan, pada musim kemarau, selalu keluarlah kutuk pastunya: Bisma harus mati!

Orang-orang dari delapan penjuru angin mendengar kisah kesedihan dan penderitaan Amba. Rama Bargawa, si putra Jamadagni yang kapaknya serupa Dewa Maut, juga mendengarnya.

“Tapi Bisma itu siswaku.”

Kisah penderitaan Amba selalu datang kepadanya hingga pada suatu hari Sang Bargawa menemui Bisma.

“Jadikan Amba sebagai istrimu. Kubunuh kau bila menolak.”

“Tidak, Guru. Sahaya adalah lajang abadi. Guru sudah tahu sumpah sahaya.”

Maka berhari-hari keduanya bertarung. Tak ada yang kalah. Tak ada yang menang. Dan Bisma tetap pada sumpahnya.

Amba yang putus asa kembali berlari ke hutan-hutan. Kutuk pastu untuk kematian Bisma tetap digaungkan hingga pada suatu hari dia mendengar bisikan, “Pada suatu peperangan seorang wandu akan membinasakan Bisma.” Dia percaya bisikan itu. Kutuk pastunya mulai redam dan dia membakar tubuhnya di dalam hutan.

Ketika akhirnya kantuk itu datang, pertanyaan-pertanyaan ibuku setelah mengakhiri cerita terngiang kembali: “Salahkah Bisma menolak Amba karena bersumpah melajang hingga mati? Salahkah Wicitrawirya menerima Ambika dan Ambalika, tapi menolak kakak mereka yang mengaku telah menautkan cinta pada Raja Salwa? Salahkah Raja Salwa menolak Amba sebab perempuan itu telah dimenangkan oleh Bisma lewat sayembara? Salahkah Raja Kasi mengikuti kebiasaan dengan mengadakan sayembara untuk mencarikan jodoh putri-putrinya?”

Bagiku sebagai seorang dara, sayembara itu awal dari penderitaan Amba. Jadi yang kusalahkan adalah perjodohan lewat sayembara itu. Kalau kau tanyakan padaku, aku tentu saja akan memilih cara seperti yang dilakukan Savitri, putri Raja Aswapati, yang memilih jodohnya sendiri: Setyawan.
***
WAKTU berlalu tapi cerita tentang Amba dan Bisma, juga kata-kata Amba yang hanya sekali itu kudengar terus berenang-renang di dalam benakku.

“Bisma akan mati oleh seorang wandu pada suatu peperangan. Kau harus menyaksikan saat-saat kematiannya setelah kematianku, Grati. Dan arwahku akan tersenyum.”

Amba sudah mati dengan membawa dendam. Dan arwahnya pasti belum tersenyum sebab kudengar Bisma masih hidup di Astina. Lalu siapakah orang wandu itu? Benarkah Bisma yang bahkan bisa mengalahkan puluhan orang dalam sayembara, orang yang bisa menandingi kesaktian Rama Bargawa bakal bisa ditaklukkan oleh seorang wandu?

Kadangkala aku meragukan cerita ibuku tentang bisikan yang diterima Amba bahwa Bisma akan mati oleh seorang wandu. Mungkin Amba yang kelelahan menyimpan dendam, digerogoti penyakit dan ketuaan, sudah merasa sangat putus asa, lalu menyenangkan dirinya dengan membayangkan kematian Bisma. Ah, tidak! Kuhalau pikiran semacam itu. Sebab, jujur saja sejak ibuku bercerita, aku merasa seolah-olah penderitaan dan dendam Amba telah menjadi penderitaan dan dendamku juga. Entah kenapa. Tapi aku jadi sangat ingin menyaksikan kematian Bisma. Aku sangat ingin arwah Amba bisa tersenyum.
***
KESEMPATAN menjadi saksi atas kematian Bisma itu datang bersamaan dengan kabar mengenai Perang Barata di Padang Kuru, peperangan keluarga Kurawa dari Astina dan sekutu-sekutunya melawan keluarga Pandawa dari Indraprasta dan sekutu-sekutunya.

Kau tahu, aku, juga mungkin ibuku, tak peduli pada peperangan. Aku hanya mendengar mereka yang bertikai itu masih bersaudara dan saling memperebutkan singgasana Astina. Satu pihak menuntut hak atas singgasana, satunya mengukuhi singgasana yang konon bukan haknya. Aku tidak peduli pada ihwal seperti itu.

Tapi ada nama Amba dalam peperangan itu. Kedua pihak yang berperang adalah cucu Wicitrawirya. Satu dari garis Ambika, satunya dari garis Ambalika. Dan kedua perempuan itu adik Amba. Dan juga, ini yang kuanggap paling penting: ada nama Bisma di dalam peperangan. Sudah sejak beberapa waktu, aku telah menjadi pembenci Bisma. Karena itu, bila dia berada di pihak Astina, aku memilih memihak Indraprasta meskipun tentu saja aku tak akan turun ke palagan. Aku juga beroleh alasan lain untuk mendukung Indraprasta: aku orang Wirata, yang rajanya Sang Matswapati berpihak ke keluarga Pandawa, juga putri raja kami Utari yang dikawini Abimanyu dari keluarga Pandawa.

Meski begitu, aku tak akan memedulikan siapa yang bakal menjadi pemenang. Astina atau Indraprasta, terserahlah. Buatku yang terpenting, Bisma mati, oleh seorang wandu atau oleh siapa pun.

Lalu kepada ibuku kukatakan keinginanku untuk pergi ke Padang Kuru. Ibuku tentu saja langsung pucat wajahnya.

“Aku tak akan ikut berperang, Ibu. Aku hanya ingin memenuhi keinginan Nenek Amba yang pernah disampaikan kepada Ibu tentang penyaksian atas kematian Bisma. Ibu sudah tua, jadi biar aku saja yang ke sana.”

Ibuku tak berkata-kata. “Bila Ibu mengkhawatirkan anak dara sepertiku bepergian seorang diri, aku akan berpakaian dan merias diri sebagai seorang sadhavi. Lagi pula, Padang Kuru tidak jauh. Dengan menumpang pedati yang berangkat paling pagi, mungkin aku bisa sampai di sana pada saat matahari lingsir ke barat.”

Alih-alih mengucapkan kata-kata, justru air matanya meleler. Kupeluk dirinya. “Sejak Ibu bercerita tentang nenek Amba, aku merasakan penderitaannya sebagai penderitaanku. Itu sebabnya aku harus memenuhi keinginannya agar arwahnya bisa tersenyum, Ibu. Jangan khawatir, aku bisa menjaga diri. Mendiang Bapak sudah cukup memberiku bekal. Dan jangan lupa, Ibu, meski perempuan, aku memiliki darah kesatria. Lebih-lebih namaku Salasika, si pemberani. Dan dengan pakaian sadhavi, aku tak akan kesulitan mencari naungan bila harus beberapa hari di sana.”

Leleran air mata ibuku masih juga kulihat ketika keesokan harinya aku menumpang pedati menuju Padang Kuru. Seperti janjiku, aku pergi dalam ujud seorang sadhavi.
***
SEPERTI dugaanku, aku turun dari pedati ketika matahari lingsir ke barat. Aku masih harus melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. Tapi seperti kata kusir pedati, bila bergegas, aku akan sampai ke tepi palagan pada rembang petang.

“Itu saat yang tepat sebab perang akan dihentikan untuk dilanjutkan keesokan harinya. Sebagai kusir pedati, sahaya banyak menyimak cerita termasuk soal kesepakatan penghentian peperangan pada saat hari menjelang petang. Kalau boleh tahu, apa yang akan Puan cari di sana?” tanya kusir ketika kami masih dalam perjalanan.

Kupandangi sebentar wajah kusir pedati itu. Kupikir tak ada salahnya membuka sedikit rahasia kepergianku. “Aku ingin menyaksikan seorang wandu mengalahkan seorang kesatria besar.”

Kusir itu tertawa. “Puan sangat memercayai ramalan itu?”

Aku tak menjawab. Seorang wandu yang mengalahkan seorang kesatria besar mungkin dianggap semata ramalan atau khayalan kosong seorang perempuan tua yang patah hati. Aku juga pernah meragukan cerita ibuku mengenai hal itu.

“Sahaya juga pernah mendengar ramalan itu. Bisma akan mati oleh seorang wandu. Tapi seperti sudah sahaya katakan, sebagai kusir pedati, sahaya selalu mendengar warta tentang Perang Barata itu. Sudah beberapa hari ini Bisma menjadi Senapati Astina dan belum ada yang bisa mengalahkannya. Seorang wandu?” Ia tertawa lagi.

O Jagat Pramudita! Jadi sekarang ini Bisma sedang memimpin peperangan? Sebuah kebetulan. Kematian Bisma seolah-olah telah tergambar jelas di dalam benakku. Memikirkan itu, aku menggegaskan langkah.

Hari sudah petang ketika aku sampai di tepi Padang Kuru. Benar seperti kata kusir pedati, pada saat itu peperangan dihentikan. Di beberapa bagian Padang Kuru kulihat kesibukan orang-orang dari dua kubu yang sedang mengumpulkan mereka yang gugur, termasuk menyingkirkan bangkai kuda dan gajah serta kereta-kereta yang rusak. Kereta-kereta datang dan pergi untuk mengangkut mayat.

Di bawah sebatang pohon angsana, aku berdiri memandang ke keremangan palagan. Bulu kudukku merinding membayangkan arwah mereka yang telah gugur akan bergentayangan di palagan itu ketika kelam malam datang.

Tapi aku punya nama Salasika, si pemberani, dan sejak memutuskan pergi ke tempat perang berkecamuk, aku sudah membayangkan pemandangan serupa itu.

Di manakah di antara mayat dan bangkai kereta itu ada tubuh beku Bisma? Kuharap lelaki penyengsara Amba itu tersungkur di palagan dan jasadnya ada di antara mereka yang sedang dikumpulkan di suatu bagian di Padang Kuru.

Tanpa sadar aku melangkah menuju ke tengah palagan. Sejenak aku berhenti dan memikirkan kembali cerita kusir pedati bahwa hingga berhari-hari belum ada yang bisa mengalahkan Bisma. Dia terlalu kuat sebagai senapati. Jadi mustahil bila lelaki itu sudah terkapar. Dia mungkin sedang mengaso di tendanya.

Saat itulah aku melihat dua orang berlari dari arah selatan palagan. Arahnya menuju ke tempatku. Di belakang mereka kulihat jajaran tenda dengan pelita-pelita yang sudah dinyalakan. Kedua orang itu semakin dekat dan mulai kudengar teriakan-teriakan mereka yang menyuruhku untuk tidak masuk ke tengah palagan.

Begitu kami berhadapan-hadapan, salah seorang dari keduanya berkata, “Puan Sadhavi, siapa pun dilarang ke tengah palagan selama rehat pertempuran pada malam hari. Jadi, tolong menjauhi palagan!”

Aku hanya bergeming tapi dalam hati aku tertawa. Penyamaranku sebagai sadhavi rupanya sangat berguna. Kedua orang itu pasti prajurit, dan kalau arahnya dari selatan, mereka di pihak Indraprasta. Bayangkan, bila pakaianku bukan pakaian sadhavi, mereka pasti akan mencurigaiku sebagai salah seorang dari Astina. Tentu saja aku tahu bahwa perseteruan selalu berisi kecurigaan.

“Aku hanya ingin mencari mayat….”

“Maaf, Puan Sadhavi, tidak bisa. Peraturannya begitu. Pergilah, Puan….”

Aku membalikkan badan dan mulai melangkah untuk menjauhi palagan ketika kudengar salah seorang dari mereka memanggilku kembali.

“Maaf, Puan….”

Kembali aku membalikkan badan dan berhadapan dengan mereka.

“Maaf, Puan mencari mayat siapa? Indraprasta atau Astina?”

Meskipun diucapkan dengan lembut, aku tetap menangkap nada kecurigaan pada pertanyaannya. Tentu tak bagus bila aku mengatakan mayat yang kucari itu seorang dari Astina. Mereka Indraprasta dan bila yang kucari adalah mayat seorang Astina tentu mereka akan menganggap aku sebagai musuhnya juga. Tapi bukankah Bisma itu berada di pihak Astina?

Karena itu, kuganti alasanku. “Sebenarnya aku hanya ingin memastikan kematian seseorang yang bakal membuatku lega, Tuan Prajurit. Dia di pihak Astina.”

Salah seorang dari mereka tertawa. “Jadi Puan memihak Indraprasta?”

Aku tak menjawab.

“Kalau begitu, saya sarankan Puan ke Bulupitu. Di sanalah Astina berkubu. Tapi sekali lagi, pergilah dari sekitar palagan.”

Mereka hendak berlalu ketika aku mengucapkan, “Orang itu bernama Bisma, Senapati Astina.”

Mendengar itu mereka segera menghampiriku dan memandang lekat-lekat ke wajahku. Penuh selidik. Kuakui, tatapan mereka begitu tajam. Entah mengapa jantungku mendadak berdetak kencang ketika kusadari wajah salah seorang dari prajurit itu sangat tampan. Hmm, rupanya di balik penyamaran seorang sadhavi ini, Salasika tetap seorang gadis yang tengah mekar, yang bisa berdetakan jantungnya ketika berhadapan dengan pemuda tampan.

“Siapa sebenarnya Puan ini? Setahu sahaya seorang sadhavi tidak memihak mereka yang sedang berseteru.”

Karena kupikir sudah telanjur, dan kedua prajurit itu di pihak Indraprasta, dan aku mengira mereka juga membenci Bisma, maka kuceritakan saja yang sebenarnya. Tentu saja aku tidak menyebut jati diriku dan nama Amba, dan hanya menyinggung soal ramalan tentang Bisma yang bakal dibunuh seorang wandu.

“Aku hanya ingin membuktikan ramalan itu ketika mendengar Bisma maju perang sebagai senapati.”

Salah seorang dari mereka menghela napas. Lalu kata-katanya membuatku seolah-olah terlonjak ke angkasa. “Ramalan itu sudah terbukti, Puan. Kakek Bisma sudah dikalahkan oleh salah seorang dari kami. Namanya Sikhandi. Tentu saja sebagai prajurit rendahan sahaya tak mengenalnya. Tapi orang-orang bercerita dia kesatria wandu dari Pancala.”

O Jagat Pramudita! Saat itu kulihat di angkasa yang hitam ada wajah Nenek Amba yang menyunggingkan senyum.

“Tapi Kakek Bisma belum mangkat. Sahaya dengar Kakek ingin mengumpulkan dulu para pemuka kami dan pemuka Astina untuk mengucapkan kata-kata terakhir. Bagaimanapun mereka itu sesama cucu Kakek.”

Beberapa saat kami saling bergeming. Lalu kudengar lagi prajurit yang berwajah sangat tampan itu berkata lagi, “Jadi Puan sudah membuktikan kebenaran ramalan itu. Silakan Puan menjauhi palagan.”

Kuucapkan terima kasih dan menanyakan apakah aku bisa menemui atau setidak-tidaknya mendekat ke tempat Bisma menunggu saat-saat terakhirnya. Prajurit yang sangat tampan itu hanya menggeleng-gelengkan kepala, tapi setelah menarik napas panjang, dia berkata, “Tempatnya di tepi sebelah sana.”

Aku melihat arah yang dia tunjukkan. Hanya keremangan. Dan di dalam keremangan di tengah palagan itu mataku menangkap sosok yang bergerak-gerak, agak jauh dari orang-orang yang terlihat menggotongi mayat. Kupicingkan mata agar lebih awas. Samar-samar terlihat sosok itu terbungkuk-bungkuk lalu berhenti untuk berjongkok. Pada saat itulah salah seorang prajurit di dekatku berteriak, “Drubiksa! Penjarah bandel itu lagi.”

Kemudian kepadaku dia berkata, “Baiklah, kalau Puan mau ke tempat Kakek Bisma, sahaya sarankan Puan tidak melintasi palagan. Puan bisa disangka penjarah mayat seperti dia. Sebaiknya Puan berjalan memutar. Tapi sahaya tidak tahu jalur-jalurnya. Silakan Puan, tapi jangan sekali-sekali melintasi palagan. Sekarang kami harus bersicepat memburu penjarah bandel itu.”
***
CAHAYA bulan menjelang purnama dan serakan bintang-bintang di langit membantu langkahku dalam kekelaman malam. Pakaian sadhavi ini juga benar-benar punya daya untuk menghindarkan aku dari kecurigaan. Dalam masa peperangan, siapa pun yang berkeliaran pada malam hari bisa mengundang kecurigaan. Kenyataannya, beberapa kali aku berpapasan dengan orang, sebagian di antaranya adalah prajurit yang entah dari kubu mana, tapi semuanya menyapaku sebagai sadhavi.

Ketika aku melihat sebuah pelita menyala di salah satu tepi palagan pada arah yang ditunjukkan prajurit tampan itu, dan orang-orang meriung di sekitarnya, hatiku bersorak. Aku sangat yakin di situlah Bisma sedang ditunggui para cucunya. Aku berhenti sebentar dengan memicing-micingkan mata ke tempat orang-orang itu meriung ketika kudengar langkah kaki dan tetak tongkat di tanah dari arah belakangku. Aku menoleh dan seseorang terbungkuk-bungkuk ke arahku.

Ketika jarak kami semakin dekat, aku mengenali orang itu seorang sadhu. Ah tidak, dia seorang perempuan, jadi dia sadhavi. Mengingat diriku yang sejatinya bukan sadhavi, jangan-jangan dia sejatinya bukan sadhavi juga. Dia berhenti sejenak, memandangku tajam-tajam, dan menggumamkan kalimat yang kutangkap dengan jelas, kata per kata.

“Kenapa menyiksa diri dengan pakaian sadhavi? Kenapa menyiksa diri dengan dendam abadi?”

Dia berlalu, terbungkuk-bungkuk melintasiku. Aku bergeming, gemetaran menyimak ucapannya dan sangat yakin dia seorang sadhavi sejati. Dia orang yang bisa membaca kisah orang lain. Aku tahu, bukan dirikulah yang dituju oleh pertanyaannya. Dia membuka rahasia tentang Amba, yang juga menyiksa diri dengan pakaian sadhavi dan dendam abadi.

Aku kembali melangkah ketika bayangan sang sadhavi itu tak lagi kulihat. Aku lalu berhenti di bawah sebatang pohon ketika kupikir dari situ aku bisa melihat ke tempat berpelita di tepi palagan.

Seseorang terbaring dan di sekitarnya beberapa orang duduk bersimpuh sambil menundukkan kepala. Terbaring? Ah, bukan. Ketika aku menajamkan mata, aku melihat puluhan anak panah menyangga tubuh orang yang terbaring itu. Bismakah dia?

Ya, aku harus percaya ucapan prajurit Indraprasta yang tampan itu bahwa sosok yang terbujur di atas ranjang anak panah itu lelaki yang telah puluhan tahun menyengsarakan Amba.

Kulihat langit. Bulan terlihat semakin terang sinarnya. Kalau kau bertanya apa yang kulihat di langit, dengan mantap kujawab: di antara serakan bintang-bintang kulihat wajah tua dan lelah Amba itu tersenyum. ***

Catatan:

Sadhavi: sosok perempuan atau orang suci dalam kepercayaan Hindu yang biasanya berjubah jingga. Jika lelaki disebut sadhu.

Sanyasini: perempuan yang meninggalkan hal-hal duniawi, melajang, dan biasanya hidup dengan bertapa. Sebutan untuk yang lelaki adalah sanyasi.

Swamini: sebutan untuk guru perempuan di biara. Untuk lelaki sebutannya swami.

Drubiksa: setan. Sering dipakai sebagai umpatan.

Dalam Mahabharata karya Vyasa, pembunuh Bisma dalam peperangan adalah Sikhandi, seorang kesatria wandu dari Kerajaan Pancala. Sikhandi dalam versi pewayangan Jawa disebut sebagai perempuan bernama Srikandi yang sering pula disebut sebagai salah seorang istri Arjuna. Dalam cerita ini, saya mengacu ke karya Vyasa.

Saroni Asikin, lahir di Brebes 17 Agustus 1971. Alumnus Pendidikan Bahasa Perancis IKIP Semarang (kini Universitas Negeri Semarang). Menulis karya sastra seperti sajak, cerpen, dan novel.  Menerjemahkan novel Surga Sungsang (Upside-Down Heaven) karya Triyanto Triwikromo (Gramedia, 2015). Buku tersebut ikut dalam Frankfurt Book Fair 2015. Sejak 1997 bekerja sebagai jurnalis.

Redaksi menerima kiriman cerpen dari pembaca. Tema bebas yang pasti tidak SARA. Lengkapi naskah dengan fotokopi identitas diri dan nomor ponsel. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!

Mersin escort

»

bodrumescort.asia

»

Escort Adana bayan

»

Mersin türbanlı escort Sevil

»

Mersinde bulunan escort kızlar

»

storebursa.com

»

maltepeescort.org

»

Kayseri elit eskort

»

Eskişehir sınırsız escort

»

Eskişehirde bulunan escort kızlar

»

samsuni.net

»

Escort Adana kızları

»

eskisehir eskort

»

adana eve gelen escort

»

adana escort twitter

»

adana beyazevler escort

»

http://www.mersinindex.com

»

pubg mobile hileleri

»

Nulled themes

»

www.ankarabugun.org

»

www.canlitvtr.net

»

escort izmir

»
escort99.com