70 Persen Budidaya Ikan Lokal tak Sesuai Standar Restoran

YOGYAKARTA – Pelaku usaha perikanan di kawasan Widodomartani, Ngemplak, Sleman, menyebut 70 persen ikan nila konsumsi yang dihasilkan para petani lokal tidak memenuhi syarat kualitas atau standar ukuran konsumen. Hal itu membuat mereka memilih mendatangkan ikan nila konsumsi dari luar daerah seperti Jawa Tengah untuk memenuhi kebutuhan pasar baik warung makan maupun restoran.

Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan (KPI) Mina Tunas Baru, asal Kabunan, Widodomartani, Ngemplak, Sleman, Totok Winarto (60), mengatakan 70 persen ikan nila konsumsi yang dihasilkan petani lokal cenderung kurus. Hal itu dikarenakan pemberian pakan dilakukan tidak sesuai standar dengan alasan untuk menekan biaya. Akibatnya para konsumen seperti warung makan maupun restoran pun enggan membeli ikan hasil budidaya petani lokal.

“Petani disini mayoritas memelihara ikan hanya untuk sambilan. Mereka biasanya masih memiliki pekerjaan lain. Sehingga pemberian pakan pun tidak sesuai standar. Padahal itu sangat berpengaruh pada pertumbuhan dan berat ikan,” katanya, belum lama ini.

Menurut Totok, sejumlah konsumen seperti restoran atau rumah makan biasanya sudah memiliki standar berat ikan yang dibeli. Mereka akan komplain ikan konsumsi yang dikirim tidak sesuai dengan kriteria berat atau ukuran yang ditetapkan. Hal ini menjadi sangat penting karena berpengaruh pada hitungan penjualan ikan saat dijual dalam kondisi matang.

“Karena belum sesuai standar itu, maka anggota KPI Mina Tunas Baru termasuk 80 petani ikan binaan saya arahkan untuk tidak memelihara ikan hingga siap dikonsumsi. Tapi hanya pembesaran dari larva menjadi bibit ukuran 2 jari. Sedangkan untuk pemebesaran hingga siap dikonsumsi, kita lemparkan ke daerah Jawa Tengah, seperti waduk Wediombo dan Gajah Mungkur,” katanya.

Totok, melalui KPI Mina Tunas Baru sendiri mengaku bisa menghasilkan sebanyak 2,5 larva ikan nila dari lahan seluas 1,5 hektar. Larva ikan nila itu kemudian ia pasok ke sejumlah pembudidaya lokal untuk dibesarkan hingga berukuran 2 jari. Dalam kurun waktu 2 bulan, bibit ikan nila berukuran 2 jari itu kemudian ia kirim ke waduk Wediombo dan Gajah Mungkur, Jawa Tengah, untuk pembesaran hingga siap dikonsumsi.

“Nanti setelah siap dipanen, ikan ukuran konsumsi itu baru saya setor ke rumah-rumah makan, warung atau restoran di sekitar kawasan Ngemplak dan sekitarnya. Saat ini rata-rata mencapai 7 kuintal per hari. Masih jauh jika untuk memenuhi kebutuhan atau permintaan yang mencapai 4 ton per hari,” katanya.

Totok yang merupakan salah satu penggerak petani ikan nila di kawasan Widodomartani, Ngemplak sendiri mengaku terus berupaya untuk menyadarkan petani lokal agar secara serius menekuni bisnis budidaya ikan nila. Karena menurutnya jika dikelola dengan baik bisnis ikan nila akan menghasilkan keuntungan yang besar. Salah satunya dengan mengedukasi dan mendampingi para petani binaannya.

“Mestinya kan memang kita para pembudidaya atau petani yang harus mengikuti pasar. Bukan pasar yang mengikuti kita,” katanya.

Kolam pembudidayaan ikan nila di Sleman. Foto: Jatmika H Kusmargana
Lihat juga...