Ada Campur Tangan Rusia Dalam Referendum Katalunya

59
Ilustrasi Catalonia – Dokumentasi CDN

BRUSSELS – Madrid mempercayai informasi keberdaan kelompok bermarkas di Rusia menggunakan media sosial untuk gencar memromosikan referendum kemerdekaan Katalunya.  Referendum yang berlangsung beberapa waktu lalu adalah upaya mengacaukan Spanyol.

Menteri pertahanan Spanyol Maria Dolores de Cospedal mengatakan, mereka memiliki bukti bahwa kelompok Rusia pada jajaran swasta dan negara bagian, serta kelompok di Venezuela, menggunakan Twitter, Facebook dan laman lain untuk gencar menyiarkan alasan pemberontakan tersebut. Kelompok tersebut  mengarahkan pendapat umum di baliknya menjelang referendum pada 1 Oktober.

” Terdapat kelompok publik dan swasta, yang mencoba untuk mempengaruhi situasi dan menciptakan ketidakstabilan di Eropa. Yang kami ketahui pada saat ini adalah bahwa yang terjadi itu sebagian besar berasal dari wilayah Rusia,” kata Maria Dolores de Cospedal, Senin (13/11/2017).

Ketika ditanya apakah Madrid yakin akan tuduhan tersebut, Menteri Luar Negeri Spanyol Alfonso Dastis, yang juga hadir pada pertemuan tersebut mengatakan pihaknya memiliki bukti.

Dastis mengatakan Spanyol telah mendeteksi akun palsu di media sosial, setengahnya ditelusuri kembali ke Rusia dan 30 persen lagi ke Venezuela. Diduga kuat pembuatan akunt palsu tersebut memperkuat keuntungan yang disebabkan oleh separatis dengan menerbitkan kembali pesan dan kiriman.

Anggota Parlemen Uni Eropa untuk partai PDeCat Ramon Tremosa, mengulangi pernyataan sebelumnya, menegaskan bahwa tidak ada campur tangan Rusia dalam referendum yang digelar masyarakat Katalunya.

“Mereka yang mengatakan bahwa Rusia membantu Katalunya adalah mereka yang telah membantu armada Rusia dalam beberapa tahun terakhir, terlepas dari boikot UE,” demikian cuitan Tremosa, merujuk laporan media Spanyol bahwa Spanyol mengizinkan kapal perang Rusia untuk melakukan pengisian bahan bakar di pelabuhannya.

Mereka yang mengikuti pemungutan suara dalam referendum memilih kemerdekaan. Namun jumlah pemilih hanya sekitar 43 persen, karena orang-orang Katalan yang mendukung bagian Spanyol yang tersisa kebanyakan memboikot pemungutan suara tersebut.

Pemungutan suara separatis telah menjerumuskan Spanyol, ekonomi terbesar keempat zona euro, ke dalam krisis konstitusional terburuk sejak kembali ke demokrasi pada 1970-an.  Dastis mengatakan bahwa dia telah membahas masalah ini dengan Kremlin.

Moskow telah berulang kali membantah adanya gangguan tersebut dan menuduh Barat melakukan kampanye untuk mendiskreditkan Rusia. NATO percaya bahwa Moskow terlibat dalam strategi perang informasi dan disinformasi, yang sengaja dibuat mendua untuk memecah Barat dan merusak persatuannya mengenai sanksi ekonomi, yang diberlakukan di Rusia, setelahpencaplokan Krimea pada 2014. (Ant)

Komentar