Atasi Kejenuhan Lahan, Tiga Komoditas Ditanam Bergantian

Editor: Satmoko

47
Sulistyanto Pandu, petani asal desa Cangkring, Sumberagung, Jetis, Bantul. Foto: Jatmika H Kusmargana

YOGYAKARTA – Sebagai upaya menjaga kondisi kesuburan tanah/lahan pertanian, seorang petani asal Bantul menerapkan pola tanam dengan menggunakan 3 jenis komoditas pertanian berbeda dalam setiap tahun. Tiga komoditas pertanian itu adalah padi, palawija dan holtikultura.

Penerapan pola tanam dengan memanfaatkan 3 komoditas tanaman pertanian berbeda secara bergantian ini, diyakini dapat mengurangi kejenuhan tanah yang berakibat pada penurunan tingkat kesuburan tanah di lahan pertanian.

Adalah Sulistyanto Pandu, petani asal Desa Cangkring, Sumberagung, Jetis, Bantul. Anggota Majelis Pertimbangan Karang Taruna Bantul ini sudah uji-coba hal tersebut sejak beberapa waktu terakhir.

“Selama ini kejenuhan tanah itu terjadi karena penanaman satu komoditas pertanian secara terus menerus. Apalagi jika komoditas itu membutuhkan pemupukan kimia dalam jumlah banyak. Akibatnya tanah menjadi tidak subur,” katanya kepada Cendana News, Rabu (15/11/2017).

Karena itulah, menurutnya, diperlukan variasi pola penanaman komoditas berbeda setiap tahun. Yakni agar kejenuhan tanah akibat penggunan pupuk kimia dapat berkurang.

Di lahan seluas kurang lebih 6000 meter persegi, ia menanam tiga komoditas pertanian yakni padi, palawija dan holtikultura. Padi ditanam saat musim penghujan karena merupakan tanaman yang membutuhkan ketersediaan air melimpah.

Setelah panen, pada musim tanam berikutnya ia tidak kembali menanam padi. Melainkan menanam tanaman palawija, yakni cabai dan kembang kol. Setelah masa produksi tanaman cabai selesai, lahan akan kembali ditanam palawija. Ia memiliki 3 pilihan jenis tanaman, yakni gambas, kacang panjang atau pare.

“Tinggal kita pilih mana komoditas tanaman yang sekiranya memiliki nilai jual tinggi,” ujarnya.

Setelah itu ia kemudian menanam tanaman holtikultura berupa pepaya calivornia. Komoditas ini dipilih karena dalam proses produksinya tidak membutuhkan pupuk kimia sama sekali. Melainkan pupuk organik yang dapat memperbaiki kondisi tanah.

“Dipilih pepaya agar tanah tidak mengalami kejenuhan. Karena untuk pepaya 80 persen pupuknya merupakan pupuk organik yakni pupuk kandang. Jadi bisa sekaligus untuk perbaikan kondisi tanah,” jelasnya.

Selain bermanfaat menjaga tanah dari kejenuhan, penerapan pola tanam dengan 3 jenis komoditas pertanian berbeda ini juga dinilai dapat menjadi cara alternatif menghasilkan komoditas selain padi yang memiliki nilai jual tinggi.

 

Komentar