Bank Syariah NTB Diminta Hati-hati Kelola Dana

Editor: Satmoko

75
Kepala Otoritas Jasa Keuangan NTB Falatehan/Foto: Turmuzi

MATARAM – Bank Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai hari ini resmi berstatus sebagai bank syariah setelah melakukan konversi dari status sebelumnya sebagai bank konvensional.

Menurut Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) NTB, Falatehan, selain memiliki konsekuensi tertentu dalam hal prinsip pengelolaan keuangan nasabah, juga terkait layanan, termasuk dalam aspek lain yang menyangkut kebijakan dan produk layanan yang diberikan kepada masyarakat.

“Tapi lebih penting lagi, dalam pengelolaan keuangan nasabah atau masyarakat, bank tersebut diminta senantiasa mengedepankan prinsip kehati-hatian,” kata Falatehan di acara sosialisasi perubahan usaha Bank NTB menjadi Bank Syariah di Mataram, Rabu (15/11/2017).

Prinsip kehati-hatian sangat penting, mengingat dana yang dikelola dan dihimpun bukan dana satu dua orang, tapi dana masyarakat yang telah mempercayakan sebagai tempat menyimpan uang.

Karena itu pula juga akan menjadi pertaruhan reputasi dan kepercayaan masyarakat kepada Bank NTB Syariah, apakah konversi yang dilakukan akan semakin meningkatkan kepercayaan melalui pelayanan, apakah memuaskan atau tidak.

“Untuk memastikan itu, OJK dalam hal ini akan terus memantau bagaimana bank tersebut beroperasi, termasuk memantau dari sisi IT, SDM sudah siap atau tidak, jangan sampai training dilakukan pas launching termasuk terkait akuntansi,” katanya.

Ditambahkan, OJK tentu sangat mendukung dan mendorong dinamika keuangan syariah di NTB, karena juga merupakan program dari OJK.

Ia juga meminta bank NTB Syariah bisa lebih banyak melakukan sosialisasi untuk meningkatkan pemahaman kepada masyarakat mengenai produk dan keunggulan yang ditawarkan. Sebab tidak semua masyarakat tahu, supaya bank NTB syariah bisa menjadi lebih baik lagi.

“Bisa sukses kalau masyarakat termasuk semua pemangku kepentingan bisa mendukung,” ujarnya.

Kepala Bank Indonesia NTB, Priyono mengatakan, dengan adanya konversi bank NTB dari konvensional menjadi syariah, proses transformasi harus bisa lebih baik.

Seperti halnya OJK, Priyono juga mengingatkan jajaran bank NTB Syariah supaya benar – benar memperhatikan asas perbankan yang sehat dengan prinsip kehati-hatian. Ibarat sebuah rumah, sudah dipagari, tembok, kawat, lampu, lengkap. Seperti itu jugalah perbankan.

Selain itu, ada dua aspek yang harus diperhatikan, yaitu aspek eksternal dan internal. Aspek eksternal, yaitu membangun pemahaman berbagai pihak menjadi faktor penting agar proses transformasi bisa berjalan dengan baik dan lancar serta tidak menimbulkan masalah.

“Peran tokoh agama pun penting untuk ikut mengawal dan memberikan masukan terkait pengelolaan keuangan nasabah berdasarkan prinsip syariah, supaya tidak keluar dari jalur yang telah ditentukan,” imbuhnya.

Priyono juga meminta supaya jajaran bank NTB Syariah bisa memberikan pemahaman kepada masyarakat, bahwa bank NTB Syariah tidak hanya untuk umat Islam, tapi bersifat universal bagi semua agama dan umat.

Penyiapan SDM berkualitas, termasuk aspek kultur, menjadikan transformasi bisa berjalan dengan baik dan berhasil. Begitu pula dengan aspek teknis, ada teknologi informasi, pengembangan produk layanan syariah, yang bisa menarik minat masyarakat.

Komentar