Belasan Warga Terdampak Proyek ‘Double Track’ Berharap Santunan

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

66
Alat berat digunakan untuk meratakan lahan yang sebelumnya digunakan untuk permukiman warga/Foto: Harun Alrosid

SOLO — Belasan warga yang tinggal di bantaran rel Kereta Api (KA) di sepanjang Stasiun Solo Balapan sampai Stasiun Jebres, dipastikan akan terkena proyek pengembangan jalur KA atau doble track.

Warga yang sudah tinggal selama bertahun-tahun itu, meski mengakui selama ini tinggal di atas tanah milik PT KAI, mereka tetap berharap ada santunan.

“Saya ini sudah tinggal enam tahun lebih. Kalau diminta pindah ya siap, karena memang kita tinggal di tanah yang bukan milik kita. Tapi untuk membongkar rumah juga perlu waktu dan tenaga. Harapannya ada sedikit tali asih atau sekedar uang lelah untuk bongkar rumah,” ucap Sri Handayani, salah satu warga yang rumahnya terancam dibongkar, Selasa (14/11/2017).

Baca juga: Peringatan Hari Pahlawan, Veteran Gratis Naik Kereta Api

Warga RT 1, RW 10 Kelurahan Jagalan, Kecamatan Jebres itu mengaku, sejauh ini warga sudah pernah disosialisasi terkait adanya proyek pengembangan jalur KA terebut. Hanya saja, pertemuan yang sudah dilakukan lebih dari satu bulan itu tidak pernah ada pertemuan lagi.

“Dalam rapat itu ada yang mengungkapkan, katanya nanti ada uang ganti lelah atau santunan guna bongkar rumah. Tapi hingga sekarang belum tahu kejelasannya,” lanjut dia.

Sejauh ini, sebagian warga sudah mulai membongkar rumah miliknya, karena proyek pengembangan doble track KA itu sudah mulai berlangsung. Bahkan, sejumlah alat berat juga sudah berada di dekat tempat yang dijadikan permukiman oleh warga. Perempuan 56 tahun itu mengaku sudah menyiapkan lahan yang akan dibangun rumah sebagai tempat tinggal pengganti.

“Tapi masih terkendala uangnya. Bangunannya juga masih berdiri di rumah yang lama, toh belum dibongkar juga,” aku perempuan yang mengaku bekerja sebagai penjualan wedangan itu.

Hal serupa dikatakan Kusraharjo, warga lain yang juga rumahnya terancam dibongkar, karena menempati laham mlik PT KAI. Menurut dia, setidaknya terdapat 16 rumah yang ada di kampungnya, yang terkena dampak proyek milik Kementerian Perhubungan tersebut.

Kendati demikian, belum banyak warga yang sudah membongkar rumah, karena masih dipusingkan dengan tempat tinggal yang akan ditempati selanjutnya.

“Kami sangat berharap ada sedikit uluran tangan, meski kami mengetahui jika kami tinggal hanya menumpang saja. Tapi untuk bisa bongkar rumah dan harus pindah kemana kami belum punya lahan dan uang,” katanya.

Sri Handayani, salah satu warga yang rumahnya terdampah proyek doble track KA/Foto: Harun Alrosid

Warga pun ditarget, akhir November harus sudah membongkar rumah mereka, karena proyek doble track sudah sampai di permukiman warga. Hingga saat ini, warga masih banyak yang bingung harus tinggal dimana.

“Sementara, jika tidak segera dibongkar, warga juga takut karena akan dibongkar paksa. Kami juga belum berani minta kejelasan, apakah santunan itu cair atau tidak,” tandasnya.

Baca juga: Baku-Tbilisi-Kars Segera Dilayani Kereta Api

Sementara itu, Humas PT KAI Daop VI Yogyakarta, Eko Budianto saat dikonfirmasi Cendana News, tidak berani memberikan kepastian akan adanya santunan. Pasalnya, proyek doble track itu langsung ditangani oleh Kementerian Perhubungan.

“Waduh itu proyek Kemenhub Direjen KA. Termasuk ada tidaknya santunan itu juga langsung pusat,” jawabnya melalui pesan singkat.

Komentar