Catatan untuk ‘Merah Putih Memanggil’: Edukasi dari PatriotismeTNI

Editor: Irvan Syafari

55
Adegan Film ‘Merah Putih Memanggil’ /Foto TeBe Silalahi Pictures /Akhmad Syeku.

JAKARTA — Akhir-akhir ini film yang bertemakan kiprah TNI menjadi tema. Setelah ‘Pasukan Garuda: I Leave My Heart in Lebanon’, muncul ‘Merah Putih Memanggil’. Kehadiran film-film ini memberikan nuansa kepada penonton bagaimana sebetulnya dedikasi para prajurit TNI. Kedua film ini diproduksi TeBe Silalahi Pictures ini. Jejak karya sebelumnya, ‘Toba Dreams’ (2015).

Terutama ‘Merah Putih Memanggil’ mendapat dukungan penuh dari korps-nya. Film dengan judul patriotis, ‘Merah Putih Memanggil’, ini digagas oleh T.B. Silalahi, purnawirawan TNI dan mantan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara di Kabinet Pembangunan VI, yang juga gemar berkarya. ia menulis cerita, menulis skenario dan sekaligus menjadi produser eksekutif.

Yang menarik ‘Merah Putih Memanggil’aktual dengan isu kedaulatan terutama di daerah perbatasan. Kisahnya tentang kasus pembajakan kapal pesiar dengan bendera Indonesia. Pembajakan dilakukan oleh teroris bernama Diego (Ariyo Wahab). Diego menyandera kapten beserta penumpang kapal di sebuah daerah misterius. Isu ini mengingatkan pada peristiwa yang melibatkan kelompok di Fillipina Selatan.

Dalam ‘Merah Putih Memanggil’, diigambarkan kasus pembajakan kapal membuat TNI tidak tinggal diam. Mereka mengutus regu penyelamatan di bawah pimpinan Kapten Nurmantyo (Maruli Tampubolon). Deretan strategi disusun demi kelancaran operasi penyelamatan.

Kapten Nurmanto beserta anak buah hanya memiliki waktu 48 jam untuk menyelamatkan sandera. Awalnya usaha mereka berjalan lancar. Beberapa sandera berhasil diselamatkan.
Namun lambat laun, operasi mereka tercium oleh Diego. Teroris kejam ini memerintahkan ratusan anak buah untuk menyerang pasukan TNI. Mampukah TNI menyelamatkan para sandera dan membawa mereka pulang?

Film ini memperlihatkan aksi Navy Seals-nya Indonesia dengan cukup cermat memanfaatkan plotnya untuk diiringi pameran Alutsista (Alat Utama Sistem Pertahanan) berupa persenjataan yang digunakan TNI dalam tujuan pertahanan negara.

Dalam hal ini, ‘Merah Putih Memanggil’ menjadi film lokal pertama yang mengangkat sisi pamerannya secara live serta komprehensif, tapi bisa membentuk paduan pas buat mengiringi plot penyelamatan sanderanya.

Menariknya, treatment soal operasi dan usaha penyelamatan di atas konflik TNI dengan teroris-terorisnya. Ada detil-detil tentang usaha taktikal militer melintasi jurisdiksi dengan menanggalkan identitas dan atribut lainnya, yang juga berdampak ke sempalan konflik internal di pihak musuh. Semua dimunculkan dengan baik dan sangat terlihat berada di bawah supervisi dan pengaturan langsung dari korpsnya.

Sayangnya, beberapa efek visual film ini terkesan berlebihan, yang itu tentu membuat sejumlah adegan kurang mampu memacu adrenalin penonton.

Terlepas dari kelemahan itu, apresiasi pada T.B. Silalahi dalam dunia perfilman patut diberikan. Film-film yang diproduksinya memberikan alternatif tontonan terbaik yang sekaligus menjadi tuntunan edukatif.

Komentar