hut

Cuaca Bersahabat, Berkah Pencari Kerang di Lampung

LAMPUNG — Kondisi cuaca yang cukup bersahabat dengan angin yang tak terlalu kencang, gelombang landai di perairan pesisir Timur Lampung Selatan, membawa berkah bagi nelayan pencari kerang bulu, kerang putih dan kerang hijau budi daya serta pembudidaya rumput laut jenis kotoni putih.

Sarjum (45), salah satu nelayan pencari kerang putih dan kerang bulu di gusung pantai Desa Legundi, Kecamatan Ketapang, mengakui kondisi cuaca cukup bersahabat dan kondisi air sedang surut, sehingga dirinya bisa berjalan kaki ke lokasi pencarian kerang menggunakan jaring dan keranjang khusus berpelampung.

Sarjum menyebut, dengan kondisi cuaca yang cukup bersahabat tersebut terdapat puluhan pencari kerang yang berangkat sejak pagi hari dan semakin bertambah banyak menjelang sore dengan peralatan sederhana berupa jaring terbuat dari tambang, bambu dan keranjang diberi pelampung botol bekas.

Sutinah membereskan ban bekas dan tambang sebagai media budidaya kerang hijau di perairan Legundi. [Foto: Henk Widi]
Proses pencarian menggunakan serokan dilengkapi jaring, dilakukan agar dirinya tak perlu menyelam ke dasar air yang dalamnya bisa mencapai sepinggang orang dewasa, bahkan hingga pundak saat pasang tertinggi.

“Kami tidak memerlukan perahu untuk mencari kerang bulu dan kerang putih, karena pencarian menggunakan sistem serok diayak bagian pasirnya untuk memisahkan kerang yang sudah diperoleh lalu dimasukkan dalam keranjang”, terang Sarjum, saat ditemui Cendana News, Sabtu (4/11/2017) siang.

Sarjum bukanlah satu-satunya pencari kerang putih, kerang bulu di wilayah tersebut. Pencari kerang banyak banyak berasal dari beberapa desa tetangga di antaranya Tridharmayoga, Ruguk, Sripendowo, Pematangpasir yang sengaja datang ke wilayah perairan dangkal lokasi mencari kerang.

Pencari kerang tak perlu membawa serok, wadah, karena warga lokal sudah menyediakan peralatan tersebut dengan sistem sewa yang biasanya disediakan oleh penjaga pantai yang sekaligus menjadi pengepul kerang.

Biaya sewa peralatan termasuk iuran sukarela pencari kerang Rp5 ribu sekali mencari kerang, yang umumnya akan dijual kepada pengepul dengan harga Rp3.000 untuk kerang yang belum dikupas atau masih bercangkang dan Rp5.000 untuk kerang bulu dan kerang putih yang sudah dikupas.

Selain kepada pengepul, kerang tersebut kerap dijual kepada konsumen langsung atau pemilik usaha kuliner makanan olahan laut (seafood) di wilayah tersebut yang datang ke pantai Legundi.

Kerang hijau yang sudah dipanen sebagian dikirim ke Jakarta dan pasar lokal untuk kuliner. [Foto: Henk Widi]
Mencari kerang sejak pagi, Sarjum kerap memperoleh lebih dari 50 kilogram dan dijual ke pengepul seharga Rp3.000, sehingga ia bisa membawa pulang sekitar Rp150.000. Hasil yang cukup lumayan selama beberapa jam berendam di laut.

Menurutnya, pada puncak musim kerang bulan November, rata-rata dalam sehari ia bisa mendapatkan penghasilan di atas Rp100.000 yang bisa dipergunakan untuk kebutuhan keluarga.

Cuaca yang membaik juga berimbas positif bagi nelayan budi daya rumput laut jenis kotoni putih, di antaranya milik Sutinah atau dikenal Bu Amran, yang merupakan anggota kelompok tani budi daya rumput laut Sinar Semendo I di Desa Legundi.

Sutinah menyebut, saat kondisi membaik dirinya dan beberapa petani lain melakukan pemanenan rumput laut, selanjutnya dilakukan proses penanaman kembali. “Sebagian sudah dijual, namun masih ada yang dijemur hasil panen dari ratusan lajur tali yang langsung dipakai untuk budi daya selanjutnya mumpung kondisi cuaca membaik”, terang Sutinah.

Harga yang cukup menguntungkan dari budi daya rumput laut selama 40 hari sudah bisa dipanen saat ini diakuinya sebesar Rp8.000 per kilogram untuk rumput laut kotoni putih dalam kondisi kering, yang ditampung perusahaan pembuatan makanan dan kosmetik.

Selain rumput laut, Sutinah dan nelayan lain juga memanfaatkan ban bekas sepeda motor, mobil dan botol bekas sebagai pelampung untuk budi daya kerang hijau. Berbeda dengan kerang bulu dan kerang putih yang tidak dibudidayakan dan berkembang di pasir.

Panen kerang hijau yang dibudidayakan selama hampir tujuh bulan dengan sistem tancap pada bambu sebagai penopang untuk ban karet yang dipergunakan untuk menempel kerang hijau yang sudah dibudidayakan.

Ratusan lajur kerang hijau yang dipanen dengan hasil mencapai lebih dari dua ton dengan harga per kilogram saat ini mencapai Rp10.000 per kilogram di tingkat petani yang banyak dikirim ke wilayah Jakarta sebagai pasokan rumah makan seafood dan pasar lokal, pembudidaya bisa mendapatkan hasil sekitar Rp20 juta.

Pascapanen, media budi daya bahkan sudah disiapkan oleh pembudidaya yang akan dilakukan pada pertengahan November ini, dan masa panen akan dilakukan pada Mei hingga Juni tahun depan. Sistem budi daya kerang hijau yang lama dan membutuhkan ketelatenan tersebut juga didukung kondisi perairan berlumpur yang terhalang pulau kecil di wilayah tersebut, sehingga gelombang laut lepas Selat Sunda tidak langsung menghantam lokasi budi daya kerang hijau.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!