Cuaca Membaik, Nelayan Lampung Mulai Melaut

LAMPUNG — Seiring membaiknya cuaca di wilayah perairan Selat Sunda, sejumlah nelayan di pesisir timur dan barat Lampung pada pertengahan November ini kembali melaut.

Subari, salah satu nelayan bagan congkel, mengatakan, saat bulan November mulai kembali musim cumi, sehingga dirinya kembali beraktivitas melakukan penangkapan ikan dengan mempersiapkan kebutuhan es sebanyak dua balok.

Subari mengungkapkan, bersama nelayan lain dirinya siap berangkat melaut pada sore hari ke arah perairan timur Lampung, sebagian ke wilayah perairan di dekat kepulauan Krakatau yang memiliki ikan cukup melimpah, terutama jenis cumi-cumi, tongkol dan simba. Karena pada kapal tangkap ikan miliknya dengan kapasitas 15 GT belum memiliki cold storage (kotak pendingin) bermesin, ia menggunakan puluhan kotak styrofoam sebagai kotak pendingin diberi es.

Subari, salah satu nelayan mempersiapkan es balok untuk pengawet ikan di kapal bagan congkel miliknya. [Foto: Henk Widi]
“Sehari melaut, kebutuhan bisa satu balok hingga dua balok tergantung nanti dapat ikan atau cuminya, namun persiapan dua balok cukup untuk melaut, harapannya bisa dapat banyak ikan saat melaut,” ungkap Subari, salah satu nelayan tangkap di pusat pendaratan ikan Muara Piluk Desa Bakauheni saat ditemui Cendana News, Sabtu (11/11/2017).

Penggunaan es balok tersebut, kata Subari, merupakan cara untuk mengawetkan ikan karena selama ini masyarakat kerap dikuatirkan dengan pengawetan ikan mempergunakan zat berbahaya seperti formalin. Ia menyebut, sebagian ikan yang diperolehnya kerap langsung dipesan oleh beberapa pengusaha restoran dan usaha kuliner, sehingga selalu mempertahankan kesegaran ikan dengan hanya mempergunakan es balok.

Selama melaut dalam kondisi cuaca cukup bersahabat selama hampir satu pekan terakhir, ia dan sejumlah nelayan lain berhasil menangkap cumi-cumi rata-rata 50-60 kilogram, belum termasuk ikan jenis lain seperti simba, kakap dan tongkol.

Harga cumi-cumi saat ini di level pengepul mencapai Rp25.000 hingga Rp30.000, sementara ikan jenis lain dijual dari Rp15.000 hingga Rp20.000 per kilogram,  teri sekitar Rp150.000 per keranjang. Hasil yang cukup lumayan membuat sejumlah nelayan kembali melaut didukung cuaca yang sudah mulai membaik di wilayah perairan tersebut.

Mulai melautnya pemilik bagan congkel penangkap ikan teri, cumi dan ikan jenis lain, membuat penjual es balok di PPI Muara Piluk ikut kebanjiran order es balok.

Rudi, penjual es balok di dekat dermaga saat dijumpai Cendana News mengaku dalam beberapa hari terakhir menyiapkan 60 balok es, lebih banyak dari sebelumnya yang hanya sekitar 40 balok es.

Es balok yang didatangkan dari pabrik es di Cikande, Banten, tersebut diakuinya kerap dipesan oleh sejumlah nelayan yang mengambilnya dengan menggunakan gerobak dengan harga saat ini sebesar Rp34.000, dan dirinya berhasil menjual es balok dalam beberapa hari ini selalu habis terjual sehingga langsung kembali memesan.

“Permintaan rata-rata satu hingga dua balok es sudah dipotong dengan ukuran empat potong, lalu diangkut menggunakan gerobak”, terang Rudi.

Sistem kepercayaan diakuinya kerap membuat sebagian nelayan baru akan membayar saat nelayan kembali melaut dan mendapat ikan dalam tangkapan besar. Meski demikian, ia menyebut proses pembelian es balok dengan pembayaran sistem tempo tersebut sudah sangat umum dan ia justru bersyukur bisa membantu memfasilitasi nelayan yang akan melaut.

Kondisi cuaca yang semakin membaik untuk kegiatan penangkapan ikan di perairan Selat Sunda, juga diakuinya ikut memperlancar pasokan es balok dari Cikande, karena dirinya kerap memesan kembali setelah selama empat hari hingga lima hari saat es baloknya tersisa sekitar 10 balok.

Kebutuhan akan es tersebut diakuinya tidak hanya diminta oleh nelayan yang akan pergi melaut, namun sejumlah pedagang ikan yang akan menjual ikan keliling dan pengepul ikan untuk dijual di sejumlah pasar tradisional.

Belum adanya pabrik es balok skala besar di wilayah Lampung Selatan diakui membuat dirinya kerap mendatangkan dari luar Lampung, sementara saat pasokan terhambat ia masih mendatangkan puluhan es balok dari wilayah Kalianda yang juga banyak dipasok untuk  kebutuhan es balok nelayan di TPI Bom Kalianda, TPI Way Muli dan sejumlah tempat pendaratan ikan di Lampung Selatan.

Lihat juga...