Gas 3 Kg Langka, Warga Makassar Gunakan Tungku

Editor: Koko Triarko

66

MAKASSAR — Hade Trisada (47), warga kelurahan Manggala, kecamatan Manggala, tampak serius mengipas kompor tungku yang ditaruhnya di depan rumah. Sudah hampir dua minggu ia menggunakan tungku yang terbuat dari tanah liat ini.

Mulai dari menggoreng hingga merebus, Hade mengandalkan tungku yang di belinya dua minggu lalu. Hade terpaksa memasak menggunakkan tungku sejak gas kemasan 3 kg menjadi langka di daerah ini, pada satu bulan terakhir ini, dan pada sepekan terakhir ini  dirasa paling parah.

Menurut, Hade, dua minggu terakhir dirinya sudah berkeliling di daerah kecamatan Manggala, namun tidak ada yang menjual gas sama sekali. “Empat agen gas sudah saya datangi, tapi tidak ada yang jual gas sama sekali”, ungkap Hade, di rumahnya, Senin(20/11/2017).

Hade menduga, jika kelangkaan tabung gas 3 kg dikarenakan yang menggunakan gas 3 kg ini merupakan orang-orang yang berekonomi tinggi. Padahal, gas 3 kg merupakan gas bersubsidi, yang notabene diperuntukkan bagi warga miskin.

“Kalau saya, lebih baik subsidi gas dicabut saja, karena toh bukan kami para masyarakat yang menikmati subsidi itu. Banyak yang membeli gas 3 kg, tapi mereka para pengusaha besar. Atau boleh saja ada subsidi, tapi pemerintah dapat menjamin kapan pun kita membutuhkan selalu tersedia”, katanya.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Mega, karyawan agen gas PT. H. Asma di jalan AMD. Sejak terjadi kelangkaan gas di kota Makassar, jadwal pasokan gas menjadi tidak menentu. Rutinnya biasa pihak Pertamina mengirim tabung gas 3 kg setiap 4 hari sekali. Namun, akhir-akhir ini pengiriman tabung gas 3 kg tidak menentu.

“Masalah harga jual sendiri kami tetap memasang Rp16.000 per tabung. Tapi, sejak kelangkaan gas kami sering mendapat komplain dari para warga, karena kehabisan tabung gas”, kata Mega.

Harga gas 3 kg kini di tingkat pengecer dijual Rp25.000- Rp30.000. Pengecer juga mengalami kesulitan mendapatkan tabung gas 3 kg. Salah satunya, Mapparahim, pedagang gas eceran ini harus terpaksa menaikkan harga gas, karena kesulitan mendapatkan barang.

“Sekarang saya cuma dijatah 8-10 tabung gas. Padahal, dulu saya dikasih jatah sampai 20 tabung gas. Jadi, karena kesulitan ini saya juga terpaksa jual sampai harga dua kali lipat”, jelasnya.

Komentar