Hendrik dari Ponorogo Sukses Budidaya Burung Perci

Editor: Irvan Syafari

854
Hendrik peternak burung perci asal Ponorogo/ Foto: Charolin Pebrianti.

PONOROGO — Warga Desa Mrican, Kecamatan Jenangan, Hendrik Herunandi sudah menggeluti usaha breeding atau ternak burung perci sejak 2012. Hendrik sapaannya, mengaku usaha ini diambil berawal dari hobi memelihara burung.

Pria yang akrab dipanggil Gendrik ini memilih burung jenis perci atau pleci ini karena kicauannya yang unik bisa menirukan kicauan burung jenis lain. Selain itu banyaknya perlombaan burung perci ini, membuat keinginannya untuk budidaya semakin tak terbendung.

“Tahun 2010 saya sudah pelihara burung perci, tapi baru 2012 mulai budidaya dan dijual,” jelasnya saat ditemui Cendana News, Senin lalu.

Kebanyakan pembeli berminat burung perci yang sudah mahir berkicau, namun tak jarang banyak pula pembeli yang berminat untuk satu pasang perci berumur 20 hari dengan harga jual Rp600 ribu.

Pembeli datang dari seluruh Indonesia, tapi paling banyak daerah Jawa Barat dan Jakarta. Seringkali burung perci dititipkan melalui ekspedisi pengiriman dengan cara lengkap dengan kurungan yang ditutupi kain.

“Paling enak itu musim hujan, anakan burung bisa menetas dengan baik,” ujarnya.

Burung yang memiliki nama latin Zosteropidae ini, tidak bisa serta merta kawin namun harus melewati proses perjodohan. Dengan cara satu jantan dan satu betina dalam satu sangkar.

“Kendala lainnya kalau musim kemarau, hawa panas banyak yang tidak menetas karena cangkang telur jenis perci bisa dibilang tipis,” cakapnya.

Ditanya terkait pakan burungnya, Hendrik menerangkan ia membuat ramuan khusus agar perci tersebut memiliki gizi yang cukup, mudah kawin serta suaranya nyaring. Bahkan yang biasanya perci liar yang berumur dua tahun belum kawin, perci umur delapan bulan miliknya sudah bisa menghasilkan anakan.

“Anakan perci yang saya breeding, umur delapan bulan sudah bisa jadi indukan dan biasanya satu indukan perci maksimal bisa tiga telur sekali menetas,” tuturnya.

Awal memiliki perci, Hendrik mengikuti berbagai lomba, berderetan piala dan piagam ia terima. Terbaru, tahun 2017 ini ia berhasil menyabet juara ketiga di tingkat nasional.

“Tapi saat ini saya memfokuskan diri untuk breeding saja,” tukasnya.

Perci hasil breeding dari Hendrik selalu dipasangi ring atau cincin. Pasalnya, perci hasil breeding dinilai lebih bagua dari segi suara, kesehatan dan warna bulunya bagus.

Menurutnya, perci termasuk jenis burung yang sulit dibudidayakan. Di Ponorogo, hanya Hendrik yang sukses mencari tahu kebiasaan perci dan menerapkannya di rumahnya. Saat ini ia mempunyai 50 lebih ekor burung perci.

“Dulu saya pernah megang murai, pentet dan kacer tapi yang membuat penasaran perci karena sulitnya tadi, untungnya sekarang sudah tahu bagaimana caranya budidaya,” pungkasnya.

Burung perci milik Hendrik/ Foto: Charolin Pebrianti

Komentar