Hongkong dan Asean Menandatangani Perjanjian Perdagangan Bebas dan Investasi

47
Ilustrasi Asean -Dok: CDN

MANILA – Hongkong dan sepuluh negara Perhimpunan Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) menandatangani perjanjian perdagangan bebas dan investasi, Minggu (12/11/2017). Perjanjian tersebut mengakhiri hampir tiga tahun perundingan, diperkirakan secepat-cepatnya mulai berlaku pada 1 Januari 2019.

Perjanjian yang ditandatangani tersebut, dapat dianalogikan sebagai suara keras dan jelas terhadap upaya peningkatan proteksionisme perdagangan kawasan. “Nota kesepakatan tersebut, bertujuan menyatukan pasar lebih dalam dan lebih berani kepada kelompok tersebut,” kata Menteri Perdagangan dan Pembangunan Ekonomi Hongkong Edward Yau.

Hongkong disebut Yau, sebagai promotor perdagangan bebas dan pendukung sistem perdagangan multilateral berbasis peraturan kuat. Oleh karenanya Hongkong akan terus menempuh jalur kesepaktan tersebut. Dan disebutnya akan terus melakukan yang terbaik untuk kesepakatan tersebut.

Nilai perdagangan barang dagangan Hongkong dengan ASEAN adalah 833 miliar dolar Hongkong atau senilai seribu triliun rupiah lebih pada tahun lalu. Total perdagangan jasa adalah 121 miliar dolar Hongkong atau Rp160 triliun pada 2015 lalu.

Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN Hongkong China (AHKCFTA) ditandatangani di sela-sela konferensi tingkat tinggi (KTT) ASEAN di ibu kota Filipina, Manila. Hal tersebut terjadi setelah para pemimpin yang menghadiri KTT Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) di Vietnam sepakat untuk mengatasi praktik perdagangan yang tidak adil dan subsidi yang menyimpang dari pasar.

Kelompok ASEAN mencakup Brunei, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam. KTT tersebut menawarkan kontras antara visi kebijakan America First dari pemerintah Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump dan sebuah konsensus tradisional yang mendukung kesepakatan multinasional, yang kini ingin dicapai oleh China.

Sementara itu, Hongkong telah memiliki salah satu pemilik ekonomi paling terbuka di dunia menyebut, perjanjian tersebut akan melibatkan banyak negara ASEAN. Secara bertahap akan terjadi pemangkasan bea masuk barang dari negara bekas koloni Inggris yang kembali ke pemerintahan China pada 1997 tersebut. “Layanan profesional juga diharapkan mendapat keuntungan, dengan meningkatnya arus investasi,” pungkas Yau. (Ant)

Komentar