Karya Friedrich Silaban, Penganut Kristen dan Arsitek Masjid Istiqlal, Dipamerkan

JAKARTA – Bung Karno menjuluki arsitek Friedrich Silaban sebagai by the grace of God karena kemenangan penganut Kristen Protestan yang taat itu dalam sayembara desain Masjid Istiqlal. Sebuah masjid terbesar di Asia Tenggara yang proses pembangunannya telah menyimpan satu sejarah toleransi beragama yang sangat tinggi.

Karya-karya arsitek pengukir sejarah toleransi itu siap digelar dalam bentuk pameran bertajuk Friedrich Silaban, Arsitek 1912-1984.

Pameran ini merupakan rangkaian kegiatan dalam mempelajari, melestarikan, sekaligus menyiarkan kehidupan karier dari Friedrich. Dikuratori oleh Setiadi Sopandi dan Avianti Armand, keduanya memiliki visi untuk membawa sosok penting dalam sejarah nasional (dan arsitektur) Indonesia ke dalam wacana kebudayaan di Indonesia saat ini.

“Isi pameran ini didasarkan pada buku biografi dengan menampilkan narasi lima babak kehidupan dari Friedrich Silaban,” ujar Setiadi Sopandi di Jakarta, Rabu (1/11/2017).

Friedrich Silaban (1912-1984) merupakan arsitek kenamaan Tanah Air yang aktif berkarya sejak masa akhir penjajahan Belanda hingga akhir dekade 1970. Karya F. Silaban yang paling dikenal adalah desain Masjid Istiqlal yang rancangannya dipilih melalui sebuah sayembara nasional pada tahun 1954-1955.

Selain Masjid Istiqlal, F. SIlaban juga merancang gedung Bank Indonesia di Jalan Thamrin, Gedung Pola di Jalan Perintis Kemerdekaan, BNI 46 Jalan Lada di Kota Tua, Monumen Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng, dan berbagai bangunan lain.

“Pameran ini menegaskan banyaknya persinggungan antara berbagai tempat, peristiwa, dan wacana kebudayaan serta arsitektur di Indonesia dengan sosok F. Silaban yang mungkin selama ini kita tidak terlalu sadari,” katanya. Pameran akan dibuka pada 7 November 2017 dan berlangsung sampai dengan 24 November 2017. di Gedung D, Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat.

Ilustrasi. Foto: Istimewa
Lihat juga...