KB tak Sekedar Soal Alat Kontrasepsi

Editor: Koko Triarko

116
Sosialisasi program Keluarga Berencana di Kelurahan Wolomarang, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka. -Foto: Ebed de Rosary

MAUMERE – Bicara tentang keluarga berencana (KB), tidak hanya terbatas pada alat kontrasepsi. Tapi, bagaimana menyiapkan sebuah keluarga yang tangguh, produktif dan sejahtera, dan harus didiskusikan secara baik antara suami dan istri.

“Untuk mencapai sebuah keluarga yang sehat dan sejahtera, kita harus menghindari empat terlalu, yakni terlalu muda menikah dan memiliki anak, terlalu tua memiliki anak, terlalu sering melahirkan serta terlalu banyak memiliki anak,” ungkap Konstantia Tupa Arankoja, Jumat (17/11/2017) sore.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Perlindungan Perempuan dan Anak kabupaten Sikka ini kepada Cendana News menegaskan, terlalu muda menikah mengakibatkan sang ibu akan melahirkan di bawah usia 20 tahun. Dalam usia ini, alat reproduksi perempuan belum sepenuhnya mencapai usia yang siap hamil dan melahirkan.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Perlindungan Perempuan dan Anak Kabupaten Sikka, Konstantia Tupa Arankoja. -Foto: Ebed de Rosary

“Terlalu tua menikah dan melahirkan di atas usia 35 tahun menyebabkan kesehatan seorang ibu mulai menurun, kondisi rahimpun juga jelas akan berpengaruh, di mana anak yang dilahirkan bisa cacat serta bisa mengalami kesulitan saat melahirkan,” terang Konstantia.

Terlalu sering, artinya melahirkan setiap tahun. Kemampuan berkaitan dengan kondisi rahim mulai lemah dan kondisi kesehatan janin juga berpengaruh. Terlalu banyak memiliki anak tentu akan sangat berpengaruh kepada kesehatan, baik ibu sendiri maupun si anak dalam mendapatkan asupan gizi.

“Generasi berencana atau menciptakan generasi emas, maka harus merencanakan pendidikan secara baik, mempunyai pekerjaan yang baik, kapan harus menikah dengan melihat usia ideal serta kapan harus memiliki anak,” terangnya.

Konstantia juga meminta, agar dalam merencanakan kelahiran serta penggunaan alat kontrasepsi dalam mencegah atau menunda kehamilan, harus dibicarakan bersama antara suami dan istri. Jangan suami yang menentukan sendiri.

“Sering terjadi sang istri yang sudah melakukan konseling dan menentukan alat kontraspesi yang akan digunakan sesuai kondisi kesehatannya, tiba-tiba harus menggantinya akibat tidak memperoleh restu dari sang suami dan keputusan sang suami terpaksa ditaati isteri. Ini yang tidak boleh terjadi, sebab sang istri tentu lebih tahu dan merasa nyaman  dengan alat kontrasepsi yang digunakan,” tuturnya.

Sementara itu, Camat Alok Timur, Frans da Lopez mengatakan, perencanaan siklus hidup manusia harus dilakukan sejak masa kehamilan hingga usia dini. Peran orang tua sangat penting dalam mendidik anak dengan penuh kasih sayang.

“Orang tua diharapkan memiliki kesiapan menjadi orang tua dan memahami tujuan pengasuhan yang benar, agar dapat menghasilkan anak yang kuat dan tangguh, percaya diri, sehat dan berkarakter,” pinta Frans.

Kondisi sebuah keluarga mempunyai arti yang sangat besar dalam pembangunan. Sebab, kondisi sebuah keluarga dapat menjadi barometer bagi kesejahteraan masyarakat pada umumnya. Peran aktif segenap lapisan masyarakat dalam pembangunan harus lebih ditingkatkan, merata dan berkualitas dalam memikul beban dan menikmati hasil pembangunan.

“Pemerintah sedang giat-giatnya membangun sumberdaya manusia, agar dalam kurun waktu lima sampai sepuluh tahun ke depan dapat tercipta keluarga yang berkualitas,” pungkasnya.

Komentar