KPK Pertimbangkan Opsi Panggil Paksa Setya Novanto

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

48
Juru Bicara KPK Febri Diansyah/Foto: Eko Sulestyono

JAKARTA — Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dijadwalkan kembali memanggil untuk kedua kalinya Setya Novanto, tersangka kasus dugaan Tindak Pidana Korupsi yang hari ini mangkir dari panggilan penyidik.

Baca juga: Setya Novanto Mangkir, tak Hiraukan Panggilan KPK

Juru Bicara KPK, Febri Diansyah menyebutkan, Setya Novanto beralasan bahwa hari ini ada rapat paripurna. Karena yang bersangkutan masih menjabat sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia, maka dia diwajibkan datang sekaligus memimpin sidang paripurna tersebut.

Febri Diansyah menjelaskan bahwa seharusnya pihak kuasa hukum bisa memberikan penjelasan beberapa hari sebelumnya kepada KPK.

Menurut Febri Diansyah, jika memang mempunyai itikad baik dan taat hukum, mestinya yang bersangkutan dapat meminta kepada KPK terkait permohonan penjadwalan pemanggilan ulang.

Maka dengan demikian kedua belah pihak dapat mencapai kata sepakat kapan sebaiknya waktu yang tepat pemeriksaan.

“KPK sedang mempertimbangkan opsi pemanggilan paksa terhadap tersangka Setya Novanto jika yang bersangkutan dua kali berturut-turut mangkir atau tidak memenuhi panggilan pemeriksaan yang dilakukan oleh penyidik KPK,” kata Febri Diansyah saat jumpa pers di Gedung KPK Jakarta, Rabu (15/11/2017).

Disebutkan, pemanggilan paksa memang sudah diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP)

“Nanti kita lihat dulu bagaimana dinamika perkembangan yang terjadi selanjutnya,” sebutkan.

Baca juga: KPK-Ditjen Imigrasi Koordinasi Hadapi Gugatan Setya Novanto

Febri Diansyah juga menambahkan bahwa sesuai dengan Pasal 122 KUHAP yang mengatur terkait kewajiban tersangka maupun saksi memang diwajibkan harus datang untuk memenuhi panggilan pemeriksaan atau dimintai keterangan oleh pihak penyidik.

Jika yang bersangkutan beberapa kali mangkir atau tidak hadir untuk memenuhi panggilan penyidik, maka dapat dilakukan pemanggilan atau penjemputan paksa.

Komentar