Kualitas Sungai Sumbar Memburuk Akibat Limbah Perkebunan

Editor: Irvan Syafari

66
Kondisi sungai Banjir Kanal di Kota Padang yang dicemari oleh pembuangan sampah masyarakat. Sampah-sampah terlihat bertebaran di pinggiran sungai, yang tidak jauh dari pemukiman warga/Foto: M. Noli Hendra

PADANG — Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) telah melakukan pemantauan kualitas air sungai skala provinsi terhadap enam sungai yang tersebar disejumlah kabupaten dan kota di Sumbar. Pemantuan kualitas air sungai itu dilakukan guna memastikan dampak kesehatan bagi masyarakat, yang selama ini memanfaatkan sungai.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumbar Siti Aisyah mengatakan kegiatan pemantuan kualitas air sungai skala provinsi merupakan kegiatan tahun yang dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup.

Kegiatan itu dianggap perlu, karena air dinilai sebagai komponen lingkungan hidup yang bisa mempengaruhi bagi kehidupan manusia atau masyarkat. Apabila kualitas airnya buruk, maka akan mengakibatkan kondisi yang buruk pula bagi lingkungan hidup.

Ia menyebutkan, dari hasil pemantauan kualitas air sungai di Sumbar, saat ini sungai tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan hidup manusia, seperti mandi dan mencuci saja, akan tetapi juga ada yang memanfaatkan sungai menjadi tempat pembuangan limbah dari berbagai kegiatan yakni kegiatan industri (air limbah pabrik).

“Kini sungai benar-benar telah banyak terjadi pencemarannya, sudah ada air limbah pabrik, juga ada sumber lainnya yakni buangan air sawah, perkebunan, pemukiman dan lain-lain,” katanya, Rabu (15/11/2017).

Menurutnya, besarnya beban pencemar yang diterima sungai akibat pembuangan limbah, akhirnya dapat melewati daya self purification (memurnikan secara alami) yang dimiliki sungai, sehingga mengakibatkan terjadinya pencemaran sungai. Untuk itu, agar kualitas air sungai tersebut dapat menjamin kelangsungan kehidupan manusia, maka dilakukan pengawasan dan pengendalian kualitas air sungai secara intensif dan berkesinambungan.

“Jadi apabila penurunan kualitas air itu terjadi, maka akan menurunkan dayaguna, hasil guna, produktivitas, daya dukung dan daya tampung dari sumber daya air yang pada akhirnya akan menurunkan kekayaan sumber daya alam (natural resources depletion). Kita berharap betul adanya kesedaran masyarakat termasuk kegiatan industri, untuk memperhatikan kualitas air sungai, karena sungai juga merupakan bagian dari sumber kehidupan,” ujarnya.

Aisyah menjelaskan, pemantauan sungai dilakukan sebanyak dua periode dengan pertimbangan keterwakilan musim yang terjadi di Indonesia (musim kemarau dan musim penghujan) yang telah dilaksanakan pada bulan Mei lalu untuk tahap I dan bulan Oktober ini untuk tahap II.

Sejauh ini, pemantauan dilakukan terhadap 10 titik sampling untuk masing-masing sungai dengan melakukan pengujian terhadap 19 parameter kualitas air sungai yang telah ditetapkan. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mendapatkan data kualitas air permukaan dari sungai yang dipantau sehingga dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan, dalam rangka pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air terutama air sungai.

Enam sungai yang turut dilakukan pemantuan oleh Dinas Lingkungan Hidup, yakni Sungai Batang Agam (yang melintasi Kabupaten Agam, Kabupaten Limapuluh Kota dan Kota Payakumbuh). Sungai Batang Pangian (yang melintasi Kabupaten Sijunjung dan Kabupaten Dharmasraya). Sungai Batang Anai (yang melintasi Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Padang Panjang). Sungai Batang Mangor (yang melintasi Kabupaten Agam, Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Pariaman). Sungai Batang Sinamar (yang melintasi Kabupaten Tanah Datar, Kota Payakumbuh dan Kabupaten Lima Puluh Kota) dan Sungai Batang Masang Gadang (yang melintasi Kabupaten Agam dan Kabupaten Pasaman Barat).

Menanggapi adanya kegiatan pemantauan sungai oleh Dinas Lingkungan Hidup tersebut, salah seorang masyarakat di Kota Pariaman, Eri mengatakan, khusus di daerahnya itu pencamaran sungai banyak disebabkan oleh adanya aktivitas penggalian C atau pengambilan pasir di sepanjang sungai. Akibat hal itu, membuat air sungai yang menjadi keruh dan airnya pun bisa menyebabkan gatal-gatal.

“Kami di sini soal limbah dari pabrik tidak ada, yang ada itu malah aktiftias orang yang mengambil pasir di sungai. Sudalah membuat air keruh, tebing-tebing sungai pun jadi roboh, sehingga membuat bentuk dari sungai itu sendiri jadi kacau,” ujarnya.

Ia berharap, pemerintah tidak hanya melakukan pemantuan kualitas air sungai, akan tetapi juga melakukan penertiban kepada orang yang melakukan pengambilan pasir di sungai, sehingga tidak mengakibatkan pencemaran sungai. Hal ini mengingat, selama ini masyarakat setempat, menggunakan sungai tidak hanya sebagai untuk mandi, akan tetapi juga menjadi sungai sebagai tempat mencuci pakaian.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumbar Siti Aisyah/Foto: M. Noli Hendra.

Komentar