Langka, Budidaya Kacang Tunggak Petani Palas Bernilai Ekonomis

Editor: Irvan Syafari

55
Proses penjemuran sebagian kacang tunggak yang dipanen/Foto: Henk Widi.

LAMPUNG — Budidaya tanaman kacang tunggak masih terus dilakukan oleh petani di Dusun Yogyakarta Desa Sukamulya Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan. Menurut Pariem (55) salah satu petani di wilayah tersebut budidaya tanaman kacang tunggak masih menjadi salah satu sumber penghasilan petani di samping tanaman budidaya lain seperti jagung dan singkong.

Kelebihan budidaya tanaman kacang tunggak karena jenis kacang tersebut dapat tumbuh dengan curah hujan lebih sedikit daripada kacang panjang dengan kondisi tanah yang berbagai jenis dengan sistem pengairan yang baik.

Permintaan akan kacang tunggak dengan produksi mencapai 2000 kilogram tersebut kerap diperlukan oleh pemilik usaha kuliner tradisional di antaranya bahan baku sayuran, bubur kacang, kue serta kuliner lain.

“Jarang ada warga yang membudidayakan kacang tunggak meski manfaatnya cukup banyak bisa dipergunakan sebagai tanaman sayuran sementara pada bagian daun bisa dimanfaatkan sebagai makanan ternak,” terang Pariem, warga Dusun Yogyakarta Desa Sukamulya Kecamatan Palas saat ditemui Cendana News tengah melakukan proses penjemuran di depan rumahnya, Senin (13/11/2017)

Ia mengaku tanaman kacang tunggak mulai jarang dibudidayakan dibandingkan tanaman kacang hijau, kacang panjang, kacang kedelai dan kacang tanah namun Pariem tetap menanam kacang yang juga kerap disebut kacang kandes, kacang tolo, kacang otok tersebut.

Proses pemanenan diakuinya cukup mudah karena bisa dilakukan dengan bertahap dengan benih sekitar 15 kilogram dan bisa dipanen saat memasuki usia 4-5 bulan memanfaatkan lahan sebelum masa penanaman padi.

Pemanfaatan lahan sawah untuk menanam kacang tunggak diakuinya dilakukan memaksimalkan lahan karena tanaman tersebut tidak membutuhkan air yang cukup banyak dan limbah hasil pertanian berupa daun atau rumpun tanaman kacang tunggak masih bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak kambing.

Sebagai petani pemelihara kambing ia masih tetap memanfaatkan tanaman kacang tunggak untuk sumber pakan karena tanaman kacang tunggak sudah bisa dipanen dalam kondisi daun masih menghijau sehingga bisa dimanfaatkan untuk sumber pakan.

Selain jarang dibudidayakan Pariem mengaku harga kacang tunggak kering terbilang lebih mahal dibandingkan kacang jenis lain di antaranya kacang tanah yang dijual dengan harga Rp27.000. Sementara kacang tunggak per kilogramnya bisa mencapai Rp30.000 hingga Rp35.000 per kilogram pada kondisi normal.

“Karena manfaatnya cukup banyak dengan sumber protein yang tinggi sebagai kue dan sayur sementara produksinya jarang dibandingkan dengan kacang jenis lain,”ujar Pariem.

Keunggulan kacang tunggak selain bisa ditanam tanpa pengairan yang cukup banyak kacang tunggak bisa ditanam juga pada lahan perkebunan sebagai tanaman sela di antaranya pada lahan perkebunan kelapa, sehingga selain bisa memanen kelapa dalam jangka selama empat bulan sudah bisa memanen kacang tunggak.

Proses perawatan juga mudah dengan pemberian pupuk kandang dan urea membuat budidaya tanaman kacang tunggak mudah. Dia menyebut setelah pemanenan proses penjemuran bisa dilakukan untuk memisahkan polong kacang dengan cara proses pengilesan (menginjak kacang dalam karung) sehingga kacang terpisah dari kulit.

Setelah kacang terpisah dari kulit kacang tunggak bisa disimpan dalam wadah plastik kedap udara sebelum dijual ke pasar sebagian dibeli pemilik usaha kuliner yang mengambil di rumahnya.

Lahan tanaman kacang tunggak dibudidayakan sebagai tanaman sela pada lahan perkebunan kelapa bagian dalam /Foto: Henk Widi.

Komentar