Lima Problem Pertanian untuk Wujudkan Kedaulatan Pangan

Editor: Satmoko

38
Suasana seminar guna mewujidkan kedaulatan pangan di era MEA. Foto: Harun Alrosid

SOLO – Kondisi pangan Indonesia dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) ke depan sangat memprihatinkan. Pasalnya, jika tidak diantisipasi sejak dini, bukan tidak mungkin Indonesia justru akan mengalami krisis pangan.

Salah satu pakar pertanian dari Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, Subejo PhD menjelaskan, Indonesia memiliki problem serius dalam menghadapi MEA ke depan. Hal ini melihat perkembangan bidang pangan dan pertanian kian hari kian mengkhawatirkan. Ada beberapa persoalan serius yang harus segera dipecahkan oleh pemerintah.

“Ada lima problem pangan serius yang akan dihadapi Indonesia. Ini harus segera diantisipasi sejak dini, ” papar Subejo dalam Seminar Nasional bertema Pengembangan Potensi Hasil Pertanian yang Berdaya Saing Global dalam Mewujudkan Kedaulatan Pangan di Era MEA, Selasa (14/11/2017).

Permberian hadiah kepada pemenang dalam LKTIN. Foto: Harun Alrosid

Dalam seminar yang diselenggarakan di Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) itu, Subejo menerangkan, lima masalah pangan pertanian yang harus diseriusi adalah pertambahan jumlah penduduk Indonesia dengan tingkat pertumbuhan 1.5 persen. Pada 2050, penduduk Indonesia diprediksi mencapai 300 juta jiwa. “Ini semua harus diberi makan, maka akan menjadi problem yang harus dipikirkan,” katanya.

Masalah lain yang dihadapi petani Indonesia adalah dampak perubahan iklim. Tidak menentunya iklim di Indonesia akan berdampak pada budidaya pertanian. “Sekarang kita tak lagi mudah memprediksi kapan hujan. Ke depan kita manusia akan bersaing dengan ternak dan kebutuhan industri dalam hal pangan. Salah satu contohnya adalah hasil pertanian di masa yang akan datang berpotensi digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi,” tandasnya.

Persoalan serius lain adalah alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan nonpertanian yang kian tak terkendali. Parahnya alih fungsi lahan banyak terjadi di Pulau Jawa, 51 persen merupakan kegiatan pertanian Indonesia. Peran serta pemerintah dalam melindungi lahan pertanian dengan kebijakan yang berpihak kepada pertanian harus lebih dimassifkan.

“Selanjutnya adalah persoalan regenerasi petani yang dari tahun ke tahun terus berkurang. Petani Indonesia berkurang 5-6 juta dari tahun 2003 hingga 2013. Regenerasi juga mengkhawatirkan di mana 60 persen petani Indonesia berusia di atas 45 tahun, 32 persen diantaranya berusia di atas 55 tahun,” imbuh Subejo.

Dalam seminar ini turut diselenggarakan Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional (LKTIN) di Fakultas Pertanian UNS. Hasilnya, Tim Universitas Jember yang memperkenalkan model lembaga investasi Share Farm dalam budidaya ternak di pedesaan menjadi juara pertama dalam LHTIN 2017. Juara kedua tim Universitas Gadjah Mada (UGM) yang menawarkan konsep Belabeli sebagai solusi kebijakan daerah yang mandiri dan berdikari. Sebagai juara ketiga tim dari Universitas Diponegoro yang memperkenalkan inovasi potensi bakteri probiotik dari bakteri di usus rayap

“Pengumuman pemenang LKTIN ini dikemas dalam rangkaian kegiatan Agrixplosion Himpunan Mahasiswa Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian (Pelita) Faperta UNS,” tambah anggota Dewan Juri LKTIN Agrixplosion, Dr Retno Setyowati.

Lebih lanjut Retno mengatakan, setidaknya terdapat 80 judul yang ikut dalam lomba tersebut. Dari jumlah itu, ada 29 abstrak yang diseleksi menjadi tujuh karya tulis yang lolos ke final.

“Setelah melalui berbagai pertimbangan tim Universitas Jember diputuskan menjadi juara satu,” pungkasnya.

Komentar