Lokakarya Kelapa Asia Pasifik Diharapkan Entaskan Kemiskinan  

45
Ilustrasi buah kelapa - Foto: Dokumentasi CDN

MANADO – Direktur NAM Center Duta Besar Prianti Gagarin Djatmiko Singgih berharap lokakarya pengembangan kelapa internasional dapat menjadi media untuk mengentaskan kemiskinan pada negara-negara berkembang di kawasan Asia Pasifik.

Melalui berbagai masukan, potensi kerja sama, dan program pembangunan kapasitas institusi, dapat diperoleh output yang bermanfaat bagi petani dan pelaku usaha di sektor kelapa. Dengan julukan Tree of Life atau Pohon Kehidupan, kelapa kaya akan manfaat dan setiap bagiannya dapat diolah menjadi produk yang bernilai ekonomi.

“Kami berharap bisa membangun kesadaran yang kuat terhadap pengentasan kemiskinan, dengan memastikan petani kelapa menjadi bagian dan berperan penting pada usaha ini,” tutur Dubes Prianti saat membuka lokakarya penembangan kelapa internasional di Manado, Sulawesi Utara, Selasa (14/11/2017).

Langkah Indonesia yang telah lebih maju di bidang penelitian dan pengembangan kelapa. Terutama pada metode dan strategi pertanian atau perkebunan berkelanjutan, akan diaplikasikan pada negara-negara berkembang lainnya. Dengan cara ini ke depannya para petani kelapa diyakini secara optimal bisa mengelola hasil panennya dengan menambahkan nilai lebih pada produknya.

Lokakarya berlangsung pada 14-17 November ini akan diselenggarakan dengan format diskusi panel yang diisi dengan beragam pemaparan ilmiah dari beberapa lembaga riset seperti Badan Litbang Kementan RI, Puslitbang Palma Provinsi Sulawesi Utara, pelaku industri kelapa dalam negeri, hingga sektor swasta. “Alasan lokakarya ini diadakan di Manado karena memang di sini terdapat banyak badan penelitan dan pusat riset tanaman Indonesia,” katanya menambahkan.

Selain itu, pada hari akhir penyelenggaraan para peserta yang berjumlah 15 orang dari 13 negara Asia Pasifik ini juga dijadwalkan akan mengunjungi dan melakukan studi banding ke pabrik produksi gula kelapa di Winuri Likupang dan unit produksi kelapa, serta pembibitan kelapa unggulan di Balai Riset Palma Manado.

Pemerintah Indonesia menggelar Lokakarya Pengembangan Kelapa Internasional yang diikuti sebanyak 15 peserta dari 13 negara kawasan Asia Pasifik di Manado, Sulawesi Utara. “Lokakarya ini menjadi agenda lanjutan dari kegiatan serupa sebelumnya, dan tujuan besarnya ialah untuk menciptakan keberlanjutan pada pengembangan sektor produk kelapa,” kata Dubes Prianti.

Lokakarya diselenggarakan oleh Pusat Gerakan Non-Blok Kerja Sama Teknik Selatan-Selatan (NAM CSST), Kementerian Luar Negeri RI, dan bekerja sama dengan Badan Litbang Kementerian Pertanian, serta Balai Riset Tanaman Palma Provinsi Sulawesi Utara.

Lokakarya mengambil  tema Innovation and Collaboration to Sustain Coconut Sector tersebut  berupaya memberikan pengenalan terhadap pembangunan kapasitas sumber daya manusia pada negara-negara penghasil kelapa. Termasuk mengembangkan sektor Usaha Kecil Menengah yang bertumpu pada kelapa sebagai lini produknya, dan langkah-langkah untuk menjaga kualitas dan kuantitas produk.

“Para peserta sudah memiliki latar belakang di bidang ini, dari staf pemerintahan, praktisi, hingga pengusaha produk olahan berbahan kelapa. Kita tingkatkan kompetensi mereka melalui kegiatan ini,” ujar Dubes Prianti menerangkan.

Indonesia sebagai salah satu negara penghasil kelapa terbesar di dunia, memiliki tanggung jawab untuk mengajak dan berbagi pengalaman mengenai industri berbasis kelapa kepada negara-negara di kawasan Asia Pasifik. Dalam dua tahun pelaksanaannya, program ini telah berhasil menciptakan situasi positif pada sektor berbasis kelapa di lingkungan internasional dan memicu semangat beragam pelaku di sektor tersebut.

“Kita harapkan produksi dan jenis produk dari jenis tanaman ini bisa meningkat dan memberikan nilai ekonomi yang lebih baik,” kata wanita yang juga menjabat sebagai staf ahli Menteri Luar Negeri RI bidang Polhukam itu. (Ant)

Komentar