Miryam S. Haryani Mengaku Ditekan Novel Terkait e-KTP

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

37

JAKARTA — Miryam S. Haryani, mantan Anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia dari Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) divonis hukuman penjara selama 5 tahun oleh Majelis Hakim.

Vonis tersebut dibacakan secara langsung oleh John Halasan Butar-Butar, Ketua Majelis Hakim yang memimpin jalannya persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta.

Baca juga: Miryam S. Haryani Divonis 5 Tahun Penjara

Yang bersangkutan sebelumnya diketahui secara resmi telah ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kasus perkara kesaksian palsu atau memberikan keterangan yang tidak benar.

Hal tersebut dilakukan Miryam S. Haryani pada saat dirinya bersaksi dalam persidangan lanjutan kasus perkara korupsi terkait proyek pengadaan Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang berbasis elektronik atau e-KTP.

Saat ditanya sejumlah wartawan usai menjalani persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta, terdakwa Miryam S. Haryani mengaku bahwa dirinya tidak bersalah dan juga tidak merasa telah berbohong selama dirinya bersaksi dalam persidangan.

Miryam S. Haryani mengaku keberatan kalau dirinya kemudian harus menjalani vonis hukuman penjara selama 5 tahun kedepan akibat telah berbohong atau mengada-ada.

Miryam S. Haryani bersikukuh bahwa keterangan atau kesaksian yang selama ini dia sampaikan dalam persidangan kasus perkara proyek pengadaan e-KTP tersebut memang benar adanya.

Miryam S. Haryani menegaskan terkait adanya dugaan ancaman atau tekanan yang dia alami pada saat dirinya menjalani pemeriksaan dan dimintai keterangan sebagai saksi di Gedung KPK Jakarta.

“Berulang kali sudah saya jelaskan di depan Majelis Hakim bahwa apa yang saya katakan itu memang benar adanya, saya pernah diancam, merasa mengalami tekanan saat menjalani pemeriksaan atau dimintai keterangan sebagai saksi dalam kasus perkara dugaan korupsi proyek pengadaan KTP elektronik saat berhadapan dengan penyidik KPK,” kata Miryam S. Haryani di Gedung PN Jakarta Pusat, Senin (13/11/2017).

Kepada wartawan Miryam S. Haryani mengaku bahwa Novel Baswedan merupakan salah satu penyidik di antara penyidik KPK lainnya yang sempat dia laporkan karena diduga telah menekan atau mengancam dirinya pada yang bersangkutan menjalani pemeriksaan dan dimintai keterangannya sebagai saksi dalam kasus perkara korupsi proyek pengadaan e-KTP.

Namun anehnya berdasarkan bukti rekaman video dan percakapan antara Miryam S. Haryani dan penyidik KPK yang sempat diputar dalam persidangan, Mejelis Hakim menyimpulkan bahwa pihaknya belum menemukan bukti yang bersangkutan telah ditekan atau diancam oleh Novel Baswedan maupun oleh sejumlah penyidik KPK lainnya.

Baca juga: Miryam S. Haryani Bantah Terima Duit Jutaan Dolar dari Proyek E-KTP

Oleh karena itu, maka kemudian Ketua Majelis Hukum Pengadilan Tipikor Jakarta akhirnya memutuskan dan menetapkan bahwa terdakwa Miryam S. Haryani dinyatakan telah terbukti bersalah karena dianggap memberikan keterangan palsu atau keterangan yang tidak benar.

Yang bersangkutan selama ini diduga berbohong, mengarang atau mengada-ada pada saat dirinya memberikan kesaksian palsu dalam kasus perkara e-KTP.

Komentar