Pasokan Normal, Harga Pisang di Lampung Selatan Stabil

Editor: Irvan Syafari

55
Sarjid memperlihatkan pisang kepok manado yang masuk kelas super dan akan dikirim ke Jakarta /Foto: Henk Widi.

LAMPUNG — Pasca anjloknya harga komoditas pertanian jenis singkong, disusul melimpahnya panen pisang milik petani sekaligus serangan hama layu fusarium pada Agustus hingga September, kini para petani sekaligus pemilik usaha jual beli pisang kembali bergairah.

Sarjid (30), pemilik usaha jual beli komoditas pisang mengungkapkan dua bulan sebelumnya akibat stok pisang melimpah, berimbas komoditas tersebut harganya anjlok di level petani bahkan banyak buah membusuk di pengepul.

Selain faktor permintaan menurun, serangan hama layu fusarium dan melimpahnya pasokan pisang mengakibatkan harga pisang mencapai level di bawah Rp5.000 per tandan untuk berbagai kelas penjualan di antaranya kelas rames (asalan), CR (sedang), super hingga jumbo yang mengalami penurunan harga sangat signifikan. Beruntung pada pertengahan November harga kembali stabil dengan permintaan mulai mengalami peningkatan.

“Bisnis jual beli komoditas pisang tak lepas dari permintaan pasar baik sebagai kebutuhan buah segar, bahan baku kuliner berupa gorengan serta digunakan sebagai bahan baku makanan tradisional di antaranya keripik dan minuman kolak,” terang Sarjid saat ditemui Cendana News tengah menyortir tandan pisang sesuai kelasnya, Rabu (15/11/2017)

Pada kondisi normal diakui Sarjid beberapa varietas pisang yang kerap ditanam petani di wilayah kecamatan Penengahan di antaranya pisang janten, kepok, sere, ambon, rajabulu serta jenis pisang lain untuk kelas rames (asalan) dengan ukuran kecil dan sisir pada tandan buah tak terlalu rapat dihargai Rp8.000 per tandan.

Sementara itu varietas yang sama jenis pisang tersebut pada kelas CR atau sedang dibeli dari petani dengan harga berkisar Rp13.000, kelas jumbo untuk varietas sama dengan sasaran bahan pembuatan makanan dihargai Rp40.000 sementara kelas super pisang jenis raja nangka, kepok Manado dibeli dengan harga Rp50.000 pertandan.

Harga pisang berbagai kelas dan varietas tersebut terbilang stabil karena sebelumnya harga hanya berkisar Rp4.000 kelas asalan, Rp8.000 kelas sedang, Rp25.000 kelas jumbo dan kelas super hanya Rp30.000 membuat pisang di pengepul banyak yang ditolak oleh agen atau lapak di Jakarta. Dampaknya pisang banyak matang di lokasi pengepulan dan mengakibatkan kerugian pelaku usaha jual beli pisang.

Kenaikan harga atau kembali normalnya komoditas pisang diakui Sarjid untuk kebutuhan lokal Lampung dan sebagian ke Jakarta diprediksi dengan peningkatan permintaan komoditas pisang sebagai bahan baku pembuatan kue jelang Natal dan tahun baru.

Kue jenis keripik serta kue kue kering lain berbahan pisang mulai diproduksi pemilik usaha kuliner untuk dijual pada menjelang Natal 2017 dan tahun baru 2018 yang biasanya menjual makanan tradisional berbahan pisang di toko yang ada di sepanjang jalan lintas Sumatera.

“Meski naik atau pada level harga stabil hanya cukup untuk menutupi kerugian pada saat harga pisang anjlok pada bulan sebelumnya,” keluh Sarjid.

Permintaan akan pisang ke Jakarta dari pengepulan miliknya diakui sekali pengiriman menggunakan kendaraan L300 mencapai 500 tandan dengan biaya pengiriman Rp800.000. Sementara proses pembayaran di lapak Jakarta dengan nilai keseluruhan pisang bisa mencapai Rp8 juta.

Umumnya dibayar setengahnya saat barang tiba dan akan dibayar pada pengiriman selanjutnya. Bisnis usaha jual beli pisang yang dilakoni selama hampir tiga tahun diakuinya masih menjadi sumber penghasilan utama akibat tak ada pekerjaan lain.

Sarto, salah satu warga yang isterinya memiliki usaha penjualan gorengan dengan salah satu makanan yang dijual pisang goreng mengaku pasokan pisang saat ini mulai kembali stabil. Ia bahkan masih bisa membeli pisang bahan baku gorengan dengan harga Rp3.000 per tandan dalam kondisi mentah untuk pisang sortiran yang tidak masuk kelas.

“Sekarang pisang sudah kembali ada harganya padahal dua bulan sebelumnya sampai busuk dan hanya diberikan pada orang yang mau karena anjlok harganya,” terang Sarto.

Stabilnya harga pisang sekaligus lancarnya pasokan diakui Sarto ikut berimbas positif bagi petani, pemilik usaha jual beli pisang dan dirinya beserta isteri yang memiliki warung penjualan gorengan sehingga perputaran ekonomi bisa kembali berjalan dengan lancar termasuk usaha pembuatan keripik yang kembali bergairah dengan adanya pasokan pisang.

Pisang berbagai jenis dikumpulkan di lokasi pengepul untuk disortir/Foto: Henk Widi.

Komentar