Pembangunan Jembatan Mudahkan Akses Pembuat Batu Bata Palas

Editor: Irvan Syafari.

53
Akses jembatan yang selesai dibangun setelah puluhan tahun dinanti warga/Foto:Henk Widi.

LAMPUNG — Harapan masyarakat Dusun Banyumas dan Dusun Kuningan Desa Tanjungsari Kecamatan Palas selama hampir selama empat puluh tahun sebagai sentra industri kecil usaha pembuatan batu bata akhirnya terealisasi dengan dibangunnya infrastruktur jembatan di wilayah tersebut.

Sebagai lingkungan dusun penghasil batu bata warga kerap disulitkan dengan pengangkutan batu bata yang harus dilakukan dengan menggunakan kendaraan roda dua akibat belum adanya jembatan permanen.

Menurut Tukijan (50), salah satu pembuat batu bata di Desa Tanjungsari jembatan selebar 3 meter, tinggi 3 meter dan lebar 3 meter dibangun selama kurang lebih 40 hari dengan menggunakan dana desa (DD) senilai Rp69 juta.

Laki laki yang tinggal di dekat jembatan tersebut mengaku usulan dari warga masyarakat sudah puluhan tahun silam semenjak kepala desa telah berganti belasan kali namun baru terealisasi tahun ini.

“Kami masyarakat yang tinggal di wilayah ini sudah mengusulkan selama puluhan kali namun alokasi dana dari desa tidak mencukupi dan prioritas untuk pembangunan lain sehingga jembatan di desa kami tak kunjung diperbaiki,” terang Tujikan salah satu warga Desa Tanjungsari Kecamatan Palas saat ditemui Cendana News, Senin siang (13/11/2017)

Selama ini proses pengangkutan hasil industri rumahan batu bata yang diangkut menggunakan truk kecil L300 bahkan harus berjalan memutar menggunakan akses jalan lain yang lebih jauh. Namun dengan jembatan yang melintas di sungai kecil Banyumas tersebut kini bisa memudahkan pengangkutan bata ke wilayah lain.

Selain menghemat waktu keberadaan infrastruktur jembatan tersebut juga menghemat pengeluaran uang karena warga tak lagi mengeluarkan biaya untuk biaya angkut batu bata serta kayu bakar dan sekam menggunakan kendaraan dua.

Meski sudah menerima pembangunan infrastruktur jembatan masyarakat di wilayah tersebut masih tetap mengharapkan pemerataan akses jalan yang juga dilakukan di wilayah Palas berupa jalan aspal lapisan tipis aspal dan pasir sebagian bahkan dibangun jalan dengan rigid beton. Namun berbeda dengan di wilayah tersebut selama puluhan tahun bahkan status jalan masih jalan tanah.

“Jika tidak ada pembangunan jembatan bersumber dari dana desa mungkin jembatan penghubung tidak akan dibangun,” ujar Sunarto.

Sunarto menyebutkan selain sempat terisolir selama puluhan tahun akibat belum adanya jembatan saat ini warga bahkan berharap status jalan tanah sepanjang kurang lebih satu kilometer ditingkatkan menjadi minimal Jalan Onderlaag (istilah untuk mengeraskan jalan menyusun batu).

Jalan ini bisa ditingkatkan menjadi jalan aspal atau jalan rigid beton. Sunarto mengaku usulan dari masyarakat bahkan sudah disampaikan ke musyawarah badan permusyawaratan desa agar bisa dibangun pada 2018.

Perbaikan akses jalan dan penyiapan infrastruktur jembatan diakuinya ikut membantu para pemilik usaha pembuatan batu bata yang banyak dilakukan oleh ratusan warga di Banyumas dan Kuningan tersebut.

Kondisi jalan yang memadai bahkan diakui Sunarto bisa membantu distribusi barang dan pengiriman bahan baku tanah yang didatangkan dari wilayah lain untuk membuat batu bata dan bahan baku kayu bakar dan sekam padi.

Tukijan,warga Desa Tanjungsari Kecamatan Palas yang terbantu pembangunan jembatan /Foto:Henk Widi.

Komentar