Pembudidaya Rumput Laut di Lamsel Khawatirkan Musim Hujan

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

57
Agung bersama isteri, pembudidaya rumput laut di kecamatan Ketapang Lampung Selatan [Foto: Henk Widi]

LAMPUNG — Meski disambut baik oleh petani, namun musim hujan juga menjadi kekhawatiran sendiri bagi warga di desa Legundi, desa Tridharmayoga Kecamatan Ketapang yang menjadi pembudidaya rumput laut.

Salah seorang pembudidaya, Agung (50) mengungkapkan, masa pemanenan rumput laut yang dilakukan setelah usia 40 hingga 45 hari sangat bergantung pada sinar matahari untuk proses penjemuran.

“Budidaya rumput laut memang sangat dipengaruhi kondisi cuaca,” terang Agung saat dikonfirmasi Cendana News, Rabu (15/11/2017).

Baca juga: Rumput Laut Ketapang, Lampung Dikenal Hingga Kalimantan

Selain hama ikan baronang, faktor perubahan cuaca berdampak pada kondisi lingkungan perairan dengan munculnya lumut dan tiram yang terkadang menempel pada rumput laut sehingga mengganggu proses pengeringan.

Sebagai upaya mengatasi organisme pengganggu sebelum dua pekan panen Agung harus rajin melakukan perawata dengan cara mengecek setiap jalur tambang berpelampung tempat membudidayakan rumput laut tersebut.

“Kami memang tetap harus waspada dengan kondisi perubahan cuaca karena penanaman rumput laut sebelumnya, selama musim kemarau hama bulu kucing menyerang namun bisa diatasi,” terang Agung.

Musim hujan diakui Agung tidak berdampak langsung bagi pertumbuhan rumput laut jenis cottoni karena adanya arus gelombang dan hujan yang turun justru ikut membantu proses pengadukan air laut dan menguntungkan. Meski demikian pengaruh gelombang dan hujan bisa berimbas pada kerusakan tali tambang dan ikatan sehingga harus diperiksa setiap hari.

Pembudidaya rumput laut lainnya di desa Legundi, Aldi (40) menyebutkan, datangnya musim hujan pada bulan November ini ikut berdampak langsung bagi dirinya. Pada kondisi musim kemarau ia hanya membutuhkan waktu penjemuran selama satu hari maksimal selama dua hari namun saat hujan pengeringan butuh waktu hingga lima hari bahkan sepekan.

“Dampak hujan pastinya akan terasa saat memasuki masa panen dalam waktu pengeringan yang lebih lama,” beber Aldi.

Saat ini ia menyebut di tingkat petani untuk jenis rumput laut cottoni seharga Rp8.000 perkilogram dalam kondisi kering alami namun di tingkat pengepul harga tersebut bisa mencapai Rp11.000. Saat di distributor besar proses pengeringan dengan mesin khusus dilakukan agar memenuhi standar perdagangan.

“Alat pengering rumput laut yang terbuat dari stainless steel harganya memang mahal sehingga kami gunakan sistem manual dengan pengeringan digantung di ruangan khusus dan dijemur di terik sinar matahari,” terang Aldi.

Baca juga: Miliki Tekad yang Kuat, Ratnasari Sukses Produksi Sabun Rumput Laut

Bersama anggota kelompok pembudidaya rumput lain Aldi bahkan sudah mengusulkan ke Dinas Kelautan dan Perikanan agar difasilitasi mesin pengering. Usulan tersebut belum bisa dipenuhi akibat keterbatasan anggaran.

Kadek Sudiro melakukan proses penyiapan bibit rumput laut [Foto: Henk Widi]
Kadek Sudiro (36) pembudidaya rumput laut di Desa Tridharmayoga bahkan menyiasati kerugian akibat datangnya musim hujan dengan fokus pada usaha penyediaan bibit. Budidaya rumput laut yang sengaja diperuntukkan untuk bibit atau benih diakuinya bisa dipanen lebih cepat pada usia 25-30 hari tanpa harus melakukan pengeringan dan menunggu waktu lama panen. Meski demikian ia tetap melakukan budidaya rumput laut untuk dijual dalam kondisi kering menjadi salah satu sumber penghasilannya selain sebagai petani jagung.

Komentar