Pemimpin-Pebisnis ASEAN+3 Serukan Perdagangan Lebih Terbuka

47
Ilustrasi lamban Asean - Foto: Istimewa

MANILA – Para pemimpin dan pebisnis dari negara anggota ASEAN Plus Three (ASEAN+3), yang terdiri atas 10 negara ASEAN ditambah Jepang, China, dan Korea Selatan, menyerukan sistem perdagangan yang lebih terbuka.

Seruan itu disampaikan pada Pertemuan Tatap Muka antara Pemimpin ASEAN Plus Three (APT) dengan Dewan Bisnis Asia Timur (EABC) yang dipimpin Presiden Filipina Rodrigo Roa Duterte di Philippine International Convention Center (PICC), Selasa (14/11/2017).

Dalam pertemuan tersebut, Presiden Duterte menyebutkan bahwa perdagangan terbuka dan bebas diperlukan untuk mengintegrasikan ekonomi negara-negara di Asia Timur dan menarik mitra dari kawasan lain di dunia. “Sangat penting untuk memiliki mitra bisnis regional bersama kami saat kami bekerja sama dalam mendorong realisasi Komunitas Asia Timur yang lebih besar dan progresif,” kata Presiden Duterte.

Menanggapi hal itu, para pemimpin negara ASEAN lain dan pemimpin China, Jepang, dan Korea Selatan pun menyatakan dukungannya terhadap visi Komunitas Ekonomi Asia Timur tersebut. Pertemuan antara pemimpin ASEAN Plus Three dan EABC itu juga fokus membahas upaya-upaya untuk membuat bisnis berkembang di bawah Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP).

Para pemimpin dan pebisnis negara ASEAN Plus Three memandang bergabung dalam RCEP sebagai langkah logis berikutnya dalam integrasi regional ASEAN untuk memperkuat kawasan Asia Tenggara sebagai pusat perdagangan global

Sementara itu Presiden Joko Widodo mendorong agar target penyelesaian perundingan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (Regional Comprehensive Economic Partnership/RCEP) pada 2018 dapat tercapai. “Saya berharap perundingan RCEP dapat segera diselesaikan. Penyelesaian RCEP akan memberikan pesan kuat bahwa integrasi ekonomi dapat menguntungkan semua pihak,” kata Presiden Jokowi.

Menurut Presiden, proses perundingan yang telah berjalan selama lima tahun itu belum dapat mencapai kesepakatan atas isu-isu utama, khususnya di bidang perdagangan barang, perdagangan jasa dan investasi. RCEP disebutkanya akan menjadi pakta perdagangan bebas terbesar di dunia dengan jumlah penduduk mencapai hampir setengah populasi dunia.

Di depan seluruh kepala negara dan pemerintahan peserta perundingan RCEP, Presiden Jokowi juga menekankan pentingnya pemberian mandat kepada para perunding untuk bersikap lebih fleksibel, pragmatis dan realistis tanpa mengorbankan kualitas dari perjanjian RCEP itu sendiri. “Saya paham perbedaan level ambisi yang berbeda merupakan tantangan yang tidak dapat kita abaikan. Namun, RCEP merupakan living document sehingga masih terus dapat kita kembangkan seiring dengan zaman,” ucapnya.

RCEP merupakan konsep perjanjian perdagangan bebas antara 10 negara ASEAN dengan enam negara mitra yaitu Australia, China, India, Jepang, Korea Selatan, dan Selandia Baru. Perundingan RCEP secara formal dimulai sejak November 2012 saat KTT ASEAN di Kamboja. Proyeksi ekonomi dari RCEP ditaksir mencapai nilai produk domestik bruto (PDB) gabungan sebesar 31,6 persen dari total PDB dunia; dan mewakili 28,5 persen perdagangan global. (Ant)

Komentar