Sistem Satu Arah, Pendapatan Pedagang Menurun

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

42
Kang Yadi bersama dengan Uzair, turis mancanegara yang berbelanja di tokonya/Foto: Fajar Nugroho

BOGOR — Bogor merupakan salah satu destinasi bagi wisatawan domestik maupun internasional. Kota penyangga ibukota ini memiliki satu nilai historis yang tidak ternilai.

Sejarah mencatat bahwa Bogor merupakan pusat pemerintahan kerajaan Padjajaran, juga menjadi tempat peristirahatan dari Thomas Stanford Rafless. Beberapa sejarah juga mencatat bahwa Surat Perintah Sebelas Maret dikeluarkan di Bogor.

Baca juga: Bogor Berupaya Menekan Angka Kematian Ibu Bayi

Tidak heran bogor menjadi salah satu tujuan bagi wisatawan asing maupun domestik. Seperti halnya tempat wisata, ada satu hal yang tidak boleh terlewatkan, yaitu toko cinderamata yang menjual oleh-oleh dan cinderamata lokal.

Selasa (14/11), Cendana News mencoba mencari informasi mengenai toko pernak-pernik yang menjual cinderamata khas Bogor. Deretan toko ini terletak di seberang pintu masuk Kebun Raya Bogor, akses menuju Sukasari.

Nuryadi, seorang pedagang pernak pernik di wilayah itu mengatakan bahwa kendala yang dihadapi adalah Sistem Satu Arah (SSA) yang diterapkan oleh pemerintah kota Bogor setahun belakangan.

“Sebelum ada SSA, omsetnya disini lumayan besar,” ujar pria asli Bogor ini.

Kang Yadi mengatakan bahwa sejak diberlakukan SSA omsetnya menurun drastis. Beberapa tahun lalu Kebun Raya Bogor merupakan destinasi wisata ke-dua setelah Taman Safari Indonesia Indah. Namun seiring menjamurnya tempat wisata berdampak juga kepada pembeli.

“Sekarang kan tempat wisata banyak mas,” gumamnya.

Pria yang telah berjualan di tempat itu selama 17 tahun mengatakan bahwa dirinya belum memiliki strategi khusus untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean.

“Karena kalau di Bogor kang, yang terkenal ya disini” ujarnya, seraya mengatakan bahwa dirinya belum memiliki strategi khusus untuk berjualan secara on-line.

Yadi mengaku bahwa pendapatan bulanan sebelum diterapkan SSA dapat tembus hingga 80 juta perbulan

“Kalau sekarang paling banyak sepuluh juta,” tambahnya.

Lebih lanjut, yadi mengatakan bahwa belakangan ini, wisatawan asing yang membeli barang di tokonya bisa dihitung dengan jari.

“Yang banyak sekarang ya wisatawan domestik” jelasnya seraya mengatakan bahwa wisatawan asing yang biasa berbelanja di tokonya berasal dari Eropa, khususnya Belanda.

Baca juga: Walkot Bogor Apresiasi Peran Koperasi

Cendana News kebetulan bertemu dengan tiga turis mancanegara yang sedang melihat-lihat barang dagangan di toko Yadi. Uzair Al Baloushi, yang berasal dari Oman, Timur Tengah. Kepada Cendana News, Uzair mengatakan bahwa dia bersama dengan tiga kawannya sangat menyukai cinderamata klasik.

“Barang disini sangat bagus, saya pikir ini merupakan satu hal yang tidak bisa saya tinggalkan disini,” ujarnya seraya mengatakan bahwa dia akan membeli satu kenang-kenangan.

Komentar