Perajin Kuningan Pringgolayan Bertahan di Tengah Hambatan

Editor: Satmoko

32
Sunyoto, salah seorang perajin kuningan tradisional tengah membuat kerajinan berupa tusuk konde. Foto: Jatmika H Kusmargana

YOGYAKARTA – Minimnya ketersediaan bahan baku ditambah adanya praktek monopoli dari para pengusaha besar, membuat sejumlah perajin kuningan dan tembaga skala rumahan di kampung kerajinan Pringgolayan, Banguntapan, Bantul, sulit berkembang.

Proses pembuatan kerajinan kuningan yang terbilang rumit dan membutuhkan waktu cukup lama, ditambah hasil keuntungan yang minim, membuat jumlah perajin kuningan pun semakin berkurang. Bahkan tak sedikit perajin beralih profesi karena tak lagi bisa menggantungkan hidupnya dari kerajinan kuningan.

Sunyoto (50) warga Pringolayan RT 06 Rw 45 Banguntapan, Bantul, merupakan satu dari sedikit perajin kuningan di kawasan Pringgolayan yang masih bertahan. Meski tak lagi menjadikan sebagai usaha utama, ia mengaku tak bisa meninggalkan pekerjaannya sebagai perajin kuningan, karena rasa kecintaannya.

“Sekarang bahan kuningan sulit sekali dicari. Kalau pun ada harganya mahal dan jadi rebutan. Dulu itu per kilo hanya Rp40 ribu. Tapi sekarang sudah Rp90 ribu. Sementara harga jualnya tidak jauh berubah. Jadi keuntungan mepet sekali,” katanya Selasa (14/11/2017).

Membuat sejumlah produk kerajinan dari bahan kuningan dan tembaga seperti
tusuk konde, bros, hingga kalung, Sunyoto bahkan harus mencari bahan baku dari para tukang rosok. Selain lebih murah, bahan baku kuningan berupa kawat atau lempengan itu juga dinilai lebih menguntungkan.

“Selain bahan baku sulit didapat dan harganya mahal, kita juga kesulitan memasarkan sendiri hasil kerajinan. Biasanya perajin kecil seperti saya hanya menunggu pesenan dari bos-bos pemilik toko. Kalau tidak ada pesenan ya nganggur,” ujarnya.

Dalam seminggu Sunyoto mengaku kini hanya bisa menjual 5 kodi produk kerajinan kuningan. Jauh berbeda dari beberapa tahun lalu yang hingga mencapai belasan kodi pesanan setiap minggu. Penurunan jumlah pesanan itu pun berdampak pada pengurangan jumlah tenaga dari semula 10 orang menjadi hanya 2 orang.

“Agar bisa tetap bertahan, perajin harus pandai-pandai membuat model atau motif kerajinan yang baru dan belum ada. Tapi itu harus dijual diam-diam. Agar tidak dicontoh orang lain, dan dijual dengan harga lebih murah,” katanya.

Pihak pemerintah sendiri dikatakan selama ini sudah berupaya membantu para perajin dengan memberi alat ataupun memberi pinjaman modal usaha. Namun karena masih terbatas hal itu tak dapat banyak membantu perajin mengembangkan usahanya.

“Sebenarnya bantuan alat ada. Tapi hanya untuk proses tertentu seperti melipat dan sebagainya. Sedangkan untuk proses utama pembuatan kerajinan seperti menganyam motif harus tetap dilakukan dengan cara tradisional memakai tangan. Tidak bisa pakai alat,” katanya.

Sunyoto dan para perajin kuningan lainnya pun hanya bisa berharap pemerintah dapat membantu secara lebih konkrit, seperti misalnya memberikan bantuan modal secara hibah untuk membeli bahan. Ataupun membantu menjual dan memasarkan produk kerajinan mereka.

“Kalau pengennya, kita dibantu modal, lalu produk kerajinannya dibeli langsung pemerintah. Atau paling tidak kita dilatih agar bisa menjual sendiri hasil kerajinan,” ujar Sunyoto yang kini disamping membuat kerajinan kuningan, juga bekerja serabutan sebagai tukang pembuat sumur bor.

 

Komentar