Perkebunan Karet di Balikpapan Perlu Penambahan Lahan

Editor: Irvan Syafari

54
Kepala Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan Balikpapan Yosmianto/Foto: Ferry Cahyanti.

BALIKPAPAN — Terbatasnya lahan pertanian dan perkebunan di Kota Balikpapan menjadi kendala dalam pembukaan lahan baru untuk perkebunan karet. Terbukti sejak beberapa tahun terakhir, lahan perkebunan karet tak bertambah sehingga hanya mengandalkan produksi karet dari perkebunan karet yang ada setiap tahunnya.

Usaha perkebunan karet di Kalimantan Timur tersebar 10 Kabupaten/Kota, dengan lahan terluas berada di Kabupaten Kutai Barat, disusul Kabupaten Kutai Kartanegara, Paser, Balikpapan, Malinau dan lainnya.

“Pembukaan lahan baru perkebunan karet saat program RPJM kepemimpinan Wali Kota Imdaad Hamid. Saat itu menjadi program dan punya target untuk perkebunan karet. Saat ini karena lahan terbatas, yang dilakukan adalah pembinaan kepada petani,” ungkap Kepala Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan Balikpapan Yosmianto, saat ditemui Senin (13/11/2017).

Luas area perkebunan karet Kota Balikpapan disebutkannya seluas 4.496,5 hektare dengan produksi 6.823 ton lump per tahun.

“Tanaman yang produksi (TM) 2.574.5 ha, dan 5 tahun terakhir produksinya mencapai 35.177 ton lump. Rata-rata produksi per hektare mencapai 1.743 kilogram dan petani yang ada dari swadaya atau perkebunan rakyat sendiri, tapi ada juga yang dari proyek pemerintah bantuan dari APBD I dan II,” bebernya.

Pria yang akrab disapa Yos ini mengatakan meski tidak ada penambahan lahan baru untuk perkebunan karet pihaknya tetap melakukan pembinaan seperti tahun ini pembinaan yang dilakukan yaitu sosialisasi cara pemeliharaan kebun Karet, menggupal karet pupuk dari tsp ke spektra agar kualitas karet kebih bagus sehingga nilai jual juga lebih tinggi.

Adapun mekanisme hasil dari produksi karet dari petani kemudian dijual ke pabrik karet yang di Banjarmasin dan Palaran, Samarinda. “Petani ada yang langsung menjualnya ke pabrik, dan ada juga dijual ke pengepul atau tengkulak setelah petani atau pekerja melakukan penyadapan.

“Mereka ada yang langsung jual ke pabrik setelah sadap, tapi ada juga yang ke pengepul dulu. Terkadang pekerja yang menyadap karet tidak dilakukan oleh pemilik, ada juga pemilik juga lakukan penyadap karet. Harga karet sejak 4 tahun terakhir anjlok yaitu senilai Rp6-7 ribu per kilogram. Kalau dulu bisa sampai Rp15 ribu per kilogramnya,” ucap Yos.

Terpisah Petani Karet Arifuddin mengaku penghasilan dari perkebunan karet yang dimilikinya mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya. Dia setiap harinya menyadap karet mulai pukul 07.00-09.00 mendapatkan sekitar 10 kilogram karet.

“Walau harga karet jatuh, tetap masih bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari keluarga. Karena saya kalo turun sadap pukul 07.00-09.00 itu bisa dapat 10 kg karet. Kemudian dijual bisa sekitar 60 ribu rupiah saya dapat sehari,” kata warga Kelurahan Teritip, Kecamatan Balikpapan Timur.

Dikatakannya, perkebunan karet yang dimilikinya sejak 2005 itu sekitar 5 hektare. Dan kini usaha karetnya tetap jalan, dan mampu menghidupi keluarganya sehari-hari. Karena lahan yang ditanam tidak hanya karet, namun ada lahan pertanian lainnya.

“Karet itu kalau yang sudah mahir sadap sehari bisa menghasilkan lebih dari 20 kilogram, kemudian nanti dikumpulkan dan langsung ada jualkan ke pabrik. Produksi karet semakin bagus sekarang pohonnya semakin membesar,” imbuhnya.

 

Komentar