Petambak Tradisional di Bakauheni Pilih Udang Vaname

LAMPUNG — Pemilik tambak tradisional di wilayah Dusun Penobakan, Desa Bakauheni, Kecamatan Penengahan, mulai membudidayakan udang jenis vannamei (litopenaeus vannamei) atau udang vaname, yang cocok dibudidayakan di wilayah beriklim sub tropis.

Tusam (50), warga Dusun Penobakan yang sudah menjadi tambak tradisional selama bertahun-tahun silam, mengaku memiliki 30 petak tambak berukuran 500 meter persegi yang ditebar bibit udang vaname.

Memanfaatkan saluran air dari laut di Selat Sunda yang disalurkan melalui parit-parit komunal bagi sejumlah petambak, Tusam memilih budidaya udang vaname dengan masa panen sekitar 60 hingga 75 hari. Bibit atau benur udang vaname diakuinya dikirim dari sejumlah pemilik hatchery (pembenihan udang) di Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, yang selanjutnya dikembangkan pada lahan tambak tradisional miliknya.

“Kami menyebutnya pola pertambakan tradisional, karena di wilayah ini juga banyak pengusaha tambak sistem intensif dengan peralatan modern termasuk sistem sirkulasi air tambak menggunakan kincir apung dan blower, sehingga pertumbuhan udang bisa lebih cepat,” beber Tusam, Minggu (5/11/2017).

Menurut Tusam, pemilik tambak sistem modern memilih membudidayakan udang jenis Windu (giant tiger atau penaeus monodon) yang berukuran lebih besar, sehingga biaya operasional budidaya udang jenis tersebut kerap dibudidayakan oleh pemilik modal dan perusahaan tambak skala besar.  Jenis udang vaname yang dipilih oleh petambak tradisional seperti dirinya menjadi pekerjaan sampingan warga yang sebagian juga bekerja sebagai pekebun coklat dan pisang serta nelayan tersebut.

Sebagian lahan tambak tradisional di wilayah Bakauheni. [Foto: Henk Widi]
Sebelum proses penebaran benih, Tusam harus membersihkan petak-petak tambak miliknya dengan sistem manual menggunakan cangkul dan sekop. Mempekerjakan beberapa pekerja, sementara pemilik modal besar kerap menggunakan alat berat. Penyiapan lahan dengan pengeringan, pemberian taburan kapur serta pupuk dilakukan untuk pertumbuhan plankton pakan udang vaname miliknya.

“Meski dibudidayakan secara tradisional, biaya operasional yang harus kami keluarkan mulai dari penyiapan lahan hingga perawatan bisa mencapai lebih dari tiga puluh juta rupiah,” terang Tusam.

Biaya operasional tersebut belum termasuk biaya operasional harian untuk memberi pakan, pengawasan serta pengoperasian mesin sedot dengan bahan bakar solar. Namun, dengan pola panen parsial atau bertahap  serta panen menyeluruh dengan kisaran 100 ekor udang per meter persegi dengan ukuran 66 hingga 70, saat usia panen 75 hari seharga Rp50.000 per kilogram serta ukuran lebih besar bisa seharga Rp80.000 lebih, dirinya bisa memperoleh hasil ratusan juta rupiah.

Sebagian pembudidaya udang vaname secara tradisional kata Tusam, masih mengandalkan air laut dari saluran air dengan sistem penyedotan air menggunakan mesin pompa 8 PK. Sistem sirkulasi tradisional diterapkan dengan memelihara ikan bandeng yang berfungsi sebagai pengatur sirkulasi air di tambak yang dibuat menyerupai habitat alami udang vaname.

Pemilik tambak tradisional lainnya, Johan (34), mengungkapkan, sebagai warga yang tidak memiliki lahan tambak sendiri, ia menggunakan sistem sewa tahunan dengan kisaran biaya sewa kontrak sebesar Rp70-80 juta per tahun, tergantung kesepakatan pemilik lahan dan penggarap terkait luasan atau petak tambak yang akan digunakan.

Sebagian tanah sengaja dibuat tambak sebagai investasi sehingga memperoleh hasil dari penyewaan lahan tambak. “Areal tambak sebagian merupakan lahan milik pengusaha di Jakarta, sehingga warga cukup menyewa agar bisa memperoleh hasil bulanan dari budidaya tambak”, ungkap Johan.

Johan yang tengah mempersiapkan lahan tambak dengan melakukan pengeringan dan penebaran kapur menyebut, keberadaan tambak sistem tradisional selain memberi keuntungan bagi petambak juga warga di wilayah tersebut. Sebagian warga bahkan bisa bekerja dengan sistem harian untuk pembersihan lahan atau bekerja sebagai pemberi pakan, dan sebagian bekerja sebagai karyawan di pertambakan intensif.

Saat musim panen, pekerjaan pengangkutan dikenal dengan ojek udang dan tenaga penyortiran udang juga memberi penghasilan tambahan bagi warga yang bekerja sebagai pekebun di wilayah pesisir laut Selat Sunda tersebut.

Lihat juga...