Pinjam Uang di KSP Kopdit Pintu Air Agunannya Harga Diri

Editor: Irvan Syafari

1850
Yakobus Jano ketua KSP Kopdit Pintu Air (kiri) bersama Martonsius Juang selaku sekertaris KSP Kopdit Pintu Air/Foto : Ebed de Rosary

MAUMERE — Selama ini masyarakat kecil selalu terpinggirkan dan kesulitan dalam mengakses pinjaman di bank. Apalagi mereka yang tidak memiliki jaminan, sehingga diajak menabung di Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Kopdit Pintu Air agar bisa meminjam dana untuk usaha tanpa harus memiliki agunan.

“Kami menerapkan pinjaman tanpa agunan di mana agunannya cukup harga diri. Karena harga diri lebih mahal nilainya sehingga kami mendidik agar anggota yang menabung bisa memiliki kemauan untuk membayar pinjaman dan memiliki rasa malu bila tidak mau membayar cicilan pinjaman,” ungkap Yakobus Jano, Selasa (14/11/2017).

Kepada Cendana News, Ketua KSP Kopdit Pintub Air ini menjelaskan, pada 2016 tunggakannya mencapai 3,65 persen. Alasan terbesar terjadinya tunggakan pembayaran cicilan pinjaman karena adanya gagal panen, sebab hampir sebagian besar anggota KSP Kopdit Pintu Air adalah petani.

“Masyarakat kecil selama ini sulit mendapatkan modal pinjaman sehingga kami menerapkan langkah berani dengan mendidik mereka menabung dan meminajm dana untuk modal usaha serta mencicil pinjamannya tepat waktu,” tegasnya.

Memang tunggakan pinjaman dan gagal bayar ada kata mantan pegawai di BRI cabang Maumere ini tetapi persentasenya sangat kecil di bawah 5 persen. Sementara di setiap kantor cabang presentasenya bervariasi karena karakter dan budaya anggotanya berbeda.

Anggota lebih taat kepada bank dan lembaga keuangan lainnya sesal Yakobus, padahal koperasi merupakan milik anggota dimana mereka mempunyai tiga hal yakni merasa memiliki, bertanggung jawab dan menjaga harkat dan martabat lembaga

“Itu termasuk dengan membayar pinjaman. Kalau lembaga tidak sehat yang rugi semua anggota bukan para pengelola. Ini yang belum dipahami anggota sebab mereka menempatkan diri sebagai nasabah bukan anggota,” sebutnya.

Membayar pinjaman tepat waktu sambung Yakobus, butuh kesadaran sebab membangun kesadaran manusia memerlukan waktu lama sehingga suatu saat masyarakat bisa Berjaya. Jadi jangan jaya pemerintah saja tapi masyarakat juga jaya dimana mereka tahu hak dan kewajiban mereka.

Ditambahkannya, koperasi menjadi besar tergantung kepada semangat kebersamaan dan gotong royong yang dibangun bersama anggota yang juga sebagai pemilik lembaga keuangan ini sehingga otomatis memiliki kewajiban dan beban moral membesarkan lembaga koperasi ini.

“Visi Pintu Air ingin membuat orang miskin menjadi orang kaya baik jasmani dan rohani dan pekerjaan ini bukan gampang sehingga marilah kita semua baik pengurus maupun anggota serta berbagai elemen yang peduli untuk melangkah bersama menggapai cita-cita ini,” tuturnya.

Sementara itu Sekertaris KSP Kopdit Pintu Air Martonsius Juang menambahkan, dengan masuknya Pintu Air menjadi koperasi primer nasional maka ada dua keuntungan yang didapat yakni setiap kali ada pertemuan atau kegiatan koperasi tingkat nasional Pintu Air selalu diundang.

Selain itu tambah Marton sapaannya,dengan masuk level nasional maka Pintu Air juga bisa mengakses bantuan dana dari pemerintah pusat melalui Kementrian Koperasi dan UKM seperti dana KUR (Kredit Usaha Rakyat) dan dana bantuan lainnya.

“Saat ini kita memang kami belum mau mengelola dana KUR sebab anggota masih menginginkan agar kita swadaya dulu dan belum saatnya mengakses bantuan dana dari pemerintah,” bebernya.

Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Kopdit Pintu Air yang berdiri tanggal 1 April 1995 di Kampung Rotat, Desa Ladogahar, Kabupaten Sikka ini, sejak 23 Oktober 2017 menjadi koperasi primer nasional dan memiliki aset Rp765,120 miliar rupiah dengan jumlah anggota sebanyak 179.755 anggota per bulan September 2017.

Dari jumlah anggota tersebut, sebagian besar masih didominasi oleh kalangan Nelayan,Tani (petani), Ternak (Peternak) dan Buruh atau sering disingkat NTTB yang menjadi fokus KSP Kopdit Pintu Air Maumere untuk digarap sesuai semangat koperasi ini yang ingin membuat masyarakat kecil bisa sejahtera.

Kopdit Pintu Air beber Marton, telah memiliki 41 kantor cabang yang tersebar di 22 kabupaten dan kota di Provinsi NTT dan hingga akhir Desember 2017 akan meresmikan lagi 4 kantor cabang yakni di Alor, Ropa dan Maukaro di Ende, Boru di Kabupaten Flores Timur serta di Makasar, Sulwesi Selatan.

“Dengan demikian akhir tahun 2017 kami memiliki 45 kantor cabang di NTT dan tahun 2018 kami akan buka kantor cabang di Surabaya dan Dompu di NTB sebab saaat ini kami juga sudah menjadi koperasi primer nasional,” terangnya.

 

Komentar