Pompa Air BBG Sokong Pembuat Batu Bata Palas

Editor: Irvan Syafari

108
Supriadi melakukan proses pempompaan air untuk pengolahan tanah usaha kecil pembuatan batu bata menggunakan bahan bakar elpiji /Foto: Henk Widi.

LAMPUNG — Air mutlak dibutuhkan sebagai pendukung untuk proses pembuatan adonan tanah bahan baku pembuatan batu bata bagi warga pembuat batu bata di Dusun Kuningan Kecamatan Tanjungsari Kabupaten Lampung Selatan.

Untuk mendapatkan air dari sungai yang ada di dekat perumahan, warga terpaksa mempergunakan mesin pompa air dengan bahan baku premium yang sudah dilakukan selama bertahun tahun. Sebagian air dari mesin pompa itu juga dipergunakan mengairi lahan tanaman cabai dan areal kebun jagung akibat kekeringan.

Supriadi (25), salah satu pembuat batu bata di wilayah tersebut mengaku sudah sejak 2015 beralih menggunakan mesin pompa dengan bahan bakar gas (BBG) elpiji ukuran 3 kilogram. Gas elpiji 3 kg ini di wilayah tersebut dijual dengan harga Rp20.000-Rp22.000.

Penggunaan mesin pompa berbahan bakar gas bisa dipergunakan selama beberapa jam pemakaian lebih efesien dibandingkan penggunaan mesin pompa air dengan bahan bakar premium dan solar. Kebutuhan air untuk membuat luluhan (adonan tanah) diakuinya tak menggunakan air sumur akibat kebutuhan air yang banyak sementara air sumur dipakai mandi dan mencuci.

“Sejak dua tahun silam penggunaan mesin pompa dengan bahan bakar gas elpiji sudah mulai dilakukan oleh para petani dan pengrajin batu bata menekan pengeluaran biaya untuk bahan bakar premium dan solar,” terang Supriadi saat ditemui Cendana News tengah melakukan proses pemompaan air sungai yang berjarak 100 meter dari lokasi pembuatan bata yang dilakukan oleh keluarganya, Selasa (14/11/2017)

Supriadi menyebut alat konversi bahan bakar premium atau solar ke bahan bakar gas elpiji tersebut dibeli atau di wilayah tersebut dilakukan dengan sistem modifikasi alat pada ahlinya dengan biaya sekitar Rp70.000 yang akan memasangkan alat agar penggunaan bahan bakar tidak boros dan bisa dilakukan penghematan dengan alat konverter kit.

Ia menyebut sebagian pembuat batu bata yang selama ini menggunakan mesin pompa berbahan bakar solar, bensin mulai beralih menggunakan konverter kit yang mulai dijual di pasaran dan sebagian melakukan modifikasi pada bengkel yang sudah ahli.

Berdasarkan perhitungan ungkap Supriadi saat penggunaan bahan bakar bensin dalam sehari dirinya bisa menghabiskan bensin sebanyak Rp48.000 dengan harga bensin eceran di wilayah tersebut seharga Rp8.000 per liter untuk pemompaaan air selama sembilan jam menghabiskan sekitar 6 liter.

Sementara untuk penggunaan gas elpiji ukuran 3 kilogram dengan pemakaian penyedotan atau pemompaan dengan harga tabung gas elpiji 3 kilogram sekitar Rp20.000 bisa dipergunakan selama kurang lebih 9 jam.

“Jika digenapkan dengan harga gas elpiji sebesar Rp20.000 saja dengan jangka waktu pemakaian yang nyaris sama ada selisih biaya lebih hemat untuk pemompaan air menggunakan gas elpiji dibandingkan menggunakan bahan bakar premium,”terang Supriadi.

Penggunaan gas berukuran 3 kilogram tersebut diakuinya lebih menguntungkan dibandingkan sebelumnya saat mempergunakan bahan bakar bensin karena bisa lebih hemat dibandingkan menggunakan bensin, tenaga lebih besar dan mudah pengoperasiannya. Meski demikian ia mengaku kerap mengalami kendala saat terjadi kelangkaan gas elpiji ukuran 3 kilogram ketika pasokan di sejumlah pengecer dari agen belum terpenuhi.

“Terkadang terpaksa mencari ke desa lain saat gas elpiji langka namun berdasarkan perbandingan sudah terbukti lebih hemat dan mengurangi biaya operasional usaha pembuatan batu bata,” tutur Supriadi.

Penggunaan mesin pompa air berbahan bakar elpiji yang lebih hemat dibandingkan menggunakan bensin diakui Edi salah satu pembuat batu bata yang memanfaatkan air sungai untuk ditampung lalu dipergunakan untuk menghaluskan tanah sebelum diolah lagi menggunakan mesin penghalus tanah (mesin molen).

Sebagai pemilik usaha kecil pembuatan batu bata ia menyebut berusaha menekan biaya produksi seminim mungkin terutama mesin pompa air yang selama ini membutuhkan bahan bakar bensin atau solar tergantung mesin pompanya sehingga biaya operasional tinggi.

Biaya yang bisa ditekan tersebut dialokasikan dalam pembelian bahan bakar mesin molen yang masih mempergunakan bahan bakar solar termasuk pembelian satu truk L 300 berisi tanah yang saat ini harganya mencapai Rp150.000.

Menekan biaya produksi melalui penggunaan mesin pompa berbahan elpiji juga dilakukan dengan pembuatan batu bata sistem manual dengan proses pencetakan dilakukan oleh keluarga tanpa menggunakan mesin berbahan bakar solar.

“Kami harus menekan biaya produksi seefesien mungkin karena harga batu bata sedang anjlok karena permintaan sedang menurun sehingga bisa mengembalikan modal bahkan bisa memperoleh keuntungan untuk terus berproduksi,” beber Edi.

Harga batu bata per seribu buah diakuinya sejak awal 2017 pernah menembus angka Rp330.000 di lokasi tobong (tempat pembakaran). Namun menjelang penghujung tahun harga hanya berkisar Rp260.000 per seribu batu bata akibat faktor semakin berkurangnya para pembuat bangunan rumah akibat Jalan Tol Trans Sumatera.

Salah satu upaya menekan biaya produksi diakuinya dengan penggunaan mesin sedot air lebih hemat, cetak manual hingga proses pembakaran menggunakan limbah sekam padi yang murah dibandingkan kayu.

Perajin batu bata seperti Edi dan warga Tanjungsari lain berharap di pada 2018 harga batu bata bisa kembali naik di atas Rp300.000 per seribu batu bata sehingga menguntungkan usaha kecil tersebut.

Penggunaan alat penghalus tanah dan mesin cetak batu bata bertenaga solar diakui saat ini belum bisa dimodifikasi menggunakan konverter kit sehingga pengolahan tanah serta proses pencetakan batu bata bisa dihemat.

Usaha kecil batu bata yang terus dilakukan oleh warga Tanjungsari menjadi usaha pokok warga akibat wilayah tersebut tidak memiliki lahan pertanian sawah dengan kondisi tanah padas putih yang justru dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan batu bata dan genteng.

Edi (bertopi) pembuat batu bata melakukan pengolahan tanah sebelum dihaluskan dengan mesin molen dan dicetak menjadi batu bata /Foto: Henk Widi.

Komentar