Program Kearsipan di NTT Tidak Terstruktur Baik

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

184
Kegiatan bimbingan teknis soal pengelolaan kearsipan yang diikuti Organisasi operangkat Daerah, camat dan desa di kabupaten Sikka. Foto : Ebed de Rosary

MAUMERE — Program kearsipan selama ini tidak terstruktur dengan baik dan tidak ada tenaga-tenaga yang berkompeten di bidanganya untuk mengelola secara professional sehingga 22 kabupaten dan kota di NTT termasuk pemerintah provinsi NTT pun hasil penilaiannya sangat buruk.

Kepala dinas Kearsipan dan Perpustakaan provinsi NTT Drs.Lambertus L.Ibi Riti,MT. Foto : Ebed de Rosary

Demikian ditegaskan Kepala dinas Kearsipandan Perpustakaan provinsi NTT Lambertus L.Ibi Riti, MT saat ditemui Cendana News Senin (13/11/2017) sore usai bimbingan teknis pengelolaan arsip dinamis dan pemberkasan arsip bagi pengelola arsip pada OPD, kecamatan dan desa se kabupaten Sikka di Maumere.

“Secara struktural orang-orang yang ditempatakan dinas Kearsipan dulunya bekerja di tempat lain sehingga harus ada pengembangan sumber daya dengan mengadakan berbagai pendidikan, pelatihan dan bimbingan teknis,” ujarnya.

Baca juga: Arsip BPUPKI Bisa Diakses Publik

Lambert sapaannya mengatakan, ada dua hal strategis yang membuatnya menetapkan tahun 2017 sebagai safari kearsipan di provinsi NTT dalam implementasi gerakan nasional sadar tertib arsip. Pertama, dinas kearsipan saat ini menjadi dinas yang otonom yang dulunya berupa badan atau kantor artinya urusan wajib non pelayanan dasar harus dilakukan oleh dinas ini.

“Secara institusi saya ingin memperkuat dinas Kerasipan dan Perpustakaan se kabupaten kota di provinsi NTT sebab semuanya mendapat nilai buruk, kurang dari 50 persen termasuk provinsi NTT juga buruk sebab hanya dapat nilai 31 persen saja,” ungkapnya.

Nilai buruk diberikan, kata Lambert, karena dari delapan item yang dinilai yakni ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan, dukungan sarana pra saranana kearsipan, SDM kearsipan semuanya masih jauh dari persyaratan yang ditetapkan di dalam undang-undang.

“Hasil evaluasi pengawasan eksternal kearsipan bulan September 2017 di Denpasar hanya dua kabupaten atau kota di Indonesia yang pengeloalaam kearsipannya baik yakni kota Yogyakarta dan Surabaya dengan 85 persen atau 376 kabupaten dan kota se Indonesia buruk termasuk semua kabupaten dan kota di NTT,” tuturnya.

Baca juga: Fakta Sejarah yang Sebenarnya Ditulis Menggunakan Arsip Primer

Kepala dinas Kearsipan dan Perpustakaan kabupaten Sikka, Drs.Rudolfus Ali,MSi menyebutkan, sebagai dinas baru dirinya ingin memperbaiki situasi ini dimana dengan mengadakan berbagai pelatihan, pendidikan serta bimbingan teknis bagi pegawai di kantornya maupun di kecamatan serta desa atau kelurahan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan.

“Betapa pentingnya arsip sebagai dokumen negara sehingga dinas melakukan bimbingan teknis, pendidikan dan pelatihan hingga ke kecamatan dan desa. Tantangan buat daerah ke depannya sebagai dinas baru, kami harus menyiapkan sumber daya sebab banyak pegawai yang belum memahami dengan baik soal kearsipan sehingga bisa mengetahui apa yang harus diperbuat,” tegasnya.

Komentar