Ramalan Soekarno, Soeharto jadi Presiden

Editor: Satmoko

1382
Eko Ismadi/Foto: Istimewa

OLEH EKO ISMADI

Soeharto dengan segala karya dan kebesarannya tidak akan mungkin dipisahkan dari kehidupan bangsa ini, demikian juga Soekarno memiliki kedudukan yang sama. Dari keduanya juga memiliki kelemahan yang tentu kita tidak dapat menafikannya. Untuk itulah kita harus sadari sepenuhnya bahwa membangun dan mensejahterakan bangsa Indonesia tidak cukup hanya menghujat Soeharto dan menyanjung Soekarno atau sebaliknya. Karena, dengan sanjungan itu, kedua tokoh tidak akan dapat bangkit dari kubur dan memimpin bangsa Indonesia lagi.

Namun, kita sebagai bangsa yang beradab dan bangsa yang bermartabat, tentu akan paham dengan apa yang disebut menghargai dan menghormati. Salah satu bentuk penghargaan dan penghormatan yang dapat kita lakukan adalah mempelajari dan memahami sejarah yang telah diukir oleh beliau dalam perjalan hidup bangsa Indonesia, mengambil pelajaran mana yang baik yang harus dipertahankan, mana yang harus diperbaiki, dan mana yang harus dijadikan pengalaman agar tidak terulang dimasa depan bangsa.

Dari masa ke masa, kepemimpinan nasional selalu mengalami pertumbuhan dan pemikiran. Karena itu, dalam setiap masa akan menampilkan sosok kepemimpinan baru yang sesuai dengan perkembangan zaman. Soekarno menyatukan bangsa Indonesia dengan semangat perjuangan lepas dari cengkeraman penjajah. Soeharto menyatukan bangsa Indonesia dengan kesejahteraan dan pembangunan. Sedangkan SBY menyatukan bangsa Indonesia dengan simbol kedaerahan dan keimanan.

Ulasan ini sebagai upaya penulis untuk menyampaikan sesuatu yang harus dipahami dalam hidup ini. Selain agama dan budaya, kita juga perlu memahami dengan apa yang disebut sebagai jalan hidup, suratan tangan, nasib, dan takdir, serta kemungkin masa depan yang di hadapan kita. Bila memandang kehidupan sebagai kehidupan yang baik dan mendatangkan kebahagiaan disebut sebagai optimisme. Sedangkan ragu dengan masa depan yang baik, disebut pesimis.

MEMAHAMI RAMALAN DAN MAKNA

Ramalan bukan tebakan. Namun, ramalan berupa tebakan dan perkiraan dari kemungkinan dari masa depan yang akan kita hadapi dan kita jalani. Untuk menyikapi dan menilai akan ramalan perlu sikap bijak dan penuh petimbangan. Tetapi, satu hal yang perlu dipahami, bahwa ramalan tidak diberikan kepada setiap orang atau asal asal saja. Mengapa seperti ini? Belum ada satu pun ilmu spiritual yang mampu menjawabnya.

Biasanya diterima sebagai Hiburan.

Ramalan yang baik, yaitu ketika ramalan itu tidak direncanakan dan tidak dipersiapkan. Karena itu, ramalan biasanya terjadi di sembarang tempat dan dalam kondisi apapun, berlangsung singkat, juga tidak sesuai dengan keadaan. Kalau ramalan itu membahagiakan, maka terimalah sebagai hiburan dan penuhilah dengan ucapan syukur. Lalu, berterimakasihlah serta belajar untuk mempersiapakan diri, sebagaimana yang diramalkan.

Menerima ramalan sebagai Kewaspadaan. Ramalan tidak hanya memberikan hal hal yang membahagiakan dan menyenangkan saja, tetapi juga sesuatu yang mengkhawatirkan. Apabila ramalan itu bersifat membahayakan pada yang diramal, orang yang meramal akan mengatakan, ”Hati Hati.” Misalkan, ”Hati hati ya, Nak, dengan kelak anakmu ini.” Jangan kemudian kita hanya menerima yang baik saja, sedangkan ramalan yang tidak sesuai atau menimbulkan kekhawatiran, tidak mau menerima. Itu tidak tepat. Yang tepat, yaitu ketika kita menerima ramalan yang mengkhawatirkan, justru kita harus kuat, kita yakinkan dengan doa agar peristiwa itu terhindari dari kita.

Mendung Bukan Berarti Hujan. Ramalan bagi penganut spiritual itu menjadi bagian dari hidup, karena sikap hidup mereka sangat dipengaruhi oleh yang namanya ramalan. Istilah ramalan, dalam derajat tertentu, menjadi wangsit atau petunjuk. Bagi kita yang hidup tidak terikat dengan spiritual, kita harus bersikap bijak, yaitu dengan menanggapi sebuah ramalan sebagai mendung bukan berarti hujan. Artinya, segala sesuatu, kemungkinan bisa terjadi. Tetapi, segala sesuatu juga belum pasti terjadi.

RAMALAN SOEHARTO MENJADI PRESIDEN

Definisi ramalan adalah pemikiran dan perkiraan yang terjadi pada diri seseorang berdasarkan perilaku, ucapan, dan kekuatan spiritual yang dirasakan oleh orang yang pandai meramal. Karena itu, akan dapat kita ketahui perbedaan antara perkataan yang menebak dengan ramalan. Kalau menebak, biasanya berusaha disertai paksaan dan suara keras yang mempengaruhi. Sedangkan ramalan adalah sikap dalam mengutarakan pendapatnya, dilakukan secara lembut, namun disertai fakta dan kemungkinan yang akan dihadapi.

Berdasarkan penjelasan dari pelaku sejarah yang memiliki keterkaitan dan berhubungan dengan Ibu Tien dan Presiden Soeharto, maka ramalan yang terjadi dapat dikatakan bertingkat dan berlanjut. Yang pertama, ketika Ibu Tien masih muda, disebut akan menjadi orang. Kemudian, Panglima Besar Sudirman juga menyebut bahwa Soeharto akan menjadi orang besar. Soekarno menyatakan, bahwa Soeharto akan menduduki jabatan lebih dari Gubernur. Selanjutnya, Soekarno menyebut, bahwa Soeharto akan menggantikan saya. Kita paham, Soekarno di masa perjuangan dan pada saat menjabat Presiden RI adalah orang yang memiliki kemampuan spiritual yang hebat. Terbukti dengan apa yang beliau ucapkan tentang Proklamasi, kemerdekaan terbukti.

Ada juga ramalan untuk Ibu Tien. Ketika keluarga Sumoharyomo, Ayahanda dari ibu Tien Soeharto, dalam perjalanan menuju ke tempat tinggalnya di Mateseh, sebuah kota kecamatan di Kabupaten Karang Anyar Solo, beliau mengucapkan wewaler atau tekad dalam jangka waktu. Atau, dalam istilah sekarang, dikenal sumpah. Sumpah tersebut berbunyi, ”Aku ora bakal mangan sego, nek anakku durung dadi uwong (saya tidak akan makan nasi sebelum anak saya jadi orang)”. Anakku yang dimaksud adalah Ibu Tien, karena begitu Ibu Tien menjadi Ibu Negara, tidak lama kemudian, beliau meninggal dunia. Tidak hanya sampai di situ. Bapak Sumoharyomo pun mengatakan ramalannya kepada penguasa Mangkunegaran, ”Titenono Sing menehi mangan anak putumu iku anakku (lihat saja nanti yang mengurus dan memberi makan anak cucumu adalah anakku).” Dan ramalan ini pun terbukti, di mana ketika Presiden Soeharto menjabat Presiden, Istana Mangkunegaran mengalami kemajuan pesat.

Ada juga Ramalan Soeharto ketika muda. Saat itu, Soeharto muda tampil sebagai perwira militer di Solo. Sekalipun tanah kelahiran ada di Yogyakarta, namun, ia memasuki dunia militer diawali di daerah Solo. Dimulai dari pangkat Kapten dengan jabatan Kasiops, kemudian Mayor Sebagai Danyon. Suatu saat, Perwira muda Soeharto melintas didepan tokoh dan petinggi keraton Solo dan mengatakan, ”Bocah kae bakal dadi uwong nek dikawinke karo Tinah (Ibu Tien) (anak itu akan menjadi pejabat tinggi bila dikawinkan dengan suhartinah, nama kecil Ibu Tien Soeharto).” Ibu Tien muda pada masa itu, aktif di PMR dan dapur umum, di wilayah Karang Anyar. Sehingga, antara Soeharto dan Ibu Tien, banyak waktu untuk bertemu dan Soeharto sendiri banyak dikenal keluarga di Meteseh. Ternyata ramalan itu terbukti setelah Soeharto dan Ibu Tien, menikah Soehrato menjadi Presiden.

Ramalan Pertama Presiden Soekarno Kepada Soeharto

Di masa Presiden Soekarno, banyak perwira militer yang kecewa dengan pembinaan karier yang dilakukan olehnya, termasuk perlakuan istimewa kepada perwira tertentu. Terutama, perwira yang menjadi anggota partai dan bekerjasama dengan kegiatan politik. Salah satu yang popular di masa itu, yaitu perwira militer yang bekerjasama dengan PKI dan Komunisme seperti Eks letkol Untung dan Eks Men Pangau Laksamana Oemar Dhani. Apa yang membuat perwira militer kecewa? Soekarno menganugerahi Bintang Sakti kepada Mayor Untung yang kemudian terlibat G 30 s/PKI tahun 1965 karena jasanya dalam pengabdian operasi di Triokor Irian Barat. Padahal, Untung tidak pernah bertugas di Irian. Sehingga, Mayor Benny Moerdany menjadi protes dan tidak terima karena disamakan dengan Untung.

Perkataan Soekarno yang kemudian disebut oleh para sejarawan dan ahli spiritual sebagai ramalan terjadi di pertengahan tahun 1963. Ketika Soeharto masih berpangkat Mayor Jenderal, baru saja selesai mengemban tugas sebagai Panglima Komando Mandala dalam Operasi Trikora, sebuah misi tunggal untuk merebut Irian Barat. Di mana tugas itu berhasil dilaksanakan dengan baik. Yaitu dengan kembalinya Irian Barat ke pangkuan ibu pertiwi.

Dari sikap dan perilaku Presiden Soekarno tersebut, kemudian Soeharto mengambil jalan pintas untuk mengakhiri tugas dengan mengajukan diri menjadi Gubernur Irian barat. Kemudian, Soeharto menghadap Presiden Sukarno untuk minta pensiun. Pada saat itu, Bung Karno bertanya kepada Soeharto, “Nek pensiun, trus kowe arep dadi opo?”(kalau pensiun, lalu kamu mau jadi apa?) Soeharto menjawab: “Menawi kepareng, kulo purun dados gubernur Irian Barat” (kalau diizinkan, saya sanggup jadi Gubernur Irian Barat). Tetapi, Bung Karno menolak pengajuan itu, dan berkata kepada Soeharto: “Ora Har… kowe ojo dadi gubernur… terus tirakat… kowe mengko dadi sak nduwure gubernur” (Tidak, Har… kamu jangan jadi gubernur… terus lah tirakat… kamu nanti akan jadi di atas gubernur). Itulah “ramalan” pertama Bung Karno kepada Soeharto.

Ramalan kedua Presiden Soekarno kepada Soeharto

Peristiwa yang disebut sebagai ramalan kedua terjadi pada tahun 1964. Presiden Soekarno sedang memipin sidang kabinet yang dihadiri oleh beberapa petinggi militer seperti Brigjen Jamin Ginting, Brigjen Juhartono, Mayjen Sukowati, dan Mayjen Soeharto. Ketika sedang ada sesi istirahat, Presiden Soekarno secara santai dan iseng bertanya kepada Menteri Penerangan, Mayjen Achmadi, “Mad, menurut perkiraanmu yang nanti mengganti saya siapa?” Dengan spontan Achmadi menjawab, “Mas Yani, Bung!” Yang dimaksud Yani adalah Menpangad, Letjen Ahmad Yani. Namun, yang membuat semua orang terkejut dan tidak menduga. Ternyata dengan mata melotot, Bung Karno mengatakan, “Bukan, bukan Yani! Tapi itu tuh, yang mengenakan celana kombor”. Sedangkan yang memakai celana kombor dan ditunjuk Soekarno adalah Soeharto. Padahal, Soeharto duduk di ruangan lain, jauh dari posisi Presiden Soekarno. Inilah ramalan ke dua Bung Karno tentang Soeharto.

Menurut penjelasan Presiden Soeharto dan Ibu Tien, setelah kejadian tersebut, banyak yang justru meeremehkan dirinya. Terutama, petinggi Angkatan Darat yang tersebut dalam Front Nasional, banyak yang memperbincangkannya. Bahkan, ketika menyebut pendidikan formal yang dimiliki oleh Soeharto sangat rendah, maka perkataan sinis menghiasi perbincangan tersebut. Namun, tidak sedikit yang berpikir was was dan khawatir dan memberikan penilaian lain, dengan menyebut Soekarno memiliki ilmu ladunni atau ilmu linuwih (sebuah ilmu yang memiliki kemampuan melihat sesuatu yang belum terjadi).

Ramalan Pedagang Akik atas Soeharto

Cerita ini dibenarkan oleh Ibu Tien. Setiap pagi, sekitar pukul 10.00, sering datang pedagang keliling di rumahnya. Karena Ibu Tien bukan istri yang memiliki aktivitas diluar rumah, maka, setiap ada pedagang datang, terbiasa beliau menemui walau hanya sekedar untuk mencari hiburan dan iseng mencari suasana lain. Apa yang dilakukan Ibu Tien tersebut, lazim dilakukan oleh ibu-ibu pejabat pada masa itu.

Pedagang yang datang pada hari itu adalah pedagang Akik berpostur India. Sehingga, pedagang akik terlihat kurang fasih berbahasa Indonesia. Seperti biasa, ibu Tien menemui dan sedikit berkomunikasi serta memberi tanggapan berbagai barang yang ditawarkan. Tanpa ditanya dan diminta, kemudian pedagang akik ini berkata, ”Madam, Suami madam akan berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan presiden yang sekarang.” Mendengar ucapan pedagang Akit tersebut, Ibu Tien hanya tersenyum dan tertawa. Karena, menurut ibu Tien, hal itu tidak mungkin. Sebab, menjadi Pangkostrad saja sudah bersyukur.

Keajaiban Ucapan Ladunni Soekarno kepada Soeharto

Dari uraian di atas, kita dapat simpulkan, ramalan bagaikan mendung di langit. Walaupun tebal dan pekat, bahkan disertai dengan sambaran petir yang menggelegar, belum berarti akan disertai turun hujan. Terimalah ramalan itu itu dengan gembira dan ucapan syukur bila ramalan itu memberikan kebahagiaan bagi kita. Sebaliknya, bila menimbulkan rasa khawatir, jangan ditolak, melainkan harus diterima dengan rasa waspada dan berdoa agar dijauhkan dari apa yang diramalkan.

Perlu dipahami, tidak setiap orang menerima ramalan atau diramal. Untuk itu, bila kita diramal orang, syukurilah itu sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa. Hingga kini, tidak ada satu pun ilmu yang mampu menerangkan tentang alasan dan penilaian mengapa seseorang mendapat ramalan.

Dihadapkan dengan Ramalan Presiden Soekarno, kita yakin, Soekarno tidak berbicara secara sembarangan. Mengingat, Soekarno orang yang memahami spiritual. Bisa jadi, Soekarno berbicara dari kekuatan batinnya, bukan akal pikirannya. Sekali pun sebagian orang hanya menganggap, perkataan Presiden Soekarno hanya bermaksud menghibur untuk meredakan kekecewaan Soeharto ketika mengucapkan, “Kamu akan jadi di atas gubernur”.

Sebelum 1 Oktober 1965, Soeharto tidak termasuk Jenderal yang diperhitungkan di masa itu sebagai perwira yang layak untuk memegang tampuk pimpinan nasional, apa lagi menjadi presiden. Bung Karno kita akui sebagai orang yang memiliki ilmu ladunni. Dan di suatu hari, pada tahun 1964, ia mendapat “petunjuk” bahwa Soeharto-lah yang akan menggantikan dirinya sebagai presiden RI. Kita yakin ini bukan rumusan pengetahuan Soekarno. Bisa jadi, ketika mendapat “petunjuk” tersebut, tentunya Bung Karno merasa heran dan belum tentu percaya.

Demikian halnya Yani yang secara emosional dan kasat mata memiliki hubungan kedekatan pribadi dengan Bung Karno. Mungkin, orang akan lebih percaya, menyikapi dengan antusias, bahwa Soekarno menyebut penggantinya adalah jenderal Achmad Yani. Karena kita manusia hanya bisa menilai sebatas yang kita lihat. Namun, Tuhan jauh melebihi dari apa yang kita lihat dan kita doakan sekalipun.

Semua kembali kepada Tuhan yang memiliki hidup dan takdir. Namun, kita manusia diwajibkan untuk berpikir dan berkihtiar. Maka dari itu, berdasarkan uraian di atas, terlepas benar atau salah, akurat/tidaknya penuturan, yang penting, kita harus menjaga ucapan. Sebagaimana yang dituturkan oleh Ki Utomo Darmadi, pelajaran yang dapat kita ambil adalah tentang pentingnya menjaga ucapan, ”Jangan pernah anggap remeh setiap ucapan yang kita lontarkan, terlebih jika ucapan itu menyangkut orang lain. Sebab, pada hakikatnya, setiap ucapan tentang orang lain adalah do’a.”

Eko Ismadi adalah Pemerhati Sejarah, juga Penyuka Lelaku Mistik dan Spiritual

Komentar